Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Pasar Apung ke Sentra Kuliner: Wajah Baru Kawasan Tradisional

Dari Pasar Apung ke Sentra Kuliner: Wajah Baru Kawasan Tradisional
Minat|Makanan Kaki Lima

Revitalisasi Pasar Tradisional: Dari Tempat Belanja ke Ruang Wisata Kuliner

Revitalisasi pasar tradisional adalah proses penataan kembali kawasan ekonomi lama, seperti pasar dan bantaran sungai, agar tidak hanya berfungsi sebagai tempat jual beli, tetapi juga menjadi destinasi wisata kuliner, ruang publik, dan wadah pemberdayaan UMKM lokal melalui konsep penataan fisik, pengelolaan profesional, serta penguatan nilai budaya dan pengalaman pengunjung. Transformasi ini bukan sekadar kosmetik; ia mengubah cara kota membangun identitas dan mengalirkan manfaat ekonomi ke akar rumput. Ketika pasar dan bantaran sungai disulap menjadi sentra kuliner kota, pertanyaannya bukan lagi apakah konsep ini menarik, melainkan sejauh mana ia berpihak pada pedagang kecil dan warga sekitar. Dari Blitar hingga Manado dan Samarinda, tampak jelas: daerah yang berani merancang pasar sebagai destinasi wisata kuliner sedang menguji model baru pembangunan kota berbasis UMKM kuliner lokal.

Pasar Apung Karplos Blitar: Wisata Sungai sebagai Panggung UMKM Kuliner Lokal

Pasar Apung Karplos di Blitar menunjukkan bahwa sungai bukan hanya objek penataan, tetapi bisa menjadi panggung utama destinasi wisata kuliner. Kawasan Kali Karangtengah–Plosokerep (Karplos) yang sebelumnya sekadar aliran sungai, dikonversi menjadi ruang wisata kuliner bagi warga, dengan konsep pasar apung kuliner yang menghadirkan aktivitas makan dan jajan di tepi air sekaligus menjadi wadah UMKM memasarkan produk. Pembukaan perdana kawasan ini digelar pada Sabtu (12/9), dan sejak awal lurah Karangtengah, Siswa Adi Purnama, mendorong agar agenda pasar apung kuliner diadakan rutin setiap Minggu, meski jadwal masih dijajaki dan bisa disesuaikan dengan kalender Jawa seperti Minggu Wage dan Minggu Pon. Keputusan menjadikannya agenda berkala adalah langkah strategis: UMKM kuliner lokal butuh kepastian ritme pasar, bukan sekadar acara sesekali. Jika konsistensi terjaga, Pasar Apung Karplos berpotensi tumbuh menjadi ikon pasar apung kuliner, menghidupkan kawasan sekaligus menawarkan alternatif rekreasi yang dekat dan terjangkau bagi warga.

Pasar Bersehati Manado: Revitalisasi Serius, Bukan Sekadar Cat Ulang

Pasar Bersehati di Manado memberi contoh bahwa revitalisasi pasar tradisional harus menyentuh cara kelola, bukan hanya tampilan fisik. Pasar tertua dan terbesar di kota ini, yang menjadi denyut nadi perekonomian warga sejak puluhan tahun, direvitalisasi sejak 2021 dan terus berbenah. Pengelolaan dilakukan secara profesional dengan penataan tata letak pedagang yang lebih terstruktur, parkir elektronik, serta penguatan kebersihan pasar untuk menjaga kenyamanan pembeli dan pedagang sekaligus mendukung pendapatan asli daerah. Di sini, pasar tidak lagi diposisikan sebagai tempat belanja yang kumuh, tetapi sebagai destinasi wisata kuliner dan budaya lokal, di mana pengunjung tidak hanya berbelanja, tetapi juga menikmati Teluk Manado dan belajar dialek lokal saat tawar-menawar. Kutipan yang patut dicermati dari penataan ini adalah bahwa "konsep wisata yang diusung adalah wisata kuliner dan budaya"—pernyataan yang menegaskan orientasi baru pasar sebagai ruang pengalaman, bukan sekadar transaksi. Namun pekerjaan rumah masih nyata: pengelolaan sampah dan kerapian sebagian pedagang yang belum tertib harus diatasi agar jalan menuju destinasi wisata kuliner betul-betul ramah bagi wisatawan dan UMKM kuliner lokal.

Samarinda dan Bantaran SKM: Sentra Kuliner sebagai Babak Lanjutan Normalisasi Sungai

Di Samarinda, gagasan sentra kuliner kota muncul sebagai kelanjutan logis dari program normalisasi Sungai Karang Mumus (SKM). Setelah sekitar 500 bangunan di sepanjang bantaran SKM dibebaskan dalam proses penataan sebelumnya, pemerintah kota menolak menjadikan lahan kosong sebagai ruang mati. Mereka menyiapkan fungsi baru yang selaras dengan pengendalian banjir sekaligus bisa dimanfaatkan masyarakat, yaitu ruang publik dan sentra kuliner yang menghadap langsung ke sungai. Asisten II Sekretariat Daerah, Marnabas Patiroy, menegaskan bahwa bangunan yang sudah dipindahkan akan "disulap menjadi daerah kuliner", dengan orientasi warung dan usaha kecil yang tidak lagi membelakangi sungai, tetapi menjadikan SKM sebagai bagian dari ruang aktivitas dan pemandangan kawasan. Rencana yang dilakukan bertahap ini menunjukkan cara berbeda memaknai penataan: relokasi bukan akhir, melainkan pintu menuju ekonomi baru berbasis kuliner lokal. Jika desain kawasan konsisten menjaga fungsi sungai sebagai sistem pengendalian banjir sambil menghidupkan UMKM kuliner lokal, Samarinda berpeluang menjadikan bantaran SKM sebagai destinasi wisata kuliner yang kuat, selevel kawasan Jalan Lambung Mangkurat yang selama ini sudah dikenal sebagai magnet kuliner bagi warga dan tamu luar daerah.

Pelajaran Kebijakan: Revitalisasi Pasar Harus Berpihak pada UMKM, Bukan Hanya Wisatawan

Dari Pasar Apung Karplos, Pasar Bersehati, hingga rencana sentra kuliner di bantaran SKM, benang merahnya jelas: kota-kota sedang berlomba menjadikan kawasan tradisional sebagai destinasi wisata kuliner. Namun revitalisasi pasar tradisional tak boleh berhenti pada estetika instagramable. Kekuatan proyek seperti ini terletak pada bagaimana UMKM kuliner lokal diikutsertakan sejak awal, mendapat jadwal pasar apung yang rutin, zonasi yang adil, kebersihan yang dijaga, dan pelatihan agar ramah wisatawan. Janji pembenahan yang lebih menyentuh kebersihan, penataan zonasi, digitalisasi pembayaran, dan pelatihan pedagang di Manado menunjukkan arah yang tepat. Di Samarinda, penegasan bahwa kawasan yang dibersihkan harus tetap punya fungsi bagi masyarakat, salah satunya sebagai kawasan kuliner, juga mencerminkan kesadaran bahwa relokasi harus diikuti peluang ekonomi baru. Kesimpulannya tegas: destinasi wisata kuliner yang sehat tidak lahir dari rencana tata ruang semata, tetapi dari komitmen jangka panjang untuk menjadikan sentra kuliner kota sebagai rumah layak bagi pedagang kecil, bukan sekadar latar bagi turis sesaat.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!