Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Program Literasi Lokal Papua: Saat Anak-Anak Menjadi Penjaga Cerita Rakyat

Program Literasi Lokal Papua: Saat Anak-Anak Menjadi Penjaga Cerita Rakyat
Minat|Australia & Selandia Baru

Kompetisi Dongeng Lokal: Literasi yang Berakar pada Tanah Papua

Program literasi lokal Papua yang berpusat pada kompetisi dongeng lokal adalah inisiatif pendidikan yang memanfaatkan cerita rakyat tradisional sebagai sarana membangun literasi budaya Papua, menguatkan kemampuan berbahasa lisan dan baca-tulis anak, sekaligus menanamkan kebanggaan terhadap sejarah serta identitas daerah mereka sejak jenjang sekolah dasar. Pemerintah kabupaten Jayawijaya melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan menggelar lomba baca puisi dan cerita rakyat Papua tingkat sekolah dasar dalam rangka kegiatan Gemar Membaca tingkat kabupaten/kota pada Senin, 28 September 2026. Kegiatan yang dibuka Asisten III Setda Jayawijaya, Lekius Yikwa, di ruang perpustakaan daerah ini sengaja dirancang bukan sekadar sebagai acara seremonial, melainkan sebagai pernyataan sikap: literasi di Papua tidak boleh tercerabut dari akar budaya lisan dan warisan leluhur yang selama ini hidup melalui dongeng di honai dan kampung-kampung.

Lembah Baliem di Panggung SD: Anak-Anak sebagai Pencerita Utama

Inti program ini adalah kompetisi dongeng Lembah Baliem yang menempatkan murid SD sebagai pemeran utama. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Jayawijaya menggelar lomba cerita rakyat untuk mendorong anak-anak mengenal, menghafal, dan mampu menceritakan kembali sejarah dan cerita rakyat Lembah Baliem. Heribertus Mabel menjelaskan, kegiatan berlangsung kurang lebih dua minggu dengan cara turun langsung ke sekolah-sekolah untuk menguji kemampuan bercerita murid tentang sejarah daerah mereka. Lima sekolah dasar terlibat sebagai perwakilan: SD Negeri Wamena, SD YPPK Santo Yakobus Honelama, SD Kristen Koinonia, SD Inpres Wesaput, dan SD Harapan Balim, masing-masing mengirim tiga siswa terbaik. Pola ini menjadikan kelas dan perpustakaan sebagai panggung literasi budaya Papua, bukan sekadar tempat menghafal teks, tetapi ruang hidup bagi cerita rakyat tradisional yang pernah hanya beredar di lingkar api unggun.

Kemampuan Lisan yang “Luar Biasa” dan Arti Strategisnya bagi Literasi

Dari sudut pandang literasi, temuan paling penting dari kompetisi dongeng lokal ini adalah kualitas kemampuan lisan anak-anak. Heribertus Mabel mengakui antusiasme siswa dan menilai kemampuan mereka “sangat luar biasa”; anak-anak mampu menghafal dan menceritakan kembali sejarah Lembah Baliem beserta berbagai cerita yang terjadi di sana dengan baik. Fakta ini membantah stereotip bahwa generasi muda hanya terpikat gawai, sekaligus menunjukkan bahwa kecerdasan naratif mereka kuat bila diberi konteks yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini bukan hanya lomba, tetapi sarana meningkatkan kecerdasan berpikir, keberanian tampil, kemampuan berbicara, dan pengetahuan tentang sejarah serta budaya daerah sendiri. Dengan kata lain, literasi budaya Papua dibangun dari mulut anak-anak yang bercerita, bukan dari materi instan yang lepas dari konteks lokal.

Perpustakaan Berubah Wajah: Dari Ruang Sunyi ke Ruang Budaya

Program ini juga mengubah cara kita memandang perpustakaan. Lekius Yikwa menegaskan bahwa transformasi perpustakaan di Jayawijaya diarahkan dari sekadar tempat membaca dan meminjam buku menjadi ruang publik untuk berkarya, mengembangkan keterampilan, dan memperoleh akses informasi dalam konteks inklusi sosial. Menurutnya, perpustakaan berperan penting meningkatkan minat baca masyarakat dan mengurangi kesenjangan pengetahuan di tengah perkembangan teknologi digital. Di sini, kompetisi dongeng lokal menjadi jembatan: anak datang untuk bercerita, lalu terdorong membaca, menelusuri lebih banyak bahan bacaan, dan mengerti bahwa buku serta cerita rakyat tradisional saling menguatkan. Hadiah tabungan bagi para juara dipakai sebagai motivasi praktis agar anak terus mengembangkan kemampuan membaca, menghafal, dan bercerita. Ini pendekatan yang lebih bermakna dibanding sekadar imbauan abstrak untuk “gemar membaca”.

Dari Lomba ke Gerakan: Mengamankan Warisan Budaya di Tangan Generasi Baru

Pertanyaan pentingnya: apakah kompetisi ini hanya akan berakhir di panggung lomba? Heribertus Mabel menyatakan harapan agar kegiatan dilaksanakan secara berkelanjutan untuk meningkatkan kemampuan anak memahami dan menceritakan sejarah daerah serta menjaga cerita warisan leluhur. Tim juri memilih juara pertama sampai ketiga, sementara peserta terbaik akan mewakili sekolah masing-masing pada tahap berikutnya. Namun nilai terbesarnya bukan pada gelar juara, melainkan pada lahirnya generasi yang merasa bertanggung jawab atas pelestarian warisan budaya. Ketika literasi budaya Papua ditanam lewat pengalaman langsung bercerita, bukan hafalan kering, cerita rakyat tradisional tentang Lembah Baliem tidak hanya disimpan di arsip, tetapi mengalir dalam ingatan kolektif murid-murid. Jika program ini konsisten, Jayawijaya sedang membangun benteng kultural yang kokoh: warisan leluhur diamankan di lidah dan ingatan anak-anak, bukan hanya di rak buku.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!