Pasar kuliner 24 jam: definisi dan arah baru Pasar Baru
Pasar kuliner 24 jam adalah kawasan niaga yang berfokus pada makanan dan minuman, dirancang agar tetap hidup sepanjang hari hingga malam, menawarkan pengalaman bersantap, berjalan, dan berkumpul tanpa henti bagi warga maupun wisatawan, sekaligus membuka peluang ekonomi lebih luas bagi pelaku usaha kecil dan menengah di sekitarnya. Dalam konteks ini, rencana menjadikan Pasar Baru sebagai destinasi wisata kuliner yang beroperasi selama 24 jam menandai perubahan besar cara kota memaknai pasar tradisional. Pemerintah daerah tidak lagi melihat pasar hanya sebagai tempat belanja kebutuhan harian, tetapi sebagai panggung utama gaya hidup urban. Konsep yang terinspirasi dari Myeongdong, kawasan populer di Seoul, menunjukkan ambisi menjadikan Pasar Baru bukan sekadar lokasi belanja, melainkan ikon kota yang punya karakter kuliner malam yang kuat.
Mengapa model Myeongdong menarik: identitas tematik dan wisata malam
Rencana menyulap Pasar Baru di Jakarta Pusat menjadi destinasi wisata kuliner 24 jam jelas bukan langkah kosmetik belaka. Gubernur Pramono Anung menyebut penataan ini sebagai bagian dari pengembangan kawasan tematik, agar tiap sudut kota memiliki identitas dan daya tarik berbeda. Di Pasar Baru, bayangannya adalah suasana kuliner malam seperti Myeongdong, yang membuat kawasan tidak lagi mati begitu toko tutup, tetapi justru memuncak aktivitasnya saat hari gelap. Ini penting karena kota besar sering kekurangan ruang publik yang aman dan menarik untuk dinikmati hingga larut malam. Dengan aktivitas kuliner yang berlangsung hingga malam hari, Pasar Baru diharapkan punya daya tarik baru bagi warga maupun wisatawan, menjadikannya magnet jalan kaki, nongkrong, dan berburu makanan unik, bukan sekadar transit cepat sebelum pulang.
Blok M dan Kalcer Market Kudus: bukti konsep bisa menyebar
Sebelum Pasar Baru disentuh, pemerintah daerah tengah mendorong transformasi Blok M dengan sentuhan budaya Jepang dan penataan berbasis transit-oriented development (TOD), termasuk terminal baru yang terintegrasi dengan aktivitas komersial dan ruang publik. Kawasan ini sudah dikenal sebagai tempat kuliner dan titik kumpul anak muda, sehingga menjadi laboratorium awal bagaimana pasar kuliner modern bisa menghidupkan kota. Menariknya, konsep kuliner kekinian ala Blok M sudah mengalir ke kota lain lewat Kalcer Market di Kudus, yang mengusung beragam kuliner viral dan tren makanan populer di kota besar. Acara ini digelar di Kudus Extension Mall, Desa Getaspejaten, Kecamatan Jati, dan hanya berlangsung selama 11 hari hingga 18 Oktober 2026. Fakta bahwa warga Kudus bisa menikmati pengalaman kuliner ala Blok M tanpa harus pergi jauh ke ibu kota menunjukkan bahwa model destinasi wisata kuliner dapat diadaptasi lintas kota.
Dampak bagi warga dan wisatawan: dari pilihan hiburan hingga akses pengalaman baru
Bagi warga, kehadiran pasar kuliner 24 jam berarti pilihan hiburan dan rekreasi yang lebih beragam, terutama di malam hari. Pasar Baru yang dihidupkan dengan aktivitas kuliner hingga malam diharapkan menjadi tujuan baru untuk berburu makanan, berjalan santai, atau sekadar menghabiskan waktu bersama teman dan keluarga tanpa harus pergi ke pusat perbelanjaan tertutup. Wisatawan pun diuntungkan karena mendapatkan satu paket pengalaman: sejarah kawasan, suasana jalanan, dan kuliner malam dalam satu rute. Di Kudus, Kalcer Market sudah menunjukkan dampak praktis itu: masyarakat punya pilihan mencari suasana kuliner berbeda bersama teman maupun keluarga, dengan berbagai makanan yang menarik perhatian pencinta kuliner. Meski hanya 11 hari, acara tersebut membuktikan bahwa ketika kota menyediakan ruang kuliner tematik, warga akan datang bukan hanya untuk makan, tetapi untuk merasakan atmosfer baru yang sebelumnya tidak ada.
Langkah berikutnya: konsistensi penataan dan perluasan konsep ke kawasan lain
Rencana penataan Pasar Baru tidak berdiri sendiri. Pemerintah daerah menargetkan start penataan kawasan ini pada 2027, setelah transformasi Blok M dianggap selesai. Setelah itu, konsep serupa direncanakan berlanjut ke Glodok dan Kota Tua, dengan penekanan karakter masing-masing: Glodok sebagai Pecinan dengan kekayaan kuliner Tionghoa, dan Kota Tua dengan suasana terinspirasi Eropa yang diharapkan menarik wisatawan mancanegara. "Kalau Blok M sudah selesai, harapannya adalah di tahun 2027 kita akan start dengan Pasar Baru" adalah pernyataan yang menegaskan bahwa kota sedang bergerak ke arah jaringan kawasan tematik, bukan proyek tunggal yang terputus. Di level kota lain, contoh Kalcer Market di Kudus menunjukkan bahwa konsep kuliner kekinian ala Blok M bisa dihadirkan secara temporer dan berpotensi dikembangkan lebih permanen jika respons publik terus positif.






