Genangan meluas, dampaknya terasa di permukiman
Banjir Aceh Selatan adalah bencana genangan akibat hujan lebat dan luapan sungai yang merendam permukiman, mengganggu perjalanan, serta memaksa warga berpindah ke tempat aman. Hujan yang mengguyur sejak Sabtu, 24 Oktober, memicu banjir di empat gampong: Gunong Pulo dan Krueng Batee di Kecamatan Kluet Utara, serta Mersak dan Malaka di Kecamatan Kluet Tengah. Air dilaporkan mencapai sepaha orang dewasa. Jalan nasional Tapaktuan–Subulussalam ikut tergenang, meski kendaraan masih dapat melintas; dua titik longsor di jalur Gunung Manggamat menuju Kotafajar menambah risiko perjalanan. Luapan sungai tak hanya membatasi kegiatan warga, tetapi juga mengancam keselamatan dan mata pencaharian. Karena itu, ukuran keberhasilan tanggap darurat bukan semata jalan tetap terbuka, melainkan seberapa cepat warga rentan mendapat perlindungan dan bantuan.
Trumon Tengah: bantuan harus mengikuti kebutuhan warga
Di Trumon Tengah, hujan lebat pada 28 Oktober membuat Sungai Lae Soraya—juga disebut Sungai Gelombang—meluap dan menggenangi permukiman Lhok Raya. Bupati Aceh Selatan H. Mirwan MS mengerahkan BPBD dan Dinas Sosial ke lokasi serta menghadirkan dapur lapangan banjir untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan warga di pengungsian. Langkah itu penting, tetapi kehadiran personel dan dapur saja belum cukup: bantuan harus terus disesuaikan dengan jumlah pengungsi, kondisi kelompok rentan, dan lamanya warga tak bisa pulang. Pada pendataan awal, 46 jiwa dari Lhok Raya mengungsi ke Kompi 3 Batalyon C Pelopor Satbrimob Polda Aceh; banjir juga berdampak pada 150 rumah. Unsur TNI turut memantau situasi, membantu pendataan dan evakuasi bila diperlukan. Respons BPBD Aceh perlu berlanjut seiring perubahan genangan, bukan berhenti saat air mulai turun.

132 warga masih mengungsi saat air belum surut
Hingga Jumat sore, 30 Oktober, banjir belum sepenuhnya surut dan 132 warga dari 37 keluarga dilaporkan mengungsi. Dampak tercatat di Lhok Raya dan Cot Bayu, Kecamatan Trumon Tengah, serta Padang Harapan, Kecamatan Trumon. Pengungsi Trumon Tengah berasal dari Lhok Raya, sebanyak 76 jiwa dari 23 keluarga, dan Cot Bayu, sebanyak 56 jiwa dari 14 keluarga; belum ada laporan pengungsi dari Padang Harapan. Sebagian warga berlindung di posko Brimob, tempat pendidikan Al-Qur’an, dan rumah kerabat. Di Lhok Raya, genangan mulai turun tetapi jalan masih terendam sekitar 20–30 sentimeter; di Cot Bayu, air di jalan mencapai sekitar 60 sentimeter. Anak-anak, balita, dan lansia termasuk di antara warga yang mengungsi. Angka ini menegaskan bahwa bantuan harus menjangkau lebih dari satu titik dan memperhatikan kebutuhan khusus, bukan hanya menyediakan tempat berlindung.

Pemantauan harus berlanjut setelah air surut
Personel gabungan TNI, Polri, dan BPBD membantu evakuasi serta memindahkan barang penting dari rumah terdampak. Namun, air yang mulai surut di sebagian lokasi bukan tanda bahwa ancaman telah berlalu: hujan kembali di wilayah hulu dapat menaikkan debit sungai, sementara akses dan permukiman di beberapa titik masih tergenang. BPBD terus mendata dampak dan memantau perkembangan genangan untuk mengantisipasi kemungkinan banjir meluas. Pemerintah daerah perlu menjaga pasokan makanan, memperbarui informasi kepada warga, dan memastikan kelompok rentan dapat mengakses tempat aman. Warga pun diimbau mengikuti arahan petugas dan segera berpindah bila kondisi memburuk. Kesimpulannya, respons darurat sudah menggerakkan unsur penting, termasuk dapur lapangan, tetapi ujian sesungguhnya adalah konsistensi perlindungan sampai pengungsi bisa pulang dengan aman.






