Kesiapsiagaan perlu dipraktikkan, bukan sekadar dijelaskan
Edukasi siaga bencana adalah pembelajaran yang membekali siswa dengan pengetahuan dan keterampilan untuk mengenali risiko, mengambil tindakan aman, dan mengikuti prosedur penyelamatan saat keadaan darurat terjadi. Tanpa latihan, informasi di kelas mudah terlupakan justru ketika anak harus bertindak cepat. Karena itu, Rumah Zakat Lampung menggelar program Volunteer Goes to School di SDIT Harapan Bangsa, Natar, Lampung Selatan, pada 22 Oktober 2026, untuk memperkuat kesiapan siswa menghadapi potensi bencana sejak dini. Materi disampaikan secara interaktif, disertai simulasi kesiapsiagaan, praktik evakuasi mandiri saat gempa, serta pengenalan penanganan kebakaran ringan. Pendekatan ini tepat: siswa tidak hanya mendengar apa yang harus dilakukan, tetapi juga berlatih mengenali risiko di sekolah dan menyelamatkan diri secara aman serta tertib.
Relawan dapat mengubah pengetahuan menjadi kebiasaan
Keterlibatan relawan di sekolah penting karena kesiapsiagaan tidak terbentuk lewat satu kali penyuluhan. Siswa perlu berulang kali melihat jalur keluar, memahami titik kumpul, dan mencoba prosedur dalam suasana latihan agar langkah keselamatan terasa akrab. Arah itu juga ditekankan Menteri Sosial Saifullah Yusuf, atau Gus Ipul, saat mengajak Tagana Sulawesi Selatan memperluas edukasi kebencanaan, termasuk ke Sekolah Rakyat. Ajakan tersebut disampaikan dalam Apel Siaga Bencana, Jambore, dan Konsolidasi Relawan Sosial Kebencanaan di Makassar pada 26 Oktober 2026. Ia menekankan bahwa risiko bencana, jalur evakuasi sekolah, titik kumpul, komunikasi darurat, dan tindakan penyelamatan dasar perlu ditanamkan serta dilatih berkala. Tagana didorong mengambil peran aktif melalui simulasi, penyebaran informasi yang benar, dan pengenalan langkah penyelamatan.

Latihan harus mencerminkan keadaan nyata
Simulasi bencana sekolah akan kehilangan manfaat jika hanya menjadi acara seremonial. Latihan perlu membuat siswa memahami urutan tindakan: mengenali tanda bahaya, mengikuti arahan, bergerak melalui jalur evakuasi, lalu berkumpul di titik aman. Pelatihan keselamatan siswa juga sebaiknya memperhitungkan bahwa anak-anak tidak selalu bereaksi tenang saat panik; pengulangan dan instruksi yang jelas membantu mereka bertindak lebih tertib. Bagi sekolah, latihan berkala bukan tambahan, melainkan bagian dari tanggung jawab menjaga keselamatan warga sekolah. Relawan dapat mendampingi, tetapi sekolah perlu menjaga prosedur tetap dikenal oleh guru dan siswa. Dengan begitu, pengetahuan tentang risiko, komunikasi darurat, serta penyelamatan dasar tidak berhenti sebagai daftar istilah, melainkan menjadi keterampilan yang bisa digunakan saat dibutuhkan.
Kolaborasi perlu berlanjut setelah kegiatan
Program Rumah Zakat menunjukkan bagaimana lembaga kemanusiaan dapat membantu sekolah memulai budaya sadar bencana. Kepala SDIT Harapan Bangsa, Devi Riani, menyambut kegiatan itu sebagai upaya meningkatkan kesiapsiagaan siswa, sementara Rumah Zakat berharap lebih banyak sekolah ikut membangun budaya tersebut. Di Sulawesi Selatan, konsolidasi relawan juga memberi ruang peningkatan keterampilan bagi 1.000 anggota Tagana dan 38 ketua tim. Skala pertemuan itu penting, tetapi ukuran keberhasilannya semestinya terlihat di sekolah: apakah jalur evakuasi dikenali, apakah latihan dilakukan kembali, dan apakah setiap siswa memahami tindakan dasar. Edukasi kebencanaan perlu menjangkau sekolah, keluarga, dan komunitas, bukan berhenti pada satu agenda.
Kesimpulannya, sekolah yang aman dibangun melalui kebiasaan berlatih, bukan hanya melalui imbauan. Relawan seperti Rumah Zakat dan Tagana dapat membuka jalan dengan edukasi praktis, tetapi sekolah harus meneruskannya lewat simulasi berkala dan jalur evakuasi yang dipahami semua warga. Ketika siswa pernah berlatih sebelum keadaan darurat datang, mereka memiliki bekal lebih kuat untuk bertindak dengan aman.






