Pelestarian batik dimulai dari tangan yang tekun
Pelestarian batik adalah upaya menjaga keterampilan, motif, dan pengetahuan budaya agar tetap dipraktikkan serta dikenal oleh generasi berikutnya. Di Watesalit, Batang, Maulida Muyasaroh menunjukkan bahwa upaya itu paling kuat ketika diwariskan sebagai keahlian sehari-hari, bukan sekadar dikenang sebagai peninggalan. Pembatik berusia 23 tahun ini menekuni Batik Rifaiyah sejak kelas empat SD, mula-mula belajar dari ibunya, Bayinah, sekaligus membantu biaya pendidikan hingga tamat SMA. Kini ia berkarya bersama kedua kakak dan bibinya, menjaga tradisi keluarga sembari mencari cara agar batik tetap menarik bagi anak muda. Pengalamannya menegaskan bahwa pelestarian bukan pekerjaan seremonial: ia bergantung pada waktu, ketelitian, dan kesempatan untuk terus membuat karya. Tanpa penerus yang bersedia menguasai prosesnya, motif warisan berisiko tinggal sebagai gambar tanpa keterampilan yang menghidupkannya.
Inovasi tanpa melepas pakem
Muyasaroh tidak memilih antara tradisi dan perubahan. Ia mengembangkan motif kontemporer dengan tetap menjaga pakem Rifaiyah, langkah yang masuk akal untuk membuat warisan terasa dekat bagi generasinya tanpa menghapus ciri khasnya. Motif Gunungan Pohon Hayat, yang meraih juara pertama dalam Lomba Batik Artisan, memadukan inspirasi gunungan wayang dengan motif Gendagan yang melambangkan alur kehidupan. Pengerjaannya memerlukan tiga bulan, antara lain karena proses pemopokan dilakukan bolak-balik. Ia telah menghasilkan sekitar 50 karya, sementara satu hingga dua batik dapat diselesaikan setiap bulan. Karya-karyanya dipasarkan hingga Jakarta dan luar negeri; harga yang disebut untuk pembeli tertentu mencapai lebih dari Rp4 juta. Namun keberhasilan seorang perajin belum cukup membangun ekosistem. Dukungan bagi pembatik muda juga perlu membuka akses pemasaran dan mendorong mereka menjadi pelaku usaha, bukan hanya penjaga tradisi.
Mengajak publik belajar membatik
Di Cirebon, pendekatannya berbeda: memperkenalkan proses kepada khalayak yang lebih luas. Pada 20 Oktober 2026, Aquaproof mengajak 20 influencer dan kreator konten dari Cirebon dan sekitarnya mengikuti kegiatan membatik di Sanggar Batik Katura, kawasan Trusmi. Cirebon dikenal melalui Batik Cirebon bermotif Mega Mendung, juga teknik Merawit yang memakai canting sangat kecil untuk menghasilkan garis halus. Praktik langsung memberi peserta kesempatan memahami bahwa selembar batik menuntut seni, ketelitian, dan proses panjang, bukan sekadar motif menarik untuk difoto. Melalui media sosial, pengalaman itu berpotensi menyebarkan rasa ingin tahu kepada publik muda yang belum pernah belajar membatik. Pengakuan pemerintah Kabupaten Cirebon atas kekayaan intelektual komunal sejumlah motif pada Maret 2025 turut menegaskan bahwa warisan ini perlu dijaga. Namun kesadaran publik hanya akan berdampak jika berujung pada penghargaan terhadap perajin dan prosesnya.
Dua jalur yang harus saling menguatkan
Ketekunan Muyasaroh dan pelatihan influencer menjalankan fungsi berbeda. Jalur pertama mempertahankan kemampuan inti: membatik, memahami pakem, dan menghasilkan karya yang dapat diteruskan. Jalur kedua memperluas pengenalan budaya, membantu publik melihat nilai di balik motif dan proses. Keduanya diperlukan, tetapi tidak setara sebagai pengganti: kegiatan pengenalan sesaat tak dapat menggantikan latihan panjang seorang perajin, sementara keterampilan yang diwariskan akan sulit bertahan tanpa pasar dan perhatian baru. Langkah lanjutan yang direncanakan di Batang—mengajak pembatik melihat pameran batik di Jakarta tahun depan—dapat membuka inspirasi bagi karya berikutnya. Pada akhirnya, pelestarian batik akan kokoh jika pengalaman publik mendorong dukungan nyata bagi pembatik dan jika para perajin muda mendapat ruang untuk berkarya serta berusaha. Tradisi hidup bukan karena sering disebut, melainkan karena terus dibuat, dipelajari, dan dihargai.






