Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Memastikan Anak Tetap Belajar di Tengah Bencana

Memastikan Anak Tetap Belajar di Tengah Bencana
Minat|Pendidikan Orang Tua dan Anak

Pendidikan darurat bencana: bukan bonus, melainkan kebutuhan pokok

Pendidikan darurat bencana adalah model pembelajaran yang diselenggarakan secara cepat dan fleksibel di tengah situasi krisis, memanfaatkan ruang pengungsian, posko, atau fasilitas sementara untuk menjaga keberlangsungan proses belajar anak sekaligus memberikan dukungan psikosocial anak, sehingga mereka tetap memiliki rasa aman, rutinitas, dan harapan di saat lingkungan fisik, sosial, dan emosional mereka porak-poranda oleh bencana alam maupun konflik berkepanjangan. Di Dusun Waso, tenda BNPB yang menjadi posko kemanusiaan mendadak berubah fungsi menjadi kelas kecil tempat puluhan anak membaca Al-Qur’an sore hari. Keputusan relawan pendidikan gempa menjadikan belajar sebagai agenda utama bukanlah romantisme, melainkan pernyataan tegas: masa depan anak tidak boleh ikut runtuh bersama rumah yang hancur. Mengabaikan pendidikan di fase tanggap darurat berarti menambah korban tak kasatmata—trauma, kehilangan arah, dan putus sekolah.

Memastikan Anak Tetap Belajar di Tengah Bencana

Mengaji di tenda pengungsian: spiritualitas sebagai kerangka pendidikan darurat

Sabtu sore, 22 Agustus 2026, di bawah tenda pengungsian yang difungsikan sebagai Posko UAR, dua relawan, Ihsan Annuha dan Mahmud Nolowala, membimbing anak-anak korban gempa magnitudo 7,7 belajar mengaji Al-Qur’an. Di atas tikar sederhana, huruf hijaiyah dari buku IQRA menjadi jembatan antara rutinitas lama dan realitas baru di pengungsian. Ini bukan sekadar aktivitas keagamaan; ini adalah model pendidikan darurat bencana yang menjadikan spiritualitas sebagai kerangka pemulihan. Ketika anak-anak kembali mengulang pelajaran yang akrab bagi mereka, rasa normal pelan-pelan pulih. Mahmud menyebut kegiatan mengaji akan dilakukan rutin setiap sore selama masa tanggap darurat, menjadikannya pilar pembelajaran anak pengungsian, bukan acara insidental. Dalam konteks ini, mengaji adalah terapi: menata ulang ritme harian, menenangkan kecemasan, dan mengikat komunitas dalam doa yang sama.

Model terintegrasi: kesehatan, ibadah, dan dukungan psikosocial anak

Pendekatan relawan di Manggarai Timur menunjukkan bahwa pendidikan darurat tidak boleh berdiri sendiri. Di posko yang sama, relawan UAR menyiapkan layanan kesehatan berupa terapi bekam sebagai bagian dari pelayanan thibbun nabawi bagi warga terdampak. Di lapangan lain, Tim Bantuan Medis UMI bersama AMDA melayani 110 pasien di puskesmas darurat dan melakukan home visit ke 10 warga yang tidak mampu datang, total 120 orang mendapatkan pemeriksaan kesehatan. Kutipan yang layak diingat dari misi ini: “Seseorang yang kehilangan rasa aman setelah gempa membutuhkan bukan hanya pengobatan, tetapi juga keyakinan bahwa ada orang lain yang peduli terhadap keadaannya.” Pendidikan agama, dukungan psikosocial anak, dan pelayanan kesehatan terintegrasi membentuk model pemulihan holistik. Anak bukan hanya murid yang perlu diajari, tetapi penyintas yang perlu ditenangkan, disembuhkan, dan dipastikan tetap merasa dicintai.

Menembus daerah sulit: relawan pendidikan gempa dan jaringan kolaboratif

Sejak status tanggap darurat ditetapkan, tujuh personel UAR Korwil NTT yang dipimpin Daud Masang bergerak ke berbagai wilayah terdampak, menetapkan dua pusat pelayanan untuk memperluas jangkauan bantuan dan mendistribusikan kebutuhan dasar seperti air bersih ke tenda pengungsian di stadion bersama lembaga kemanusiaan lain. Di sisi medis, tim UMI dan AMDA memilih menembus wilayah Cibal dan Reok Barat, menyusuri jalan rusak selama tiga hingga empat jam setelah berkoordinasi dengan BPBD dan Dinas Kesehatan yang melaporkan puskesmas tanpa dokter. Mereka membawa obat, terpal, selimut, dan tenda—bukan hanya peralatan, tetapi simbol bahwa wilayah sulit dijangkau tidak boleh sulit mendapatkan perhatian. Ketika relawan lintas organisasi saling mengisi kekosongan layanan, akses pendidikan darurat bencana menjadi lebih nyata: anak di Waso belajar mengaji, anak di pegunungan mendapatkan dokter.

Strategi keberlanjutan: dari tenda pengungsian ke kebijakan formal

Yang dilakukan relawan hari ini tidak boleh berhenti sebagai kisah inspiratif yang cepat terlupakan. Mahmud menegaskan bimbingan mengaji dirancang berlangsung rutin selama masa tanggap darurat, sementara pengurus pusat UAR berencana menambah personel, termasuk melibatkan relawan UAR Muslimat untuk memperluas tenaga kesehatan dan dukungan psikososial. Ini adalah embrio sistem: jadwal teratur, tim bertambah, layanan melebar. Namun negara dan pemerintah daerah perlu berani mengangkat praktik baik ini menjadi panduan resmi pendidikan darurat bencana—mengintegrasikan pembelajaran spiritual, kesehatan fisik, dan dukungan psikosocial anak dalam protokol kebencanaan. Tanpa kebijakan, semua bergantung pada kebaikan hati relawan yang tidak selalu tersedia. Konklusinya jelas: jika tenda pengungsian sudah bisa menjadi sekolah, ruang terapi, dan klinik, tidak ada alasan kebijakan publik tertinggal. Bencana mungkin tak terelak, tapi putusnya pendidikan anak sepenuhnya bisa dicegah.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!