Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Mengapa Susu Kental Manis Dilarang dari Menu Sekolah

Mengapa Susu Kental Manis Dilarang dari Menu Sekolah
Minat|Pengetahuan Parenting

Keputusan Tegas BGN: SKM Bukan Minuman Anak Sekolah

Larangan susu kental manis dan minuman rasa susu dalam menu makan bergizi gratis adalah kebijakan Badan Gizi Nasional yang bertujuan menghapus produk tinggi gula dan rendah nilai gizi dari pola konsumsi rutin anak sekolah, sehingga program gizi pemerintah benar-benar menyediakan nutrisi minuman anak sekolah yang aman, bernilai gizi, dan tidak menyesatkan persepsi bahwa produk manis tersebut adalah susu yang layak dikonsumsi setiap hari. Langkah susu kental manis larangan di menu makan bergizi gratis (MBG) diambil setelah rapat koordinasi BGN dengan berbagai kementerian, BPOM, asosiasi industri, dan koperasi susu untuk membahas pemanfaatan susu hewani dalam program ini. BGN menegaskan, semua produk minuman susu, minuman mengandung susu, minuman rasa susu, dan SKM tidak boleh disajikan kepada penerima manfaat MBG. Keputusan ini bukan sekadar teknis, melainkan pernyataan keras: sekolah bukan tempat mempromosikan gula cair berkedok susu. Fokusnya beralih ke susu segar untuk anak dengan kandungan minimal 80% sebagai sumber protein hewani pelengkap yang layak.

Mengapa SKM Berbahaya: Gula Tinggi, Gizi Rendah

Selama bertahun-tahun, SKM diposisikan di rumah tangga sebagai “susu anak”, padahal komposisinya lebih mirip sirup gula dengan sedikit unsur susu. Salah satu alasan utama susu kental manis larangan di MBG adalah kandungan gulanya yang dapat melampaui 50 persen dari total komposisi produk. Menyajikannya setiap hari kepada pelajar sebagai bagian program gizi sama saja mengabadikan kebiasaan manis berlebihan yang sulit dihapus di kemudian hari. Konsumsi SKM berlebih dikaitkan dengan risiko obesitas, diabetes tipe 2, kerusakan gigi, penyakit jantung, dan kekurangan zat gizi lain ketika menggantikan makanan bergizi. SKM juga tidak mencukupi kebutuhan nutrisi anak bila digunakan sebagai pengganti susu formula atau susu cair. Dalam konteks metabolik, anak yang rutin minum SKM berpotensi membangun preferensi rasa yang amat manis, memicu lonjakan gula darah berulang, dan menormalisasi camilan tinggi kalori kosong. Kebijakan BGN, karenanya, merupakan koreksi terhadap kesalahan persepsi yang sudah mengakar di banyak keluarga.

Susu Hewani Segar Minimal 80%: Standar Baru di Menu MBG

BGN tidak sekadar melarang; lembaga ini menyiapkan standar jelas untuk nutrisi minuman anak sekolah yang lebih masuk akal. Mereka merekomendasikan susu hewani yang mengandung susu segar minimal 80 persen, berupa susu pasteurisasi, UHT, atau susu steril full cream plain tanpa tambahan gula, pengawet, perasa, maupun pewarna. Dengan kata lain, rasa manis buatan dan warna-warni atraktif tidak punya tempat dalam menu makan bergizi gratis. Produk yang dipakai wajib memiliki izin edar resmi dari BPOM, dan untuk susu pasteurisasi harus ditangani dengan sistem rantai dingin dari produksi hingga diterima penerima manfaat. BGN juga menetapkan harga satuan susu hewani Rp 3.000 untuk volume minimal 125 ml dan Rp 4.500 untuk 200 ml sampai di dapur pelaksana, menegaskan bahwa pilihan bergizi tidak harus mahal. Penting digarisbawahi, susu hewani ini berfungsi sebagai pelengkap, bukan pengganti porsi protein hewani lain seperti telur atau daging.

Dampak Jangka Panjang dan Pelajaran untuk Orang Tua

Dengan mengeluarkan SKM dari menu sekolah, BGN memotong satu sumber utama asupan gula berlebih yang selama ini dilegitimasi oleh label “susu”. Di tingkat metabolik, kebijakan ini membantu menurunkan paparan harian terhadap gula tinggi yang berhubungan dengan obesitas dan diabetes tipe 2 pada anak. Pada tingkat kesehatan gigi, berkurangnya minuman manis kental berarti risiko karies dan kerusakan gigi bisa ditekan sejak bangku sekolah. Penerima susu dalam program MBG mencakup ibu hamil, ibu menyusui, balita di atas dua tahun, dan pelajar sekolah. Artinya, standar susu segar untuk anak yang lebih ketat di sekolah seharusnya menjadi referensi di rumah. Orang tua patut membaca komposisi: pilih produk dengan kandungan susu segar tinggi, tanpa gula tambahan dan pewarna, serta berizin edar. SKM dan minuman rasa susu manis mesti kembali ke fungsi sempitnya—bahan pelengkap hidangan sesekali, bukan minuman rutin anak. Kebijakan ini layak didukung bila kita serius ingin generasi yang lebih sehat, bukan sekadar generasi yang terbiasa dengan rasa manis.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!