Kental Manis Bukan Susu: Fakta yang Belum Mengubah Perilaku
Miskonsepsi kental manis sebagai susu pengganti anak adalah situasi ketika orang tua menjadikan produk berkadar gula tinggi berbahan dasar susu sebagai minuman utama layaknya susu, padahal pemerintah sudah menegaskan bahwa kental manis bukan susu dan tidak boleh diposisikan sebagai sumber utama nutrisi anak. Hampir satu dekade sejak pemerintah mengatur promosi dan pelabelan kental manis sebagai bukan produk susu, perilaku masyarakat hampir tidak berubah. Survei nasional Universitas Islam Bandung menemukan 67,6 persen orang tua masih memberikan kental manis sebagai susu kepada anak usia 1–3 tahun. Angka ini bukan sekadar statistik; ia mencerminkan kegagalan kebijakan dan komunikasi publik. Alih‑alih turun, penggunaan kental manis sebagai susu justru disebut sebagai "regresi, bukan progres" oleh aktivis Irma Hidayana. Jika dalam satu dekade pesan “kental manis bukan susu” belum meresap, berarti ada yang keliru dalam cara negara dan pelaku kesehatan berbicara kepada keluarga.
Regulasi Kental Manis: Kuat di Atas Kertas, Lemah di Lapangan
Secara formal, regulasi kental manis anak sudah ada. Pemerintah menyatakan kental manis bukan susu dan mewajibkan produsen mengungkapkan bahwa produk ini tidak boleh dikategorikan sebagai susu. Ada pula Peraturan Badan POM Nomor 6 Tahun 2021 tentang Pengawasan Periklanan Pangan Olahan yang mengatur promosi kental manis. Namun aturan kuat di atas kertas ini runtuh di lapangan karena minim tindak lanjut: tidak ada sosialisasi masif, tidak ada edukasi terstruktur, dan tidak ada pendampingan bagi masyarakat luas. Irma Hidayana menilai apa yang terjadi sebagai kemunduran, sebab setelah hampir sepuluh tahun, penggunaan kental manis sebagai susu tidak menunjukkan perbaikan berarti. Ketika regulasi hanya menyentuh iklan, tetapi membiarkan bentuk pemasaran dan distribusi lain tetap membangun persepsi salah, orang tua akan terus menganggap kental manis sebagai pilihan susu pengganti yang sah dan aman.
Mengapa Orang Tua Tetap Memilih Kental Manis untuk Anak
Pertanyaan pentingnya bukan lagi apakah kental manis bukan susu, tetapi mengapa orang tua tetap menjadikannya susu pengganti. Jawabannya kompleks. Survei terhadap 2.150 orang tua balita menunjukkan bahwa persoalan ini tidak berhenti pada kurang edukasi. Mayoritas responden berpendidikan sarjana, artinya informasi kesehatan bukan hal yang sepenuhnya asing. Faktor ekonomi, budaya keluarga, kebiasaan turun‑temurun, dan pengaruh iklan membentuk persepsi bahwa kental manis adalah minuman “susu” yang cukup untuk anak. Harga yang lebih terjangkau dan ketersediaan produk di hampir semua warung membuat orang tua menganggapnya sebagai solusi praktis dalam situasi serba mahal. Di sisi lain, tantangan gizi anak yang sudah kompleks—stunting, wasting, hingga meningkatnya risiko penyakit tidak menular sejak usia dini—membuat penggunaan kental manis sebagai susu pengganti semakin problematik. Kita sedang menambah beban pada sistem gizi anak yang sudah rapuh.
Dampak terhadap Nutrisi Anak Optimal dan Risiko Jangka Panjang
Ketika kental manis diposisikan sebagai susu pengganti, yang dikorbankan adalah peluang anak mencapai nutrisi anak optimal. Tantangan gizi yang sudah berat—stunting dan wasting—menunjukkan banyak anak belum mendapatkan asupan yang cukup seimbang. Dalam konteks ini, memberi kental manis sebagai minuman utama berarti gagal memprioritaskan kualitas gizi. Survei yang menemukan 67,6 persen orang tua masih memberikan kental manis sebagai susu pada balita menandakan bahwa jutaan anak tumbuh dengan persepsi keluarga bahwa hal tersebut baik‑baik saja. Padahal, narasi gizi anak modern menekankan pentingnya sumber makanan yang kaya zat gizi dan seimbang, bukan sekadar manis dan disukai. Selama negara membiarkan kebingungan ini, target perbaikan gizi anak akan sulit tercapai. Perdebatan kental manis bukan susu bukan isu teknis pelabelan, tetapi soal masa depan generasi dan beban kesehatan jangka panjang yang akan menumpuk.
Strategi Edukasi Baru: Mengubah Persepsi, Bukan Hanya Label
Solusi tidak cukup berhenti pada regulasi. Irma Hidayana menegaskan, setelah regulasi yang kuat, tahap berikutnya adalah edukasi yang sistematis dan aktif dilakukan pemerintah, bukan dibebankan sepenuhnya kepada masyarakat. Pemerintah memiliki jaringan pelayanan kesehatan hingga tingkat terbawah yang seharusnya dimobilisasi untuk kampanye kental manis bukan susu dan pilihan susu pengganti yang lebih aman secara konsep. Edukasi yang efektif perlu menyentuh budaya keluarga, mengakui faktor ekonomi, dan mengoreksi kebiasaan lama lewat bahasa yang menghargai orang tua, bukan menyalahkan mereka. Intervensi harus datang "dari bawah dan dari atas": dari kader dan tenaga kesehatan di lapangan, dan dari kebijakan yang mengawasi semua bentuk pemasaran. Tanpa pendekatan ini, pesan kesehatan akan kalah oleh iklan dan kebiasaan. Mengubah perilaku konsumsi kental manis berarti mengubah cara kita memandang makanan anak: dari sekadar manis dan murah, menjadi sumber gizi yang layak untuk masa depan.






