Perubahan peran yang punya alasan
Rizky Ridho gelandang adalah bek tengah yang dipercaya mengisi ruang di depan pertahanan Persija, menghubungkan lini belakang dengan lini serang, dan tetap siap turun membantu pertahanan sesuai kebutuhan pertandingan. Perubahan ini bukan sekadar eksperimen mendadak: Shin Tae-yong menilai Ridho memiliki kemampuan membaca permainan, menyesuaikan diri dengan ruang, dan bermain di beberapa posisi. Itu membuatnya cocok menjadi opsi taktis, bukan hanya pemain yang dipindahkan demi mengisi kekosongan.
Konteksnya adalah perubahan dari formasi tiga bek yang pada awal musim menempatkan Ridho bersama Radovan Pankov dan Denis Kolinger menjadi skema empat bek. Dalam susunan baru, Pankov dan Kolinger mengisi jantung pertahanan, sedangkan Ridho mendapat kesempatan di tengah—peran yang sebelumnya lebih sering dijalankan Fabio Calonego. Bagi Persija, pergeseran ini memperluas pilihan susunan tanpa mengabaikan kekuatan utama Ridho sebagai pemain bertahan.

Gelandang bertahan dengan tugas ganda
Taktik Persija Jakarta menuntut Ridho lebih dari sekadar memutus serangan lawan. Dari posisi gelandang bertahan Persija, ia juga perlu menjaga jarak antarlini, mengalirkan bola ke depan, dan menentukan kapan harus kembali mengamankan pertahanan. Peran tersebut menuntut keputusan cepat: terlambat menutup ruang bisa membuka jalur serangan lawan, sementara distribusi yang tepat dapat membantu Persija membangun serangan lebih teratur.
Shin Tae-yong Persija memperlihatkan bahwa fleksibilitas pemain dapat menjadi bagian dari rencana, bukan sekadar solusi darurat. Ridho bisa berfungsi sebagai stopper dalam situasi tertentu dan mengisi lini tengah pada kesempatan lain, sesuai kebutuhan tim. Namun, keberhasilan pendekatan ini tidak ditentukan oleh label posisi semata. Ukurannya adalah apakah Ridho mampu membaca perubahan situasi dan menjaga keseimbangan ketika Persija beralih dari bertahan ke menyerang.

Belajar sambil memberi dampak
Ridho mengaku mempelajari cara bermain gelandang-gelandang Eropa agar lebih memahami pergerakan dan tuntutan peran barunya. Ia juga menyatakan siap menjalankan instruksi Shin, termasuk ketika ditempatkan di luar posisi utamanya. Sikap itu penting, tetapi adaptasi tidak selesai hanya dengan kemauan: ia harus menerjemahkan pengamatan tersebut ke dalam pembacaan ruang, pilihan umpan, dan waktu yang tepat untuk membantu serangan.
Gol penentu memberi tanda awal bahwa perpindahan posisi itu bisa menghasilkan kontribusi nyata. Pada 26 Oktober 2026, Ridho mencetak gol penentu kemenangan Persija 2-1 atas Persik Kediri di Jakarta International Stadium. Gol itu bukan bukti bahwa seluruh tuntutan gelandang sudah teratasi, tetapi menunjukkan bahwa peran barunya tidak membatasi ancamannya bagi lawan.

Fleksibilitas yang perlu dijaga
Persija memimpin klasemen sementara dengan 18 poin, unggul empat poin dari Dewa United yang berada di posisi kedua. Catatan itu memberi konteks positif bagi variasi taktik Shin, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa perubahan posisi Ridho menjadi satu-satunya penyebab. Nilai strategisnya lebih jelas: Persija memiliki pemain yang dapat mengisi lebih dari satu fungsi dan membantu tim menyesuaikan bentuk permainan.
Kesimpulannya, pemindahan Ridho dari bek ke gelandang adalah langkah berani yang berlandaskan karakter serbabisa dan memberi Persija pilihan tambahan. Gol penentu melawan Persik menjadi bukti awal dampaknya, sementara proses belajar Ridho masih menjadi bagian penting dari penyesuaian. Jika ia konsisten menjaga keseimbangan antara tugas bertahan dan distribusi bola, peran baru ini dapat menjadi aset taktis—bukan sekadar kejutan susunan pemain.







