Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Revitalisasi Pedestrian Kajaolalido-Thamrin: Beton Berpori, Pohon Natif, dan Kota Inklusif

Revitalisasi Pedestrian Kajaolalido-Thamrin: Beton Berpori, Pohon Natif, dan Kota Inklusif
Minat|Asia Tenggara

Pedestrian Sebagai Infrastruktur Kota yang Serius, Bukan Sekadar Trotoar

Revitalisasi pedestrian Makassar di koridor Kajaolalido–Thamrin adalah proyek penataan ulang trotoar sepanjang 652,9 meter yang menggabungkan teknologi beton berpori ramah lingkungan, penataan vegetasi dengan pohon natif Sulawesi, serta desain aksesibilitas disabilitas perkotaan agar ruang berjalan kaki menjadi lebih aman, nyaman, dan inklusif bagi semua warga kota. Revitalisasi ini menegaskan satu pesan penting: pedestrian bukan ornamen, tetapi tulang punggung mobilitas sehari-hari. Pemerintah kota, melalui Dinas PU, menyebut dua ruas yang ditangani—427,9 meter di Jalan Kajaolalido dan 225 meter di Jalan MH Thamrin—sebagai kawasan percontohan integrasi pedestrian di pusat kota. Ini bukan pembenahan kosmetik; ini adalah reposisi fungsi trotoar sebagai ruang publik utama yang harus direncanakan dengan tingkat keseriusan yang sama dengan jalan raya dan jaringan transportasi massal.

Revitalisasi Pedestrian Kajaolalido-Thamrin: Beton Berpori, Pohon Natif, dan Kota Inklusif

Beton Berpori: Ketika Trotoar Ikut Mengelola Air Hujan

Keputusan memakai beton berpori pada proyek revitalisasi pedestrian Kajaolalido–Thamrin adalah langkah berani yang layak diapresiasi. Di banyak kota, trotoar adalah permukaan kedap air yang mempercepat limpasan, memperparah genangan, dan memutus aliran air menuju akar pohon. Di sini, beton berpori ramah lingkungan dipilih agar air hujan dapat lebih cepat terserap ke tanah, membantu manajemen air di kawasan padat infrastruktur. Muhammad Amin menjelaskan, “Ketika disiram air, air dapat langsung terserap. Ini menjadi salah satu konsep teknis yang kami terapkan tahun ini.” Tetapi konsep teknis ini punya konsekuensi kebijakan: kota mengakui bahwa pengendalian banjir kecil dan genangan tidak cukup mengandalkan saluran drainase. Trotoar dijadikan bagian dari sistem hidrologi perkotaan melalui perkerasan berpori dan ruang tanah di bawah pedestrian yang disiapkan bagi akar dan resapan.

Pohon Natif Sulawesi: Mengganti Dominasi Ketapang dengan Ekologi Lokal

Revitalisasi pedestrian Makassar ini juga membuka perdebatan sehat tentang vegetasi kota: apakah trotoar harus tunduk pada akar pohon, atau pohon menyesuaikan diri dengan beton? Di koridor pekerjaan terdapat sekitar 80 pohon ketapang, 9 pohon mahoni besar, dan 2 pohon berukuran kecil yang perlu ditangani ulang. Tim arboris mengingatkan bahwa ketapang kencana punya akar ekspansif; persoalannya bukan jenisnya yang “salah”, tetapi penempatannya di ruang padat utilitas. Di sinilah gagasan pohon natif Sulawesi menjadi menarik secara ekologis dan politis. Pemerintah kota menyiapkan opsi bitti (Vitex cofassus), padiasa (Kleinhovia hospita), dan jenis Elaeocarpus atau jelatri sebagai pengganti. Bitti, misalnya, punya nilai budaya sebagai kayu kapal pinisi. Dengan mengganti, bukan menghilangkan, pohon eksisting dengan jenis natif yang lebih kompatibel dengan ruang tumbuh akar dan infrastruktur, kota sedang merajut ulang hubungan antara identitas lokal, keselamatan fisik trotoar, dan kualitas ruang terbuka hijau.

Utilitas Rapi dan Akses Disabilitas: Inklusivitas Dimulai dari Detail Teknis

Salah satu kelemahan klasik pedestrian di banyak kota adalah tiang, kabel, dan lubang utilitas yang menguasai trotoar, memaksa pejalan kaki—terutama pengguna kursi roda dan tunanetra—berbelok keluar ke badan jalan. Revitalisasi pedestrian Kajaolalido–Thamrin mencoba memutus pola buruk ini dengan inventarisasi dan penataan ulang utilitas: 8 tiang listrik eksisting, 2 tiang trafo, 10 tiang PJU, dan 62 tiang fiber optik akan ditata agar tidak mengganggu fungsi maupun estetika jalur pejalan kaki. Konsep tiang bersama untuk fiber optik, yang mengurangi 62 tiang menjadi 17 tiang induk, adalah sinyal kuat bahwa aksesibilitas disabilitas perkotaan dimulai dari keberanian mengatur operator jaringan, bukan sekadar memasang guiding block di atas trotoar. Penataan drainase permukaan dan ruang aman bagi pejalan kaki, termasuk penyandang disabilitas, menunjukkan bahwa desain fisik diarahkan agar jalur ini bisa dipakai semua orang, bukan hanya yang tubuhnya dianggap “normal”.

Kajaolalido–Thamrin Sebagai Model Kota Berkelanjutan: Apa Langkah Selanjutnya?

Dengan kombinasi beton berpori, pohon natif Sulawesi, utilitas yang ditertibkan, dan perhatian pada aksesibilitas disabilitas, Kajaolalido–Thamrin sedang diposisikan sebagai proyek percontohan pedestrian terintegrasi di pusat kota. Pemerintah kota menyebut pengembangan kawasan pedestrian akan dilakukan bertahap di titik lain, menjadikan dua ruas ini model awal untuk mengembalikan fungsi pedestrian sebagai ruang publik yang aman dan nyaman sekaligus simpul konektivitas ke moda transportasi publik. Namun keberlanjutan proyek ini akan ditentukan oleh konsistensi: apakah pemilihan pohon natif benar-benar disesuaikan dengan desain lanskap dan kondisi lingkungan, sebagaimana diingatkan tim arboris; apakah tiang bersama dan penataan utilitas diterapkan juga di ruas lain; dan apakah standar akses disabilitas menjadi norma, bukan pengecualian. Jika pertanyaan-pertanyaan ini dijawab dengan tindakan, Kajaolalido–Thamrin bisa menjadi bukti bahwa kota mampu membangun infrastruktur berkelanjutan dan inklusif, bukan sekadar trotoar cantik untuk dikagumi dari jauh.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!