The Sounds Project Vol. 9: Festival yang Menjadi Laboratorium Bunyi Baru
The Sounds Project Vol. 9 adalah sebuah penampilan festival musik yang menjadikan panggung utama sebagai laboratorium bunyi baru, tempat musisi lokal menguji lagu yang belum dirilis dan aransemen eksperimental di depan ribuan penonton yang siap bernyanyi, bergoyang, dan memberi respons jujur terhadap setiap keberanian musikal yang dipertaruhkan. Pada hari pertama, suasana Ecovention dan Ecopark Ancol resmi dibuka dengan tema Beyond Memories, yang secara ironis terasa sangat masa depan berkat keberanian para artis membongkar batas genre dan tradisi. Alih-alih sekadar bernostalgia, festival ini mengajak penonton memelototi arah baru skena pop, hipdut, dan psychedelic folk Indonesia. Di sini, lagu baru artis lokal bukan selingan, melainkan inti acara.
Naykilla: Hipdut Centil yang Mengguncang Hari Pertama
Momen perubahan besar di hari pertama The Sounds Project Vol. 9 terjadi ketika Naykilla naik panggung sekitar pukul 19.42 WIB dan mengubah suasana nostalgia 2000-an menjadi pesta hipdut yang centil dan penuh energi. Dari “Open Arms” versi hipdut hingga lagu barunya “Skip Dulu Aja”, semua nomor dipelintir jadi bahan goyang tipis yang susah ditolak. Kolaborasinya dengan RYO lewat “Cuma Teman” dan Yung Caters di “Geleng-Geleng” menegaskan satu hal: hipdut bukan gimmick, tapi bahasa panggung baru yang mengundang sing-along massal. Semua lagu yang masuk setlist malam itu tak luput dari sentuhan hipdut, dari “Keong Racun” sampai “Best Part”, menunjukkan bagaimana eksperimen genre bisa terasa akrab sekaligus segar. Di tangan Naykilla, penampilan festival musik berubah menjadi klub mini yang menggoda, bukan sekadar konser.
MARBLES: Pop Colorful dan Keberanian Menguji Lagu Belum Rilis
Di panggung lain, grup pop MARBLES membuktikan bahwa umur karier yang masih seumur jagung tidak jadi alasan untuk bermain aman. Tampil dengan busana colorful di TSP & Co. Stage, mereka tidak hanya memanaskan massa, tapi juga memantik rasa penasaran lewat dua lagu baru yang belum pernah dirilis di mana pun. Ketika Dani menyebut judul “Aku ’dah cape menunggu” dan menegaskan bahwa lagu itu belum dirilis, tepuk tangan yang menggelegar terasa seperti voting percaya diri dari penonton. Menurut laporan, The Sounds Project Vol. 9: Beyond Memories resmi dibuka pada Jumat (7/8/2026) di Ecovention & Ecopark Ancol, dengan MARBLES menjadi salah satu penampil yang berhasil menghidupkan suasana sejak awal set. Di tengah festival, langkah MARBLES terasa penting: mereka menjadikan lagu baru sebagai hadiah langsung untuk massa, bukan sekadar teaser di media sosial.
Nusantara Beat: Psychedelic Folk dan Magisnya Interaksi Lintas Budaya
Jika Naykilla dan MARBLES menonjol lewat lagu baru, Nusantara Beat menguasai ruang dengan kekuatan aransemen psychedelic-folk yang mengakar pada tradisi, tapi disajikan secara energik dan groovy. Unit psychedelic-folk asal Amsterdam ini mengubah Musicverse Stage menjadi arena trance kolektif, dengan gitar meliuk ala era 70-an dan perkusi yang meledakkan semangat penonton. Lebih dari sekadar teknik, interaksi vokalis Megan de Klerk yang fasih berbahasa lokal membuat penonton merasa dilihat dan diajak bicara, bukan hanya ditonton. Sapaan “Halo Indonesia, apa kabar? Senang banget ada di sini,” jadi bukti bahwa hubungan mereka dengan penonton bukan gimmick turis, melainkan kedekatan emosional yang tumbuh. Lagu-lagu berunsur tradisi seperti “Mang Becak”, “Borondong Garing”, dan “Djanger” disulap jadi sing-along massal dengan aransemen psychedelic folk Indonesia yang unik, menunjukkan bahwa warisan budaya bisa diputar ulang tanpa kehilangan ruhnya.

Festival yang Menghadiahi Keberanian Musisi Lokal
Benang merah hari pertama The Sounds Project Vol. 9 jelas: festival ini berpihak pada keberanian, bukan pada zona aman. Dari hipdut centil Naykilla, pop colorful MARBLES dengan dua lagu belum rilis, hingga psychedelic folk Nusantara Beat yang mempoles ulang lagu tradisi, penonton disuguhi aransemen unik dan eksperimen genre yang jarang mendapat ruang sebesar ini. Penampilan festival musik seperti ini mengubah cara kita memandang panggung besar; ia bukan lagi sekadar tempat membawakan hit lama, tapi laboratorium publik untuk menguji arah baru. Lagu baru artis lokal tidak lagi menunggu konfirmasi radio atau algoritma, melainkan reaksi spontan ribuan suara yang bernyanyi. Pada akhirnya, festival yang merayakan risiko kreatif seperti The Sounds Project Vol. 9 adalah tanda sehatnya ekosistem musik: ketika panggung besar berani mendukung eksperimen, skena punya masa depan yang lebih liar dan menarik untuk diikuti.







