Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Investasi Jakarta Tembus Rp249 Triliun, Apakah Kerjanya Terasa?

Investasi Jakarta Tembus Rp249 Triliun, Apakah Kerjanya Terasa?
Minat|Asia Tenggara

Angka besar perlu diuji lewat dampaknya

Investasi Jakarta adalah penanaman modal dari dalam maupun luar negeri yang mendanai kegiatan usaha, infrastruktur, dan layanan ekonomi di ibu kota, dengan dampak yang semestinya terlihat pada pekerjaan dan kesejahteraan warga. Hingga September 2026, realisasi investasi gabungan PMDN dan PMA mencapai Rp249,3 triliun—tertinggi secara nasional, tumbuh 22,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dan menyumbang 16,2 persen dari total nasional. Capaian ini patut diapresiasi, tetapi angka modal saja belum cukup untuk menyimpulkan bahwa manfaatnya tersebar luas. Ukuran yang lebih dekat dengan kehidupan warga adalah apakah proyek membuka pekerjaan yang layak, memberi akses bagi pencari kerja lokal, dan menciptakan peluang yang bertahan setelah pembangunan selesai.

Kepala DPMPTSP DKI Jakarta Heru Hermawanto menyebut penyerapan lebih dari 440 ribu pekerja menunjukkan peran investasi dalam membuka kesempatan kerja dan menggerakkan ekonomi. Klaim itu penting, tetapi sebaiknya dibaca sebagai titik awal evaluasi, bukan bukti lengkap tentang mutu lapangan kerja Jakarta. Total tenaga kerja terserap perlu dilengkapi informasi mengenai jenis pekerjaan, upah, durasi kontrak, dan lokasi manfaatnya agar publik dapat menilai siapa yang memperoleh peluang.

440 ribu pekerja: capaian dan pertanyaan lanjutannya

Angka yang dilaporkan mencapai 440.744 tenaga kerja Indonesia. Dari jumlah tersebut, 322.380 tercatat terserap pada kegiatan usaha dengan sumber modal dalam negeri, sedangkan 118.364 terkait penanaman modal asing. Rincian ini menunjukkan bahwa penyerapan tenaga kerja datang dari kedua sumber investasi. Namun, jumlah pekerja tidak otomatis menjelaskan apakah pekerjaan itu permanen, berupah memadai, atau membutuhkan keterampilan yang dapat digunakan untuk karier jangka panjang.

Karena itu, pemerintah perlu melaporkan hasil investasi dengan ukuran yang lebih berguna bagi warga: pekerjaan baru bersih, bukan sekadar pekerja yang terlibat; kualitas dan lama kerja; serta pelatihan atau alih teknologi yang diterima. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan bahwa manfaat investasi juga harus mencakup penciptaan lapangan kerja, alih teknologi, dan penguatan kapasitas UMKM. Arah tersebut tepat, sebab peluang kerja akan lebih bermakna bila usaha lokal ikut tumbuh dan pekerja memperoleh bekal untuk berkembang.

Sektor investasi menentukan bentuk peluang kerja

Komposisi modal memberi petunjuk tentang sektor yang membentuk kebutuhan tenaga kerja. Transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi menjadi penyumbang investasi terbesar dengan nilai Rp76,3 triliun atau 31 persen dari total. Jasa lainnya mencatat Rp69,3 triliun atau 28 persen, sementara perdagangan dan reparasi mencapai Rp34,3 triliun atau 14 persen. Besarnya modal di sektor-sektor ini dapat menggerakkan aktivitas ekonomi, tetapi manfaat kerja tidak akan merata dengan sendirinya. Pekerjaan berketerampilan tinggi, pekerjaan operasional, dan peluang bagi UMKM memiliki jalur yang berbeda.

Pemprov DKI menyatakan akan memperkuat kolaborasi dengan investor untuk menjaga tren tersebut. Pada 2 November 2026, Pramono menyampaikan komitmen itu dalam acara bersama East Ventures dan Pemerintah Kota Jakarta di Balai Kota. Pemerintah juga membuka peluang investasi pada transportasi terintegrasi, kawasan berorientasi transit, pengelolaan air dan sampah, ketahanan pesisir, kendaraan listrik, kesehatan, pariwisata, serta infrastruktur digital. Arah ini baru bernilai bagi warga jika disertai rencana tenaga kerja yang jelas, termasuk pelatihan dan keterlibatan pelaku usaha lokal.

Ukur hasil, bukan hanya modal

Pertumbuhan ekonomi Jakarta sebesar 5,52 persen pada triwulan II 2026, di atas pertumbuhan nasional 5,29 persen, menjadi latar yang mendukung optimisme terhadap iklim usaha. Namun, iklim investasi yang menarik tidak boleh menjadi tujuan akhir. Pemerintah perlu menghubungkan izin dan insentif dengan pelaporan dampak yang transparan, sementara investor perlu menunjukkan bagaimana proyek mereka menciptakan pekerjaan dan meningkatkan kemampuan pekerja.

Realisasi investasi Rp249,3 triliun dan klaim penyerapan 440.744 tenaga kerja merupakan capaian penting, tetapi belum menjadi ukuran lengkap keberhasilan pembangunan. Penilaian yang adil harus melihat jumlah pekerjaan, kualitasnya, akses warga terhadapnya, serta manfaat bagi UMKM dan keterampilan pekerja. Jika ukuran-ukuran itu dilaporkan secara terbuka, investasi Jakarta dapat dinilai bukan hanya dari besarnya modal yang masuk, melainkan dari peluang hidup yang benar-benar tercipta bagi masyarakat.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!