Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

FOMO vs JOMO: Keseimbangan Sosial dan Kesehatan Mental

FOMO vs JOMO: Keseimbangan Sosial dan Kesehatan Mental
Minat|Kesehatan Mental

FOMO dan JOMO: Dua Kutub dalam Era Perbandingan Sosial Digital

FOMO dan JOMO adalah dua cara kita merespons tekanan sosial di era perbandingan sosial digital: FOMO ditandai rasa cemas tertinggal momen orang lain, sedangkan JOMO adalah kepuasan saat memilih absen dari sebuah tren atau acara demi kebutuhan diri sendiri.

FOMO (fear of missing out) muncul sebagai kekhawatiran terus-menerus bahwa orang lain sedang mendapatkan pengalaman menyenangkan tanpa kehadiran kita, disertai dorongan untuk terus terhubung dengan apa yang mereka lakukan. Di level emosi, ini terasa seperti gelisah, iri, hingga rasa bersalah ketika tahu “sesuatu yang seru” terjadi tanpa kita hadir. FOMO menguras energi karena mengandalkan perbandingan konstan: hidup kita yang penuh kekacauan dibandingkan potongan terbaik hidup orang lain yang tampil rapi di layar. JOMO (joy of missing out) menawarkan jalan alternatif: kemampuan merasa nyaman dan puas saat tidak mengikuti aktivitas sosial orang lain. Namun, jika disalahartikan sebagai alasan untuk menarik diri total, JOMO bisa bergeser menjadi isolasi yang pelan-pelan merusak relasi.

Kesepian Media Sosial dan Efek FOMO terhadap Kesehatan Mental

Di permukaan, media sosial terlihat seperti solusi kesepian: wajah teman, keluarga, dan kreator muncul di layar sepanjang hari. Namun, semakin sering kita terhubung secara digital, tidak otomatis membuat kita makin dekat secara emosional; bagi banyak orang, pengalaman itu malah memperkuat kesepian media sosial. Kesepian di psikologi bukan sekadar tidak punya teman, melainkan kesenjangan antara kualitas hubungan sosial yang kita inginkan dan yang kita rasakan dalam hidup nyata. Karena itu, seseorang bisa memiliki ratusan teman dan notifikasi berderet, tetapi tetap merasa sangat sendirian.

Di tengah paradoks ini, FOMO dan kesehatan mental saling terkait. FOMO terbukti berkaitan dengan penggunaan media sosial yang lebih tinggi, kepuasan hidup yang lebih rendah, dan suasana hati yang lebih muram. Namun, sebuah tinjauan terhadap 106 artikel ilmiah menunjukkan definisi dan mekanisme FOMO masih bervariasi, sehingga FOMO tidak bisa disalahkan sebagai satu-satunya penyebab penurunan kesehatan mental. FOMO lebih tepat dipandang sebagai gejala dari relasi yang tidak sehat dengan dunia digital dan kebutuhan kita akan penerimaan sosial. JOMO yang matang bukan tentang anti-sosial, tetapi keberanian berkata, “Aku tidak harus mengikuti semuanya, dan itu tidak masalah.”

Gen Z, Gaya Hidup Impulsif, dan Seni Membedakan Kebutuhan-Keinginan

Di generasi muda, terutama Gen Z, FOMO tidak hanya hadir dalam bentuk takut ketinggalan acara, tetapi juga dalam dompet yang terus terancam. Tren yang berganti cepat di media sosial memicu gaya hidup impulsif dan membuat banyak anak muda kesulitan membedakan kebutuhan dan keinginan. Perbandingan sosial digital mengubah konsumsi menjadi ajang pembuktian: bukan lagi bertanya “apa yang kubutuhkan?”, melainkan “apa yang orang lain punya dan belum kumiliki?”.

Padahal, memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan sangat penting untuk mempersiapkan berbagai kondisi di masa depan. Kebutuhan adalah hal yang wajib ada agar kita bisa bertahan hidup dan beraktivitas normal—makanan, pakaian dasar, tempat tinggal, layanan kesehatan—sementara keinginan adalah tambahan yang meningkatkan kualitas hidup di luar kebutuhan pokok. Mengidentifikasi tujuan pembelian, lalu menyusun daftar kebutuhan dan keinginan, membantu kita menentukan prioritas pengeluaran dan menggunakan uang secara lebih bijak. Sikap ini bukan hanya strategi finansial, melainkan cara konkret mengurangi FOMO impulsif: kita berhenti menjadikan feed orang lain sebagai peta hidup, dan kembali menjadikan nilai pribadi sebagai kompas.

FOMO vs JOMO: Keseimbangan Sosial dan Kesehatan Mental

Transisi Sehat dari FOMO ke JOMO Tanpa Jatuh ke Isolasi

Berpindah dari FOMO ke JOMO yang sehat bukan soal mematikan semua notifikasi lalu menghilang, melainkan mengubah cara kita memaknai hidup. Langkah awal yang tegas adalah mengenali saat kita mulai membandingkan diri setelah melihat unggahan tertentu. Ketika kepala dipenuhi narasi “aku tertinggal”, kita perlu mengingat bahwa tidak ikut bukan berarti gagal, tidak mengetahui sesuatu bukan berarti tertinggal, dan tidak memiliki kehidupan yang sama dengan orang lain bukan berarti hidup kita lebih rendah. Menikmati hidup tidak bergantung pada berapa banyak orang yang kita lihat lewat layar, tetapi pada kualitas emosi, relasi, makna, dan pencapaian yang kita rasakan di dunia nyata.

Transisi ini menuntut keberanian menetapkan batasan media sosial sehat, meski bentuk praktisnya akan berbeda pada setiap orang. Intinya, kita tidak harus selalu hadir di setiap percakapan digital untuk tetap terkoneksi dalam kehidupan yang penting bagi kita. Kembali pada kehidupan yang sedang dijalani adalah langkah kunci: ada hubungan yang perlu dirawat, tugas yang perlu diselesaikan, keluarga yang perlu ditemui, tubuh yang membutuhkan istirahat, serta tujuan pribadi yang ingin dicapai. Kehidupan nyata tetap berjalan bahkan ketika layar ponsel dimatikan. JOMO yang dewasa adalah kemampuan memilih momen mana yang layak energi, tanpa mengorbankan kesehatan mental dan koneksi sosial yang membuat hidup terasa bermakna.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!