Tradisi yang memberi ruang bagi masa depan
Batik Khaman dan songket Prabumulih adalah kerajinan tekstil Sumatera Selatan yang mempertahankan identitas lokal melalui motif khas, keterampilan turun-temurun, dan pengembangan produk yang menjawab peluang pasar. Dua kisah ini menunjukkan bahwa pelestarian bukan berarti membekukan tradisi: kerajinan akan lebih berpeluang bertahan jika memberi penghasilan dan membuka jalan bagi generasi baru.
Di Desa Lubuk Raman, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Batik Khaman berkembang menjadi produk kerajinan warga yang menarik pesanan dari Muara Enim, berbagai daerah di Sumatera Selatan, hingga luar provinsi. Rumah Kreatif Boek Khaman memproduksi sekitar 200 lembar per bulan, dengan omzet bulanan Rp 20 juta hingga Rp 30 juta. Capaian itu penting bukan semata sebagai angka usaha, tetapi karena menjadikan keterampilan membatik sebagai sumber penghidupan yang nyata.

Pembatik muda menjaga motif tetap hidup
Ketertarikan remaja Lubuk Raman untuk menjadi pembatik tumbuh seiring meningkatnya penghasilan para perajin. Sebagian anak sekolah ikut belajar dan berinovasi, melihat kegiatan ini bukan hanya cara melestarikan batik khas desa, tetapi juga peluang ekonomi yang dapat membantu membiayai pendidikan hingga tingkat universitas. Keterlibatan mereka memberi Batik Khaman sesuatu yang tak bisa digantikan oleh promosi: penerus yang memahami proses sekaligus berani mengembangkan karya.
Bagi para perajin Sumatera Selatan, manfaat usaha ini terasa di tingkat rumah tangga. Perajin di Rumah Kreatif Boek Khaman memperoleh penghasilan sekitar Rp 2 juta hingga Rp 3 juta per bulan, dan bisa mencapai Rp 5 juta ketika pesanan ramai. Pendampingan Pertamina EP Limau Field yang dimulai pada 2023 turut mendukung perkembangan rumah kreatif tersebut. Namun, keberlanjutan tetap bergantung pada kemampuan menjaga mutu dan memberi ruang bagi pembatik muda untuk ikut membentuk masa depan motifnya.
Songket Prabumulih membawa identitas nanas
Azizah Songket menunjukkan bahwa kekhasan daerah dapat menjadi dasar inovasi. Usaha keluarga yang berdiri pada 2010 ini mengembangkan sekitar 20 motif songket, dan tiga di antaranya telah memperoleh hak cipta. Karena nanas identik dengan Prabumulih, pilihan itu menjadi penanda yang membedakan karyanya di tengah kuatnya kaitan songket dengan Palembang. Motif yang berakar pada tempat asal memberi pembeli lebih dari sekadar kain: ada cerita lokal yang melekat pada desain.
Tiga motif yang telah berhak cipta ialah Cantik Manis Nanas, Papan Sekeping Nanas, dan Seinggok Nanas. Perlindungan hak cipta patut dipandang sebagai bagian dari pengembangan usaha, bukan urusan administratif belaka: ia membantu menegaskan bahwa motif merupakan karya yang perlu dihargai. Azizah Songket juga menggandeng warga yang memiliki keterampilan menenun, sehingga produksi dan manfaat ekonomi melibatkan lebih banyak orang. Dukungan berupa benang, perlengkapan, pelatihan, dan kesempatan pameran ikut memperluas kemampuan usaha ini.

Selera baru, keterampilan lama
Pasar juga sedang memberi sinyal bahwa tekstil tradisional dapat hadir dalam bentuk yang lebih dekat dengan pembeli muda. Di INACRAFT, Evan Stiawan mengamati minat anak muda pada songket dan jumputan, termasuk warna biru dan peach serta kain yang telah diolah menjadi pakaian atau produk siap pakai. Azizah Songket berencana datang ke INACRAFT tahun depan dengan bahan dan produk jadi. Langkah ini masuk akal: motif yang kuat perlu ditopang bentuk produk yang mudah digunakan, tanpa menghapus ciri lokalnya.
Azizah Songket juga mendorong anak-anak penenun yang sudah tidak bersekolah dan belum bekerja untuk belajar dari generasi sebelumnya, agar keterampilan menenun berlanjut dan menjadi bekal penghasilan. Bersama keterlibatan pembatik muda di Lubuk Raman, pendekatan ini menunjukkan bahwa regenerasi bukan pelengkap, melainkan syarat agar kerajinan tetap hidup. Inovasi motif, perlindungan karya, dan perluasan pasar akan berarti jika keterampilan serta manfaatnya terus dibagi.
Batik Khaman dan songket Prabumulih menawarkan pelajaran yang sama: tradisi bertahan bukan dengan menolak perubahan, melainkan dengan mengarahkannya. Ketika motif tetap membawa identitas daerah, generasi muda memperoleh ruang berkarya, dan perajin mendapat peluang usaha, tekstil lokal dapat terus berkembang tanpa kehilangan asal-usulnya.






