Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Madrasah Intensifkan Persiapan Asesmen Digital: Bimtek, Platform Belajar, dan SEB

Madrasah Intensifkan Persiapan Asesmen Digital: Bimtek, Platform Belajar, dan SEB
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Asesmen Digital Madrasah Bukan Lagi Opsi, Melainkan Agenda Wajib

Asesmen digital madrasah 2026 adalah serangkaian evaluasi berbasis komputer yang dirancang untuk memetakan kompetensi guru, tenaga kependidikan, dan peserta didik, dengan memanfaatkan aplikasi khusus seperti platform pembelajaran digital dan Safe Exam Browser, sehingga proses penilaian menjadi lebih terstandar, aman, terdokumentasi, dan selaras dengan transformasi teknologi di lingkungan pendidikan Islam. Fokus pada asesmen digital bukan sekadar mengikuti tren, tetapi mengubah cara madrasah memahami mutu pembelajaran. Karena itu, langkah-langkah MTsN 1 Batang Hari dan MAN 2 Sragen perlu dibaca sebagai sinyal bahwa ekosistem madrasah mulai berpindah dari ujian manual ke tata kelola asesmen yang lebih teknis, data-driven, dan berorientasi pengembangan kompetensi. Ini bukan perubahan kosmetik, melainkan reposisi peran asesmen sebagai fondasi pengambilan keputusan pendidikan.

MTsN 1 Batang Hari: Respons Cepat terhadap AKGTK Madrasah

Ketika surat edaran resmi tentang pelaksanaan Asesmen Kompetensi Guru dan Tenaga Kependidikan (AKGTK) Madrasah diterbitkan oleh kantor wilayah kementerian agama provinsi pada 16 September dengan jadwal asesmen 5–9 Oktober, MTsN 1 Batang Hari memilih sikap ofensif, bukan defensif. Madrasah ini langsung bergerak dengan menginstruksikan seluruh guru dan tenaga kependidikan yang memenuhi syarat agar mempersiapkan diri, mulai dari administrasi hingga kesiapan perangkat uji. AKGTK yang diinisiasi Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah ditetapkan sebagai alat pemetaan kompetensi, dan hasilnya akan menjadi acuan utama program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB). Keikutsertaan dalam asesmen digital tersebut bersifat wajib bagi guru, kepala madrasah, pengawas, tenaga perpustakaan, dan tenaga laboratorium berpendidikan minimal D4/S1 yang tercatat aktif di EMISGTK. Ini menegaskan bahwa asesmen digital tidak lagi diposisikan sebagai proyek pilot, tetapi sebagai mekanisme standar yang mengikat seluruh ekosistem madrasah.

Dari sisi teknis, MTsN 1 Batang Hari menunjukkan bahwa kesiapan digital bukan hal yang bisa dirapikan di menit terakhir. Peserta diwajibkan melakukan pengecekan akun, termasuk user dan password, serta mengakses jadwal pelaksanaan AKGTK secara mandiri melalui aplikasi EMISGTK mulai 19 September. Uji coba login dijadwalkan 19–20 September, jelas untuk mengurangi risiko teknis saat hari H dan membiasakan guru serta tenaga kependidikan dengan antarmuka digital. Ujian akan menggunakan Safe Exam Browser (SEB), sehingga seluruh peserta harus mengunduh dan menginstal aplikasi ini pada perangkat masing-masing sesuai petunjuk teknis. Sikap tegas ini mengirim satu pesan: literasi digital GTK bukan pelengkap, melainkan prasyarat. Pernyataan kepala madrasah yang menekankan momentum pemetaan dan peningkatan profesionalisme memperkuat narasi bahwa AKGTK madrasah persiapan bukan hanya soal lulus asesmen, tetapi membangun budaya mutu yang terukur.

MAN 2 Sragen: Bimbingan Teknis sebagai Laboratorium Transformasi Digital

Jika MTsN 1 Batang Hari fokus merapikan administrasi dan perangkat asesmen digital, MAN 2 Sragen memilih jalur yang lebih strategis: menjadikan bimbingan teknis asesmen madrasah sebagai ruang belajar bersama. Melalui kegiatan Bimbingan Teknis penyiapan soal Asesmen Tengah Semester (ASTS) berbasis aplikasi Diajeng Learning dan sosialisasi penggunaan Safe Exam Browser untuk AKGTK, madrasah ini menggabungkan dua agenda besar dalam satu paket pelatihan. Kegiatan yang digelar di Ruang Guru pada Sabtu, 19 September, diikuti guru dan tenaga kependidikan sebagai langkah memperkuat kesiapan asesmen berbasis digital. Bimtek difokuskan pada penyiapan dan pengunggahan soal ASTS ke aplikasi Diajeng Learning, mulai dari pemahaman mekanisme penyusunan hingga pengelolaan soal dalam platform tersebut. Ini menunjukkan bahwa ASTS aplikasi Diajeng Learning bukan sekadar tempat mengupload soal, tetapi ruang untuk membiasakan guru berpikir dalam format digital yang menuntut ketelitian teknis dan pedagogis sekaligus.

Pada sisi lain, sosialisasi Safe Exam Browser (SEB) dalam bimtek tersebut memperjelas bahwa perangkat keamanan ujian menjadi bagian integral dari asesmen digital madrasah 2026. Peserta diberi pemahaman mengenai penginstalan, fungsi, mekanisme penggunaan, dan hal-hal teknis yang harus disiapkan agar asesmen berbasis komputer berjalan tertib dan optimal. Wakil Kepala Madrasah Bidang Akademik menegaskan bahwa bimtek ini digelar untuk mempersiapkan ASTS berbasis Diajeng Learning sekaligus memberi pemahaman teknis SEB dalam pelaksanaan AKGTK, dengan harapan proses asesmen lancar dan hasil AKGTK lebih maksimal. Pernyataan tersebut pantas dikutip karena menghubungkan langsung antara kualitas persiapan dengan optimalisasi hasil tes. Melalui bimtek dan sosialisasi, MAN 2 Sragen tidak hanya merapikan aspek perangkat, tetapi juga mendorong guru dan tenaga kependidikan beradaptasi dengan transformasi digital di madrasah.

Optimalisasi Hasil Tes dan Kesiapan Digital: Momentum Reformasi Evaluasi

Kedua madrasah ini secara praktis mengajarkan satu hal: asesmen digital tidak bisa dipisahkan dari kesiapan sumber daya manusia dan infrastruktur. MTsN 1 Batang Hari mengaitkan persiapan AKGTK dengan peningkatan mutu madrasah secara menyeluruh, dan menyatakan optimisme bahwa dengan persiapan matang serta berkesinambungan, pelaksanaan AKGTK akan berjalan lancar dan memberi hasil maksimal bagi peningkatan kualitas pendidikan. Di sisi lain, MAN 2 Sragen menempatkan Bimtek dan integrasi aplikasi Diajeng Learning sebagai strategi memperkuat kemampuan guru mengelola asesmen di era digital sambil memaksimalkan hasil ASTS dan AKGTK. Pola ini seragam: asesmen bukan lagi momen sekali lewat, tetapi proyek jangka panjang yang bertumpu pada data kompetensi dan kesiapan digital sekolah. Integrasi platform, penjadwalan uji coba login, dan kewajiban instalasi SEB memperjelas arah bahwa madrasah sedang membangun fondasi ekosistem evaluasi yang lebih aman dan terstruktur.

Dampak praktis bagi guru dan tenaga kependidikan cukup besar. Mereka wajib ikut AKGTK, menguasai akses akun di EMISGTK, memahami cara kerja SEB, dan beradaptasi dengan platform pembelajaran seperti Diajeng Learning. Bagi madrasah, investasi waktu dalam bimbingan teknis asesmen madrasah menjadi modal agar tidak gagap ketika asesmen digital diterapkan penuh. Tantangannya jelas: kesenjangan literasi digital dan kesiapan perangkat masih mungkin muncul. Namun langkah-langkah yang dilakukan menunjukkan kesadaran bahwa tanpa kesiapan intensif, asesmen digital hanya akan memindahkan kertas ke layar tanpa mengubah kualitas evaluasi. Ketika ASTS aplikasi Diajeng Learning dan AKGTK madrasah persiapan dipadukan dalam strategi yang sama, madrasah sedang menulis ulang definisi evaluasi pembelajaran: lebih terukur, terdokumentasi, dan berbasis kompetensi, dengan guru sebagai aktor utama, bukan sekadar pelaksana teknis.

Kesimpulan: Dari Proyek Teknis ke Budaya Asesmen Digital

Persiapan intensif yang dilakukan MTsN 1 Batang Hari dan MAN 2 Sragen menunjukkan bahwa asesmen digital madrasah 2026 sudah bergerak dari sekadar proyek teknis menjadi upaya membangun budaya evaluasi baru. Di satu sisi, surat edaran dan jadwal AKGTK memaksa madrasah menata administrasi, akun, dan perangkat; di sisi lain, Bimtek ASTS dan integrasi aplikasi Diajeng Learning mengajak guru naik kelas dalam literasi digital dan pedagogi asesmen. Ini adalah transformasi evaluasi pembelajaran yang menuntut perencanaan, pelatihan, dan keberanian meninggalkan kenyamanan ujian manual. Kalau madrasah konsisten mengoptimalkan hasil tes dan memperkuat kesiapan digital sekolah, asesmen digital akan menjadi alat pemetaan kompetensi yang efektif, bukan sekadar formalitas berbasis komputer. Intinya, masa depan madrasah ditentukan bukan oleh canggihnya aplikasi, tetapi oleh kesungguhan guru dan lembaga dalam menjadikan asesmen sebagai fondasi peningkatan mutu, bukan hanya penilaian sesaat.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!