Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Kue Ulang Tahun hingga Mi Sagu, Pelatihan Kuliner Membuka Jalan Usaha

Dari Kue Ulang Tahun hingga Mi Sagu, Pelatihan Kuliner Membuka Jalan Usaha
Minat|Tembikar

Keterampilan kuliner sebagai modal usaha

Pelatihan kuliner untuk calon pengusaha adalah kegiatan belajar praktik mengolah pangan yang membekali peserta dengan keterampilan produksi agar dapat merintis usaha, menambah pendapatan keluarga, dan mengenalkan produk kepada pasar. Tiga program di Sorong, Citangkil, dan Fakfak menunjukkan bahwa pelatihan paling berguna ketika resep dipilih sesuai peluang maupun kekuatan bahan lokal. Di Sorong, Dinas Perindustrian melatih 12 mama Papua membuat kue ulang tahun, produk dengan kebutuhan pasar untuk beragam perayaan. Di Citangkil, belasan warga perempuan dan generasi muda mempelajari aneka kue, dari bolu hingga roti manis, yang dapat dikembangkan sebagai usaha kue rumahan. Sementara itu, pelatihan kuliner UMKM di Fakfak mengajak 28 peserta mempraktikkan mi sagu goreng dan olahan sagu lain. Perbedaan produk ini bukan detail kecil: ia menentukan siapa calon pembeli, bagaimana produk dipasarkan, dan keterampilan usaha apa yang perlu menyusul.

Kue: pasar dikenal, tetapi perlu lebih dari resep

Pelatihan membuat kue di Sorong dan Citangkil berangkat dari peluang yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kue ulang tahun dibutuhkan untuk pesta, pernikahan, acara keluarga, dan perayaan keagamaan, sedangkan bolu dan roti manis membuka pilihan produk untuk dijual dari rumah. Di Sorong, peserta didorong mempelajari teknik dasar, pengolahan bahan, pemanggangan, dekorasi, pengemasan, serta promosi lewat media sosial. Ini pendekatan yang lebih menjanjikan daripada mengajarkan resep saja: pembeli menilai tampilan dan kemasan, sementara promosi membantu produk ditemukan. Di Citangkil, sasaran yang mencakup ibu rumah tangga dan generasi Z memperluas peluang regenerasi pelaku usaha. Namun, keterampilan membuat produk belum otomatis menghasilkan penjualan. Peserta perlu menguji minat pembeli, menjaga mutu, dan saling terhubung agar produk rumahan tidak berhenti pada produksi sesekali.

Pelatihan Citangkil digelar pada 3 November 2026 melalui sinergi pemerintah provinsi dan kota. Peserta Ratu Anisah mengatakan akan mengembangkan ilmu yang didapat untuk berwirausaha, sedangkan Leni Herlina berharap keterampilan itu dapat membantu ekonomi keluarga. Harapan tersebut menegaskan nilai praktis program, tetapi tindak lanjutlah yang akan menentukan apakah keterampilan berubah menjadi usaha mandiri.

Fakfak mengolah bahan lokal menjadi peluang

Di Fakfak, pelatihan mengambil jalur berbeda: bukan memperkenalkan jenis kue yang sudah akrab, melainkan memperluas penggunaan sagu melalui mi sagu goreng dan sagu goreng. Tim Ekspedisi Patriot Universitas Padjadjaran Kelompok 13 menggelar kegiatan bagi 28 peserta di SMK Negeri 2 Fakfak pada 3 November 2026. Peserta berasal dari kalangan UMKM, sekolah, dan kepala kampung. Sesi diawali dengan tes pemahaman, dilanjutkan praktik pembuatan mi sagu goreng dan cireng sagu, lalu ditutup evaluasi. Susunan ini memberi ruang untuk belajar sekaligus memeriksa pemahaman, meski tantangan sebenarnya baru muncul setelah kegiatan: membuat produk secara konsisten dan menemukan pembeli. Bahan yang telah dikenal masyarakat Papua memberi olahan sagu titik awal yang kuat. Tetapi kekhasan lokal perlu disertai mutu, kemasan, dan saluran penjualan yang jelas agar diversifikasi pangan juga menjadi peluang usaha.

Peserta UMKM Siti menyebut pelatihan itu bekal untuk mencoba produksi mandiri. Muhammad berharap peserta dapat segera memproduksi dan memasarkan olahan sagu. Harapan tersebut menunjukkan ukuran keberhasilan yang tepat: bukan hanya jumlah orang yang hadir atau resep yang dipelajari, melainkan apakah produk benar-benar dibuat dan dijual.

Dari Kue Ulang Tahun hingga Mi Sagu, Pelatihan Kuliner Membuka Jalan Usaha

Pelatihan harus berlanjut ke pasar

Ketiga program menawarkan modal awal yang berbeda: Sorong menekankan kue pesanan dengan pasar perayaan, Citangkil mengandalkan aneka kue yang bisa dimulai dari rumah sekaligus melibatkan anak muda, sedangkan Fakfak mengangkat diversifikasi berbahan sagu. Karena itu, dukungan lanjutan tidak seharusnya seragam. Calon pembuat kue perlu bimbingan soal konsistensi hasil, pengemasan, promosi, dan cara menerima pesanan; pengolah sagu perlu dukungan produksi berulang, pemasaran, serta jaringan pembeli. Di semua daerah, kelompok usaha dan hubungan antarpelaku UMKM dapat membantu peserta bertukar pengalaman dan memperluas akses pasar. Pemerintah Kota Sorong juga menekankan perlunya pendampingan, informasi usaha, penguatan kelompok, dan dukungan pemasaran. Pelajaran utamanya jelas: pelatihan memberi keterampilan, tetapi keberlanjutan usaha menuntut pendampingan yang menghubungkan keterampilan itu dengan kebutuhan konsumen.

Dari kue ulang tahun hingga mi sagu goreng, pelatihan di tiga daerah menunjukkan bahwa kuliner dapat menjadi pintu masuk menuju kemandirian ekonomi. Namun, sertifikat kehadiran atau praktik satu kali bukan ukuran dampak. Program akan lebih berarti bila peserta mendapat kesempatan untuk memproduksi, menguji pasar, dan mengembangkan jaringan usaha setelah kelas selesai.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!