Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Program Literasi Digital dan AI untuk Guru: Strategi Sekolah Memimpin Era Teknologi

Program Literasi Digital dan AI untuk Guru: Strategi Sekolah Memimpin Era Teknologi
Minat|Pendidikan Orang Tua dan Anak

Literasi Digital Guru: Bukan Lagi Pelengkap, Tapi Fondasi

Literasi digital guru adalah kemampuan pendidik memahami, menggunakan, dan mengajarkan teknologi digital serta kecerdasan buatan secara kritis, kreatif, dan beretika untuk mendukung proses belajar mengajar yang relevan dengan tantangan abad ke-21. Tanpa literasi ini, pendidikan teknologi sekolah mudah terjebak pada penggunaan perangkat tanpa arah, sekadar mengganti papan tulis dengan layar, tanpa mengubah cara berpikir siswa. Inilah mengapa program literasi digital dan AI untuk guru harus ditempatkan sebagai fondasi, bukan tambahan kurikulum. Guru bukan hanya pengguna teknologi, tetapi arsitek pengalaman belajar; jika mereka gagap digital, siswa akan belajar dari sumber lain yang belum tentu aman. Sekolah yang abai terhadap literasi digital guru sedang mempertaruhkan masa depan murid di tengah derasnya arus AI.

Workshop Koding dan AI: Laboratorium Strategis untuk Pendidik

Contoh paling konkret bagaimana literasi digital guru dibangun terlihat pada Workshop Guru Mahir Koding dan Kecerdasan Artifisial (AI) yang diikuti guru dan tenaga pengajar dari Korwil 5 Kabupaten Sumenep. Workshop koding AI ini digelar di SDN Lenteng Timur 1, diikuti peserta dari empat kecamatan: Batuan, Lenteng, Ganding, dan Guluk-Guluk, selama dua hari—hari pertama luring pada 16 September 2026, hari kedua daring pada 17 September 2026. Ini bukan pelatihan seremonial. Program ini merupakan tindak lanjut Gerakan Nasional PGRI yang menarget peningkatan literasi digital guru, kemampuan pemrograman, dan pemanfaatan kecerdasan buatan sebagai bekal menghadapi tantangan pendidikan abad ke-21. Materinya sangat spesifik: fondasi literasi AI, prompt engineering untuk pembelajaran, pembuatan modul ajar dan RPP berbasis AI, hingga media presentasi interaktif berbasis AI.

Pendekatan luring-daring yang dipakai menunjukkan bahwa literasi digital guru dipraktikkan langsung dalam format hybrid, bukan sebatas teori. Guru diajak mengubah AI dari ancaman menjadi mitra kerja: bukan alat menyontek, tetapi mesin ide untuk merancang bahan ajar, mempersonalisasi latihan, dan mengevaluasi proses belajar. Di sinilah pendidikan teknologi sekolah menemukan bentuknya—melalui guru yang menguasai koding dan AI secukupnya untuk memodifikasi, bukan sekadar mengklik. “Peluncuran program ini merupakan tindak lanjut dari Gerakan Nasional PGRI yang bertujuan meningkatkan literasi digital, kemampuan pemrograman, serta pemanfaatan kecerdasan buatan bagi para guru sebagai bekal menghadapi tantangan pendidikan abad ke-21,” kata Sekretaris PGRI Kabupaten Sumenep, Salehorman.

Dari Keterampilan Teknis ke Etika Penggunaan AI

Jika literasi digital guru berhenti pada kemampuan mengoperasikan aplikasi, sekolah hanya melahirkan operator, bukan pembimbing. Forum diskusi yang digelar ikatan alumni sebuah universitas pendidikan pada 16–17 September 2026 menegaskan bahwa literasi digital harus berjalan berdampingan dengan karakter, moral, etika, dan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Kepala sekolah yang hadir dalam forum tersebut mengingatkan bahwa peserta didik perlu dipersiapkan untuk menghadapi teknologi secara kritis, cakap, dan bertanggung jawab, bukan sekadar dilarang memakai gawai.

Pandangan ini menggeser fokus literasi digital dari “cara menggunakan” ke “mengapa dan untuk apa menggunakan”. Menurut Aan Harinurdin, literasi digital tidak sebatas kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga mencakup etika, karakter, keamanan, dan tanggung jawab. Ini menyentuh langsung etika penggunaan AI: plagiarisme berbasis chatbot, penggunaan AI yang tidak sesuai etika akademik, sampai kebiasaan mengandalkan mesin untuk mengerjakan tugas sekolah. Dekan FMIPA dari universitas yang sama mengingatkan bahwa AI kini mampu mengerjakan soal pilihan ganda hingga esai, sehingga sistem asesmen harus bergeser ke penilaian berbasis proses agar siswa tidak bergantung pada AI.

Kolaborasi Kebijakan dan Kelas: Guru sebagai Kompas Moral Digital

Workshop koding AI di Sumenep dan forum pedagogik alumni universitas pendidikan sebenarnya menunjukkan pola yang sama: literasi digital guru hanya kuat jika ada kolaborasi terencana. Di satu sisi, organisasi profesi guru menggulirkan Gerakan Nasional untuk meningkatkan literasi digital dan pemrograman. Di sisi lain, komunitas akademik mendorong perubahan arah kebijakan pendidikan melalui integrasi TPACK, penguatan deep learning, dan pembaruan sistem asesmen agar menilai proses dan integritas, bukan sekadar hasil akhir.

Rangkaian forum tersebut menegaskan bahwa transformasi digital pendidikan tidak cukup dengan menyediakan perangkat; perlu penguatan karakter, moral, etika, keterampilan, asesmen berbasis proses, serta pendampingan penggunaan AI. Kepala madrasah yang terlibat menyoroti dua kata kunci: etika digital dan kesehatan mental murid, dengan penekanan bahwa sekolah harus mengarahkan penggunaan teknologi dan menjaga perilaku murid sekaligus kondisi mental mereka. Kolaborasi sekolah, keluarga, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat disebut sebagai kunci untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan mendukung perkembangan peserta didik. Di titik ini, guru kembali ke peran klasik: kompas moral di ruang kelas digital.

Menata Ulang Pendidikan Teknologi Sekolah: Kesimpulan dan Rekomendasi

Program literasi digital guru dan workshop koding AI bukan proyek musiman; keduanya adalah infrastruktur baru pendidikan teknologi sekolah. Melalui workshop dua hari yang menggabungkan pembelajaran luring dan daring, organisasi guru di Sumenep mendorong pendidik empat kecamatan untuk terus mengembangkan literasi digital dan kemampuan menggunakan teknologi sebagai bagian pembelajaran di era digital. Rangkaian forum alumni universitas pendidikan menunjukkan arah lanjutan: literasi digital harus menyatu dengan ketangguhan moral, etika, dan asesmen berbasis proses.

Kesimpulannya, sekolah yang ingin relevan di era AI perlu mengambil tiga langkah berani. Pertama, menjadikan literasi digital guru prioritas, bukan tambahan. Kedua, merancang kurikulum yang memasukkan etika penggunaan AI, keamanan digital, dan karakter ke dalam setiap mata pelajaran. Ketiga, membangun kolaborasi lintas pihak—organisasi guru, pemerintah, perguruan tinggi, keluarga, dan dunia usaha—untuk mengawal implementasi di lapangan. Dengan pendekatan tersebut, pendidikan diharapkan tidak hanya menghasilkan siswa unggul akademik, tetapi juga berintegritas, mandiri, peduli, bertanggung jawab, serta siap menghadapi perubahan teknologi.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!