Keterampilan yang dapat tumbuh menjadi usaha
Ecoprint adalah teknik memindahkan motif dan warna alami dari daun atau bagian tumbuhan lain ke kain maupun media lain, sehingga setiap hasilnya memiliki susunan visual yang khas. Teknik ini memberi UMKM pilihan untuk menciptakan produk kreatif dengan karakter yang tidak mudah diseragamkan. Pada Selasa, 3 November 2026, Hub UMKM PLN UID Banten mengadakan workshop ecoprint di Kota Tangerang sebagai bagian dari program Workshop Milenial. Sebanyak 15 peserta mengenal tekniknya dan berlatih membuat ecoprint pada mug. Pelatihan ecoprint UMKM ini menjawab kebutuhan pelaku usaha yang ingin menambah keterampilan, tetapi juga perlu melihat bagaimana keterampilan tersebut bisa menjadi peluang bisnis. Langkah seperti ini layak dipandang sebagai investasi kapasitas: peserta tidak hanya membawa pulang pengalaman praktik, melainkan juga gagasan untuk mengembangkan usaha kreatif UMKM dengan produk yang punya identitas.
Fasilitator Hub UMKM PLN UID Banten, Abdul Azis, mengatakan pelatihan diselenggarakan karena pelaku UMKM binaan meminta kegiatan ecoprint, terutama mereka yang bergerak di bidang ekonomi kreatif dan kerajinan. Menurutnya, keterampilan ini belum banyak dikuasai UMKM di wilayah Tangerang. Menghadirkan praktisi sebagai pemateri menjadi pilihan tepat: peserta dapat belajar dari proses yang sudah dijalani, bukan hanya menerima penjelasan umum. Workshop ecoprint juga menjadi ruang berbagi antara pelaku usaha dan masyarakat, sejalan dengan program rutin Hub UMKM yang menggunakan UMKM binaan sebagai pengajar. Nilai pelatihan semacam ini akan semakin besar bila praktik di kelas disambungkan dengan pendampingan dan langkah lanjutan yang membantu peserta menguji ide produknya.
Dari latihan menuju produk yang punya ciri
Pemateri Halida Srikandi, pemilik Mooladara Eco Fashion dan UMKM binaan PLN, menunjukkan bahwa ecoprint dapat berkembang melampaui kain. Ia memulai perjalanan usahanya setelah tertarik pada teknik ini saat pandemi, mengikuti pelatihan daring lalu memperdalam keterampilan secara langsung. Dari kegiatan yang semula produktif untuk mengisi waktu, pesanan dari rekan kerja perlahan mendorongnya membangun usaha. Pada 2022, setelah mempertimbangkan kondisi kesehatannya, ia meninggalkan pekerjaan kantoran untuk mengembangkan usaha ecoprint dengan lebih serius. Pengalaman ini membuat pelatihan relevan bagi peserta yang ingin mengubah minat menjadi keterampilan yang bisa dipasarkan. Keunggulan produk ecoprint, menurut Halida, terletak pada motif eksklusif karena daun disusun satu per satu secara manual. Keunikan itu bukan sekadar hiasan; ia dapat menjadi alasan konsumen memilih produk buatan perajin.
Dalam praktiknya, bahan dan proses menentukan mutu sekaligus membatasi jenis produk yang dapat dibuat. Halida menggunakan kain tanpa poliester agar warna dari bahan alami dapat melekat. Daun ditata di atas kain yang telah dipersiapkan, kemudian kain digulung, diikat, dan dikukus sekitar 2,5 jam. Setelah itu kain diangin-anginkan selama tiga hingga tujuh hari sebelum fiksasi warna; seluruh proses memerlukan sekitar tujuh hari. Waktu produksi yang panjang turut memengaruhi harga jual, sementara pasar ecoprint masih tersegmentasi. Ini tantangan nyata yang perlu dibahas dalam pelatihan: kreativitas perlu disertai perhitungan kapasitas, pemilihan bahan, dan pemahaman calon pembeli. Menjual keunikan saja tidak cukup jika perajin belum mampu menjelaskan nilai prosesnya.
Contoh pasar sudah terlihat, ruang tumbuh masih terbuka
Contoh dari Tangerang menunjukkan bahwa produk ecoprint dapat menemukan pembeli di luar pasar setempat. Usaha Halida menghasilkan fesyen dari kain dan pakaian, serta memperluas penerapan motif ke keramik dan perlengkapan rumah tangga. Ia menyebut produknya telah memasuki pasar Inggris, Australia, Filipina, Brunei Darussalam, Singapura, dan Thailand, dengan pesanan berulang dari pembeli luar negeri. Capaian ini bukan jaminan bahwa setiap peserta pelatihan akan memperoleh hasil serupa, tetapi menjadi bukti bahwa kerajinan berbahan alami punya kemungkinan pasar yang lebih luas. Bagi UMKM, pelajaran pentingnya adalah membangun ciri produk, menjaga mutu, dan mengenali konsumen yang menghargai seni serta kepedulian lingkungan. Halida juga berbagi keterampilan karena percaya tiap perajin dapat memiliki karakter sendiri dan saling melengkapi, bukan sekadar berebut pasar.
Pelatihan akan lebih berdampak jika tidak berhenti setelah peserta mencoba membuat mug. Hub UMKM PLN UID Banten menyatakan kegiatan merupakan bagian dari kurikulum pengembangan UMKM, sementara programnya juga menyiapkan pendampingan dan pemantauan penerapan keterampilan. Pendekatan berkelanjutan ini penting agar peserta dapat menilai apakah ecoprint cocok dengan sumber daya, waktu produksi, dan calon pelanggan mereka. Halida turut menghubungkan teknik tersebut dengan pengurangan limbah dan pemanfaatan bahan alami; ia menawarkan pengolahan ulang produk lama melalui skema re-ecoprint dengan pembayaran setengah dari harga produk. Pada akhirnya, pelatihan ecoprint UMKM paling bernilai ketika kreativitas bertemu praktik usaha yang realistis. Workshop ini membuka pintu, sedangkan konsistensi kualitas, pendampingan, dan pemahaman pasar akan menentukan seberapa jauh peluang itu berkembang.






