Revitalisasi Sungai Veteran: Bukan Sekadar Proyek Fisik
Revitalisasi Sungai Veteran Banjarmasin adalah upaya terencana untuk meningkatkan kapasitas sungai, memodernisasi infrastruktur pengendali air, dan menata kawasan sekitarnya guna mengurangi luas genangan banjir serta membangun ketangguhan kota terhadap risiko genangan jangka panjang.
Kementerian PU memperkuat pengendalian banjir perkotaan di Banjarmasin melalui revitalisasi dan peningkatan kapasitas Sungai Veteran, yang dikerjakan lewat program National Urban Flood Resilience Project (NUFReP). Ini bukan proyek kosmetik, melainkan penataan ulang sistem air kota yang selama ini tertinggal dari laju urbanisasi. Komitmen ini diperkuat dengan pernyataan bahwa pembangunan infrastruktur diarahkan untuk memberi manfaat langsung bagi masyarakat, terutama dalam pengendalian banjir dan penataan kawasan perkotaan. Jika proyek ini konsisten dan tepat sasaran, ia berpotensi mengubah wajah pengendalian banjir perkotaan di Sungai Veteran Kalimantan menjadi contoh bagi kota lain.

Angka-Angka Kunci: Dari 358,86 ke 13,69 Hektare
Esensi revitalisasi sungai Banjarmasin ini terletak pada keberanian menetapkan target yang terukur: mengurangi luas genangan dari 358,86 hektare menjadi hanya 13,69 hektare. Target seambisius ini menandakan perubahan pendekatan, dari sekadar merespons banjir menjadi mengendalikan pola aliran air secara sistematis. Menurut Menteri PU Dody Hanggodo, kementerian berkomitmen mengawal pelaksanaan infrastruktur dengan memastikan kualitas, keberlanjutan, dan dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat.
Secara fisik, proyek NUFReP di Sungai Veteran dibagi dalam tiga tahap: tahap I pada ruas Klenteng–Simpang Ulin sepanjang 891 meter yang dilaksanakan pada Tahun Anggaran 2024–2026, tahap II sepanjang 850 meter, dan tahap III sepanjang 1.708 meter. Pembagian bertahap ini penting, namun juga membuka risiko: jika salah satu tahap tersendat, keseluruhan sistem pengendalian banjir perkotaan bisa kehilangan efektivitasnya. Masyarakat layak menuntut konsistensi progres agar angka 13,69 hektare tidak berhenti sebagai target di atas kertas.
Mesin, Pintu Air, dan Drainase: Cara Kota Mengatur Air
Revitalisasi Sungai Veteran bukan hanya pelebaran badan sungai, tetapi juga peningkatan infrastruktur dan kapasitas drainase untuk menangani debit air berlebih. Pada tahap I, pengendalian banjir diperkuat melalui pembangunan pintu air dan rumah pompa di kawasan Sungai Veteran. Di bagian hilir, dibangun dua pintu air dan tiga pompa dengan kapasitas masing-masing 2.500 liter per detik, sementara Sungai Bilu mendapat dua pintu air dan dua pompa mobile berkapasitas 1.000 liter per detik.
Di bagian hulu Sungai Veteran, disiapkan dua pintu air dan dua pompa dengan kapasitas 1.500 liter per detik. Kombinasi ini dirancang untuk meningkatkan kemampuan sistem sungai dalam mengelola aliran air, terutama menghadapi potensi genangan di kawasan perkotaan. Secara teknis, inilah jantung pengendalian banjir perkotaan: tanpa pompa yang andal, pintu air yang disiplin dioperasikan, serta drainase yang terpelihara, pelebaran sungai menjadi 8 meter dengan kedalaman 3,5 meter dari sebelumnya sekitar 1,5 meter hanya akan memberi jeda sementara, bukan solusi berkelanjutan.
Dampak bagi Warga dan Tantangan Mitigasi Banjir Jangka Panjang
Penguatan infrastruktur sumber daya air di Sungai Veteran Kalimantan ini ditujukan untuk melindungi masyarakat dari dampak banjir sekaligus mendukung terciptanya kawasan perkotaan yang lebih tangguh terhadap risiko genangan. Program ini sejalan dengan Sasaran Utama PU608 yang menekankan pembangunan infrastruktur pengendali air yang tangguh, tepat sasaran, dan berdampak pada keselamatan masyarakat serta produktivitas ekonomi. Di tingkat rumah tangga, keberhasilan mitigasi bencana banjir berarti berkurangnya kerusakan rumah, hilangnya hari kerja, dan biaya sosial yang selama ini dianggap “biaya rutin” musim hujan.
Namun revitalisasi sungai Banjarmasin hanya satu sisi koin. Tanpa pengendalian tata ruang, disiplin pengelolaan sampah, dan pengawasan bangunan di sempadan sungai, infrastruktur secanggih apa pun akan kalah oleh kebiasaan. Revitalisasi, normalisasi, dan penataan kawasan yang menyertai proyek ini harus dibaca sebagai undangan perubahan perilaku warga, bukan sekadar proyek teknis. Pengendalian banjir perkotaan yang berhasil selalu lahir dari kombinasi rekayasa teknis dan kedisiplinan sosial; jika salah satu abai, banjir hanya menunggu momentum berikutnya.
Kesimpulan: Sungai Veteran sebagai Barometer Keseriusan Kota
Revitalisasi Sungai Veteran adalah barometer apakah kota siap beralih dari pola reaktif menjadi proaktif dalam mitigasi bencana banjir. Dengan target pengurangan luas genangan menjadi 13,69 hektare dan investasi besar pada pintu air, rumah pompa, serta pelebaran sungai, Kementerian PU telah menempatkan fondasi struktural yang kuat. Pertanyaannya kini bergeser: apakah pemerintah daerah dan masyarakat siap menjaga, mengoperasikan, dan mengawal proyek ini hingga tiga tahap selesai dan berfungsi penuh.
Jika Sungai Veteran dapat menunjukkan bahwa pengendalian banjir perkotaan bisa dilakukan secara terencana, berbasis data, dan berorientasi pada kesejahteraan warga, ia akan menjadi preseden penting bagi kota-kota lain yang bergelut dengan masalah serupa. Sebaliknya, jika proyek terhenti di tengah jalan atau pengelolaan pasca konstruksi diabaikan, kita akan kembali pada pola lama: menunggu banjir berikutnya untuk mengingat bahwa sungai adalah sistem hidup, bukan sekadar saluran air darurat.






