Pendapatan turun, profitabilitas mulai pulih
Kinerja keuangan TOBA menggambarkan perubahan perusahaan yang pendapatan konsolidasinya masih melemah, sementara bisnis infrastruktur berkelanjutan mulai memberi kontribusi lebih besar dan kerugian menyusut. Dalam sembilan bulan pertama 2026, pendapatan turun 11 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, rugi bersih menyusut 72 persen, laba kotor naik 105 persen, dan EBITDA yang disesuaikan tumbuh 39 persen. Perbaikan ini patut dicermati, tetapi belum berarti tantangan selesai: perseroan masih mencatat rugi, sementara pertumbuhan profitabilitas sebagian dipengaruhi oleh faktor pembanding. Pada 2025, TOBA menanggung rugi divestasi pembangkit listrik batu bara yang bersifat tidak berulang dan nonkas; beban itu tidak muncul lagi pada periode ini. Karena itu, angka yang membaik menunjukkan arah pemulihan, bukan alasan untuk mengabaikan tekanan pada pendapatan.

Bisnis limbah menjadi penopang utama
Pertumbuhan bisnis olah limbah memberi bukti paling jelas bahwa transformasi bisnis TOBA mulai mengubah sumber pendapatan, bukan sekadar narasi perusahaan. Segmen ini mencatat pertumbuhan pendapatan 41 persen pada sembilan bulan pertama 2026 dan mengumpulkan 755.990 ton limbah. Secara praktis, layanan tersebut menjangkau lebih dari 470.000 rumah tangga dan pelaku usaha di Indonesia serta Singapura. Dampak operasional berskala besar ini penting karena pengelolaan limbah menyediakan layanan yang digunakan masyarakat dan pelaku usaha, sementara bagi TOBA segmen ini ikut menyeimbangkan penurunan pendapatan konsolidasi. Bersama bisnis kendaraan listrik, pengelolaan limbah menyumbang 66 persen pendapatan konsolidasian dan 71 persen EBITDA yang disesuaikan. Angka itu menegaskan bahwa bisnis berkelanjutan sudah menjadi penopang utama, meski belum cukup untuk mengangkat total pendapatan.
Kendaraan listrik mulai menunjukkan skala
Kendaraan listrik TOBA masih lebih kecil daripada bisnis limbah, tetapi laju pertumbuhannya memperlihatkan potensi yang tidak bisa dinilai hanya dari kontribusinya saat ini. Melalui Electrum, usaha patungan dengan GoTo, pendapatan segmen ini tumbuh 120 persen dan berbalik membukukan laba kotor setelah mencatat rugi kotor pada periode pembanding. Hingga 30 September 2026, lebih dari 14.000 sepeda motor listrik Electrum beroperasi—naik 115 persen dalam setahun—dan penggunanya telah menempuh 244 juta kilometer sepanjang sembilan bulan. Bagi pengguna sehari-hari, skala tersebut menandakan armada yang makin luas di jalan, bukan sekadar proyek uji coba. Meski demikian, pertumbuhan tinggi dari basis yang lebih kecil belum menghapus ketergantungan TOBA pada bisnis lain. Ukuran keberhasilan berikutnya adalah apakah penggunaan dan layanan pendukung terus berkembang secara konsisten.
Transformasi perlu diuji lewat langkah berikutnya
TOBA kini menghadapi ujian yang lebih konkret: menjaga bisnis baru tumbuh sambil mengelola bisnis lama secara disiplin. Perusahaan menargetkan pembangkit listrik tenaga surya terapung berkapasitas 46 MWp mulai beroperasi secara komersial pada kuartal IV/2026. Manajemen juga menyatakan akan memperbesar bisnis infrastruktur berkelanjutan di Indonesia dan kawasan Asia, sembari tetap mengelola bisnis legacy secara disiplin. Arah itu masuk akal, tetapi pasar sebaiknya menilai hasilnya dari pertumbuhan pendapatan berkualitas, arus kas operasional yang konsisten positif, dan kemampuan menekan rugi—bukan hanya dari ekspansi kapasitas. Penyusutan rugi bersih memberi ruang optimisme, sedangkan penurunan pendapatan mengingatkan bahwa transisi belum tuntas. Kesimpulannya, bisnis limbah dan kendaraan listrik telah menjadi penopang nyata bagi TOBA, tetapi keberlanjutan pemulihan tetap bergantung pada kemampuan mengubah momentum tersebut menjadi kinerja yang stabil.






