Keterlambatan diagnosis mempersempit peluang penanganan
Deteksi dini kanker payudara adalah upaya menemukan perubahan atau penyakit pada tahap awal, sebelum berkembang lebih jauh, agar pemeriksaan dan penanganan dapat dimulai lebih cepat. Pentingnya langkah ini terlihat dari besarnya beban penyakit dan rendahnya capaian penemuan kasus stadium awal.
Data GLOBOCAN 2024 yang disebutkan mencatat 93.236 kasus baru kanker payudara dan 38.012 kematian akibat penyakit tersebut. Kanker ini juga menjadi jenis kanker yang paling banyak ditemukan pada perempuan. Namun, angka itu bukan semata persoalan jumlah: keterlambatan deteksi dan diagnosis membuat banyak pasien baru datang ketika penyakit telah berada pada stadium lanjut, saat peluang keberhasilan pengobatan menurun. Tim Kerja Penyakit Kanker Kementerian Kesehatan, dr. Uswatun Hasanah, M.Epid, menyebut keterlambatan tersebut masih menjadi kendala utama. Karena itu, diagnosis kanker payudara yang lebih cepat bukan urusan administratif, melainkan bagian penting untuk memperluas kesempatan pasien memperoleh perawatan pada waktu yang tepat.

Jarak antara target dan capaian harus ditutup
Kesenjangan capaian menunjukkan bahwa imbauan agar masyarakat lebih peduli belum cukup. Kementerian Kesehatan menargetkan 60 persen kasus kanker payudara ditemukan pada stadium awal, tetapi capaian nasional pada 2025 baru 10 persen. Hingga 30 September 2026, angkanya meningkat menjadi sekitar 16,19 persen—kemajuan, tetapi masih jauh dari sasaran.
Keterbatasan fasilitas layanan dan rendahnya kesadaran terhadap pemeriksaan dini ikut mendorong pasien datang ketika penyakit telah berkembang. Maka, skrining kanker payudara perlu dibuat mudah dijangkau sekaligus dipahami sebagai langkah yang patut diambil sebelum muncul kondisi yang berat. Perempuan berusia 30–69 tahun dapat memanfaatkan skrining atau deteksi dini melalui program Cek Kesehatan Gratis di Puskesmas, sesuai ketentuan program. Layanan yang tersedia di tingkat pertama memberi pintu masuk praktis, tetapi keberhasilannya bergantung pada informasi yang jelas, akses yang memadai, serta tindak lanjut setelah hasil pemeriksaan keluar.

Rujukan yang jelas menghubungkan skrining dengan perawatan
Skrining hanya memberi manfaat penuh bila hasil yang mencurigakan segera diikuti pemeriksaan lanjutan. Jika ditemukan hasil abnormal di Puskesmas, pasien dapat dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan tingkat lanjut untuk pemeriksaan berikutnya. Jalur rujukan medis kanker yang jelas membantu mengurangi risiko pasien terhenti setelah menerima hasil awal, sementara pedoman tata laksana yang diterbitkan Kementerian Kesehatan menjadi acuan bagi tenaga medis.
Rujukan bukan sekadar perpindahan fasilitas; ia harus menjadi sambungan yang terarah dari skrining menuju diagnosis dan penanganan. Kolaborasi tenaga medis dari berbagai spesialisasi juga diperlukan agar perawatan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien. Tries Nainggolan, CEO MRCCC Siloam Semanggi, menekankan bahwa perjalanan perawatan setiap pasien berbeda, sehingga perhatian pada pemulihan dan kualitas hidup perlu menyertai pengobatan. Kesimpulannya, mengejar target deteksi dini menuntut lebih dari kampanye: skrining yang dapat diakses, tindak lanjut tanpa putus, dan kerja sama tenaga medis harus berjalan sebagai satu jalur.






