Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Program Literasi AI Telkom di Sekolah: Model Baru Mendidik Siswa Melek Teknologi

Program Literasi AI Telkom di Sekolah: Model Baru Mendidik Siswa Melek Teknologi
Minat|Eksplorasi Aplikasi AI

EduMind Wellbeing & AI Camp: Bukan Sekadar Pelatihan Teknologi

EduMind Wellbeing & AI Camp adalah program edukasi AI yang dirancang Telkom untuk membekali siswa dan guru dengan kemampuan memahami, menggunakan, dan mengawasi kecerdasan buatan secara bijak, kreatif, dan beretika, sekaligus menanamkan kesadaran pentingnya kesehatan mental dalam ekosistem pembelajaran digital di sekolah.

Telkom meluncurkan EduMind Wellbeing & AI Camp di Makassar sebagai bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) di sektor pendidikan. Inisiatif ini menjadi laboratorium awal bagaimana literasi AI siswa seharusnya dibangun: tidak hanya mengajarkan cara memakai alat, tetapi juga mengkritisi dampaknya pada cara belajar dan kondisi psikologis remaja. Program ini melibatkan 350 peserta, terdiri dari 300 siswa dan 50 guru pendamping dari 10 SMA dan SMK. Fakta keterlibatan guru sejak awal menunjukkan bahwa Telkom tidak memosisikan AI sebagai “mainan teknologi”, melainkan kompetensi baru yang harus ditopang pendampingan pedagogis. Inilah elemen yang membuat EduMind Wellbeing Camp relevan dijadikan model.

Program Literasi AI Telkom di Sekolah: Model Baru Mendidik Siswa Melek Teknologi

BISA PandAI Telkom: Kerangka Program Edukasi AI yang Lebih Terarah

EduMind Wellbeing & AI Camp bukan kegiatan tunggal, tetapi bagian dari BISA PandAI Telkom melalui program BISA Vokasi yang berfokus pada penerapan teknologi kecerdasan buatan dalam pendidikan. Ini penting karena literasi AI siswa tidak boleh tergantung pada workshop sesaat; ia butuh kerangka berkelanjutan, terstruktur, dan terintegrasi dengan kurikulum sekolah. Dengan menempatkan camp ini di bawah payung BISA PandAI Telkom, perusahaan memberi sinyal bahwa program edukasi AI ini dirancang untuk jangka panjang, bukan seremonial. Pendekatan ini lebih sehat dibanding model pelatihan yang hanya memamerkan teknologi tanpa memastikan keberlanjutan. Kalau BISA PandAI konsisten diperluas ke lebih banyak SMA/SMK, ia berpotensi menjadi standar baru bagaimana teknologi AI sekolah dikenalkan dan dikelola secara bijak dan terukur.

Poin menarik lain adalah penekanan pada penggunaan AI secara bertanggung jawab, bukan sekadar peningkatan keterampilan teknis. Di tengah derasnya promosi aplikasi AI, BISA PandAI Telkom memberikan narasi tandingan: AI bukan jalan pintas mencontek, melainkan alat bantu berpikir dan berkreasi. Dari perspektif kebijakan pendidikan, kerangka semacam ini dapat membantu sekolah menyusun aturan penggunaan AI yang jelas: apa yang boleh, apa yang harus diawasi, dan bagaimana guru memandu. Di sinilah nilai strategis BISA PandAI Telkom sebagai referensi praktis bagi sekolah lain yang belum punya peta jalan literasi AI.

Program Literasi AI Telkom di Sekolah: Model Baru Mendidik Siswa Melek Teknologi

Mengapa Literasi AI Mendesak: Angka Adopsi 92% dan Risiko di Sekolah

Telkom menyusun program ini sebagai respons langsung terhadap pesatnya perkembangan dan pemanfaatan teknologi AI, termasuk dalam pendidikan digital. Data Kementerian Komunikasi dan Digital RI mencatat tingkat adopsi AI telah mencapai 92% pada 2026. Angka ini bukan sekadar statistik; ia berarti mayoritas platform, layanan, dan konten yang diakses pelajar sudah mengandung unsur AI. Tanpa literasi AI siswa yang memadai, sekolah pada dasarnya membiarkan peserta didik berinteraksi dengan teknologi kompleks tanpa panduan. Di titik ini, penolakan atau pengabaian terhadap AI di kelas bukan lagi sikap hati-hati, tetapi bentuk pembiaran. Program seperti EduMind Wellbeing Camp menegaskan bahwa solusi bukan menutup pintu, melainkan mengajari siswa membaca, memanfaatkan, sekaligus mempertanyakan cara kerja AI yang mereka gunakan setiap hari.

Tekanan informasional yang datang bersama adopsi 92% itu membawa risiko kelelahan mental, kecemasan performa, dan distraksi kronis pada pelajar. Artinya, memperkuat literasi AI tanpa membahas kesehatan mental hanya akan melahirkan generasi yang mahir teknologi tetapi kewalahan. Telkom memilih arah berbeda: mengawinkan penguatan literasi dan wellbeing dalam satu program. Ini menandai pergeseran penting dalam cara institusi besar memandang transformasi digital: bukan lagi sekadar soal kompetensi, melainkan juga ketahanan emosional. Pendekatan ini layak didorong menjadi kebijakan baku: setiap program edukasi AI di sekolah seharusnya wajib menyertakan modul etika dan dampak psikologis, bukan hanya tutorial fitur.

Program Literasi AI Telkom di Sekolah: Model Baru Mendidik Siswa Melek Teknologi

Teknologi AI di Sekolah: Dari Ruang Kelas hingga Pemantauan Wellbeing

Salah satu aspek paling progresif dari EduMind Wellbeing & AI Camp adalah cara Telkom menghubungkan teknologi AI sekolah dengan pemantauan kondisi emosional siswa. Para guru diperkenalkan pada platform EduMind yang dilengkapi fitur weekly mood check-in, AI-assisted wellbeing monitoring, dan reporting system untuk membantu sekolah memantau kondisi psikologis siswa secara berkelanjutan. Weekly mood check-in memberi gambaran berkala tentang mood pelajar, sementara pemantauan berbantu AI membantu membaca pola yang mungkin luput dari mata guru. Ini mengubah AI dari sekadar alat bantu akademik menjadi instrumen kebijakan pastoral di sekolah. Tentu, penggunaan data psikologis berbasis AI butuh standar etika ketat, namun arah kebijakan ini tepat: teknologi digunakan untuk memperkuat kepedulian manusia, bukan menggantikannya.

Di sisi siswa, program ini memberi pembekalan dan ruang eksplorasi agar mereka memanfaatkan AI secara bijak, kreatif, dan produktif dalam mendukung proses pembelajaran, bukan sekadar mengenalkan teknologi sebagai alat baru. Di sini tampak perbedaan antara program edukasi AI yang mendorong daya cipta dengan yang hanya mengajarkan cara memakai prompt. Pendekatan EduMind mendorong siswa bereksperimen dalam kerangka etika yang jelas: AI untuk mengembangkan ide, bukan menggantikan pemikiran. Jika sekolah lain mengadopsi pola ini, ekosistem belajar digital akan bergeser dari budaya “copy-paste pintar” ke budaya eksplorasi yang bertanggung jawab. Itulah lompatan kualitas yang dibutuhkan pendidikan menengah saat AI sudah menembus hampir semua aspek kegiatan belajar.

Program Literasi AI Telkom di Sekolah: Model Baru Mendidik Siswa Melek Teknologi

Teladan untuk Replikasi: Dari 350 Peserta ke Ekosistem Nasional

Fakta bahwa EduMind Wellbeing & AI Camp baru menyentuh 350 peserta dari 10 SMA dan SMK di Makassar menjadikannya lebih sebagai proyek percontohan dibanding solusi massal. Namun di sinilah justru peluangnya: model ini dapat direplikasi pemerintah daerah, sekolah swasta, maupun organisasi lain yang ingin mengembangkan literasi AI siswa. Telkom sendiri menyatakan akan terus memperkuat kolaborasi bersama sekolah, guru, dan berbagai pemangku kepentingan untuk menghadirkan ekosistem pendidikan yang inklusif, sehat, dan siap menghadapi masa depan. Komitmen keberlanjutan ini penting agar program tidak berhenti sebagai kampanye sesaat. Pada titik tertentu, negara dan pelaku pendidikan lain harus ikut mengambil alih dan memperluasnya, bukan menyerahkan masa depan literasi AI sepenuhnya pada inisiatif korporasi.

Sebagai model, EduMind Wellbeing Camp menawarkan tiga pelajaran kunci. Pertama, literasi AI di sekolah harus menempatkan wellbeing sebagai komponen inti, bukan tambahan. Kedua, program edukasi AI perlu dirancang bertahap dan terukur seperti BISA PandAI Telkom, agar siswa dan guru tidak kewalahan. Ketiga, teknologi AI sekolah sebaiknya difokuskan pada pendampingan dan eksplorasi belajar, bukan sekadar otomatisasi tugas. Jika tiga prinsip ini diadopsi luas, inisiatif TJSL Telkom di bidang pendidikan dapat menjadi titik awal penguatan literasi AI nasional yang tidak hanya canggih, tetapi juga manusiawi.

Program Literasi AI Telkom di Sekolah: Model Baru Mendidik Siswa Melek Teknologi

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!