Ruang Cerita Orang Muda: Dari Curhat Menjadi Gerakan
Ruang Cerita Orang Muda adalah forum dialog terbuka yang mempertemukan generasi muda, pemerintah, dan pemangku kepentingan untuk berbagi pengalaman, kebutuhan, dan rekomendasi terkait kesehatan jiwa, sekaligus membangun advokasi kesehatan mental muda yang berakar pada komunitas dan mendorong kebijakan yang lebih responsif terhadap suara orang muda. Inilah inti perubahan di Gunungkidul: kesehatan jiwa tidak lagi dibicarakan diam-diam, tetapi dirayakan sebagai isu publik yang sah. Kegiatan bertajuk Youth Stories, Real Voice, Real Change digelar di Bangsal Sewokoprojo pada Sabtu, 17 Oktober 2026, diikuti sekitar 160 peserta sebagai bagian peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia. Fakta bahwa ratusan orang muda berani hadir dan bercerita menunjukkan satu hal: ketika ruang aman disediakan, generasi muda akan mengisi ruang itu dengan kejujuran, bukan dengan ketakutan.
Laboratorium Sosial Karang Taruna: Advokasi Berbasis Komunitas
Yang membedakan Ruang Cerita Orang Muda dari sekadar acara seremonial adalah fondasinya sebagai laboratorium sosial Karang Taruna Samuta Siraman di Wonosari. Di sini, ruang cerita kesehatan jiwa dirancang sebagai tempat belajar, bereksperimen, dan menguji gagasan advokasi kesehatan mental muda di tingkat komunitas. Manajer Program Rehabilitasi PRYAKKUM, Christian Pramudya, menyebut gagasan ini sebagai "sebuah gagasan besar" dengan mimpi menjadi rujukan dan pusat sumber belajar kesehatan mental yang dibagikan ke lebih banyak pihak. Pernyataan ini penting: ia menegaskan bahwa komunitas lokal tidak lagi menunggu solusi dari luar, melainkan membangunnya sendiri. Melalui Program ASIK (Aksi Sehat Jiwa, Inisiatif, dan Kontribusi Orang Muda), PRYAKKUM dan Karang Taruna menghubungkan orang muda dengan pemerintah, layanan kesehatan, sekolah, dan organisasi kepemudaan untuk memperkuat dukungan sosial dan literasi kesehatan jiwa.

Konseling Sebaya Mahasiswa: Layanan Mental Lokal yang Dekat dan Relevan
Perubahan persepsi tidak akan bertahan tanpa perubahan layanan. Di sinilah kolaborasi pemerintah daerah, Fakultas Psikologi UGM, PRYAKKUM, dan organisasi lokal menjadi krusial. Pemerintah Kabupaten Gunungkidul menempatkan 11 mahasiswa magang psikologi di empat puskesmas untuk membantu menyediakan layanan konseling. Ini bukan sekadar tambahan tenaga, melainkan bentuk konseling sebaya mahasiswa yang membuat layanan mental lokal terasa lebih dekat dengan dunia anak muda. Kepala Dinas Kesehatan menekankan pentingnya inisiatif First Aider atau kader sebaya sebagai tempat pertama bagi orang muda untuk bercerita dan mencari dukungan. Pendekatan ini mengakui realitas: banyak persoalan kesehatan jiwa muncul dan pertama kali terdeteksi di lingkar pertemanan, bukan di ruang praktik profesional. Dengan menghadirkan mahasiswa di puskesmas dan memperkuat guru BK serta wali kelas, sistem kesehatan jiwa lokal mulai bergerak dari model top-down ke jaringan dukungan yang menyentuh kehidupan sehari-hari generasi muda.
Dari Rekomendasi ke Kebijakan: Suara Anak Muda Menuntut Tindak Lanjut
Ruang Cerita Orang Muda tidak berhenti pada sesi curhat; ia berani melangkah ke ranah kebijakan. Dalam talkshow "Dari Cerita ke Kebijakan", perwakilan orang muda Ahnaf Fauzy Zulkarnain membacakan rekomendasi yang menuntut keterlibatan bermakna generasi muda dalam perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi program kesehatan mental, lengkap dengan rencana aksi, pembagian tanggung jawab, dan evaluasi berkala. Ini adalah bentuk advokasi kesehatan mental muda yang tegas: anak muda menolak menjadi figuran, mereka menuntut posisi sebagai pengambil keputusan. Melalui Program ASIK, PRYAKKUM dan mitra mendorong agar pengalaman serta rekomendasi orang muda tidak berhenti sebagai catatan kegiatan, tetapi menjadi bahan pertimbangan pengembangan kebijakan dan program kesehatan mental di Gunungkidul. Jika pemerintah konsisten menindaklanjuti, Gunungkidul berpotensi menjadi contoh bagaimana kebijakan kesehatan jiwa lokal dibentuk dari bawah, oleh mereka yang paling terdampak.
Mengubah Budaya: Ruang Aman, Seni, dan Harapan Kolektif
Yang sering luput dari pembicaraan kebijakan adalah dimensi budaya. Ruang Cerita Orang Muda menjawabnya dengan aktivitas kreatif seperti art therapy, mindfulness melalui meditasi, pembuatan mandala, melukis, dan pameran karya siswa bertema kesehatan mental. Pendekatan ini penting karena stigma tidak runtuh hanya dengan sosialisasi, tetapi dengan pengalaman baru yang membuat orang muda merasa aman mengakui luka dan emosi mereka. Layanan skrining kesehatan mental dan konseling gratis yang didukung puskesmas dan rumah sakit daerah dalam kegiatan ini membantu mendekatkan informasi, deteksi dini, dan dukungan kesehatan jiwa kepada masyarakat muda. Advokasi berbasis komunitas yang memadukan ruang aman, seni, dukungan sebaya, dan layanan profesional pelan-pelan menggeser cara komunitas memandang kesehatan jiwa: bukan aib, melainkan bagian sah dari kehidupan. Kesimpulannya, jika daerah lain ingin menguatkan layanan mental lokal, mereka perlu belajar dari Gunungkidul: mulai dari mendengar cerita orang muda, lalu memberi mereka kuasa untuk mengubah sistem.






