Jangkauan dimulai dari desa, bukan dari ruang rapat
Jangkauan PAUD lokal adalah ikhtiar terencana untuk menemukan anak usia dini yang belum memperoleh layanan prasekolah dan menghubungkan mereka dengan pendidikan yang sesuai. Ukurannya bukan banyaknya sosialisasi, melainkan apakah anak yang selama ini luput akhirnya terlayani. Di Kutai Kartanegara, Bunda PAUD Andi Deezca Pravidhia bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menggelar sosialisasi wajib belajar satu tahun prasekolah pada 26 Oktober 2026. Forum tersebut melibatkan camat, Bunda PAUD kecamatan serta desa dan kelurahan, sekolah, guru, dan pemangku kepentingan pendidikan. Sasaran pelaksanaannya mencakup 20 kecamatan, dengan gerakan yang diharapkan menjangkau hingga pelosok desa. Ini penting karena kebijakan tidak akan berarti jika berhenti di tingkat kabupaten. Pemerintah dan mitra lokal perlu menyelaraskan sosialisasi dengan pendataan anak, peningkatan mutu lembaga, kapasitas guru, dan sarana prasarana. Kukar menargetkan seluruh anak usia prasekolah terlayani PAUD pada tahun ajaran mendatang.

JAMBUL mengubah ajakan menjadi penjangkauan aktif
Advokasi pendidikan usia dini perlu berangkat dari kebutuhan keluarga, bukan anggapan bahwa semua orang tua tahu cara mengakses PAUD. Di Tanjung Jabung Barat, Bunda PAUD Fadhilah Sadat mendorong penguatan program Jemput Anak Menuju Masa Depan Berkualitas dan Unggul (JAMBUL) sebagai upaya memperluas layanan prasekolah dan mendukung wajib belajar 13 tahun. Dalam rapat koordinasi pada 26 Oktober 2026, ia meminta Bunda PAUD dari tingkat kecamatan hingga desa dan kelurahan aktif mendata anak yang belum bersekolah. Pendekatan kunjungan dari rumah ke rumah, terutama bagi keluarga kurang mampu, lebih masuk akal daripada sekadar menunggu pendaftaran datang sendiri. Pendataan yang akurat dan kerja lintas sektor dibutuhkan agar anak usia 5–6 tahun memperoleh layanan sebelum masuk SD. Bunda PAUD juga mengajak masyarakat dan donatur lokal membantu, sementara satuan PAUD diminta tidak membebani keluarga dengan persyaratan perlengkapan berlebihan. Rapat itu menyelaraskan kerja 2026 sekaligus menyiapkan perencanaan 2027.
Transisi yang baik tidak dimulai dengan tes calistung
Memperluas pendaftaran saja tidak cukup: anak juga perlu melewati transisi PAUD ke SD tanpa kehilangan rasa aman dan minat belajar. Di Kabupaten Tapin, Bunda PAUD Hj Faridah Yamani mendorong peralihan yang menyenangkan agar anak beradaptasi tanpa tekanan akademik berlebihan. Sikap ini patut dipertahankan, sebab kemampuan membaca, menulis, dan berhitung tidak seharusnya menjadi penghalang masuk SD; pembelajaran perlu berkembang bertahap sesuai usia. Sekolah dapat memanfaatkan dua minggu pertama tahun ajaran untuk mengenalkan guru, teman, lingkungan, dan rutinitas melalui masa pengenalan lingkungan sekolah. Di kelas I dan II, kegiatan bermain yang bermakna dapat menjaga kesinambungan pengalaman belajar anak. Pondasinya mencakup budi pekerti, kematangan emosi, keterampilan sosial, sikap positif terhadap belajar, motorik, serta kesiapan kognitif untuk literasi dan numerasi dasar. Keberhasilan akses PAUD semestinya dinilai bukan hanya dari jumlah anak yang masuk, tetapi juga dari apakah mereka merasa diterima dan siap melanjutkan belajar.






