Dukungan Psikososial Gempa: Lebih dari Sekadar Sembako
Dukungan psikososial gempa adalah rangkaian pendampingan psikologis dan sosial yang diberikan kepada penyintas untuk memulihkan rasa aman, mengurangi trauma, dan membantu mereka kembali menjalani kehidupan sehari-hari dengan fungsi emosional yang lebih stabil, melengkapi bantuan material seperti makanan, tempat tinggal, dan layanan kesehatan dasar. Dibandingkan tumpukan sembako, kehadiran mahasiswa di tenda pengungsian punya dampak yang jauh lebih halus namun menentukan: mereka mengurangi sepi, mengajak bicara, dan memulihkan keberanian. Di Desa Golo Sepang, trauma akibat gempa membuat sebagian warga belum berani kembali ke rumah mereka. Dalam situasi seperti ini, pemberian logistik saja tidak cukup; butuh kedekatan manusiawi yang mampu menyentuh ketakutan yang tidak tampak di laporan kerusakan bangunan. KKN tematik kebencanaan yang dijalankan kampus-kampus bukan pengganti relawan profesional, tetapi penopang emosional yang sering menjadi titik awal pemulihan mental bencana.

Undiknas: KKN Kebencanaan sebagai Laboratorium Empati
Puluhan mahasiswa Undiknas datang ke Desa Golo Sepang bukan membawa pidato, melainkan permainan, senam, dan dialog hangat yang terstruktur. Melalui Kuliah Kerja Nyata Tematik Kebencanaan, mereka mengajak anak-anak bermain, berolahraga, belajar menghadapi bencana, dan mengikuti trauma healing dalam kegiatan tiga hari, 20–22 September 2026, yang menyasar ratusan siswa sekolah dasar dan puluhan lansia terdampak gempa 15 Agustus. Di sela intervensi psikososial, ratusan paket sembako dan obat-obatan tetap disalurkan agar kebutuhan dasar tidak diabaikan. Namun pesan pentingnya jelas: fokus utama kegiatan adalah membantu menyembuhkan rasa trauma dengan trauma healing dan aktivitas seru seperti games, senam, dan sosialisasi langkah menghadapi kebencanaan. KKN tematik ini menjadikan desa terdampak sebagai laboratorium empati, di mana mahasiswa mempraktikkan pendampingan psikologis korban sambil belajar bahwa kegembiraan sederhana bisa menjadi intervensi mental yang efektif.
Untag dan UGM: Trauma Healing Mahasiswa yang Terstruktur
Jika Undiknas menyalakan kembali tawa anak-anak di Manggarai Barat, Untag Surabaya dan UGM memperpanjang ikhtiar itu ke Manggarai Timur dan wilayah lain dengan pendekatan lebih sistematis. Sebanyak 11 mahasiswa Untag diberangkatkan ke Kabupaten Manggarai Timur selama 23 September hingga 7 Oktober 2026 untuk membantu perbaikan infrastruktur, pendampingan pendidikan, serta dukungan psikososial dan trauma healing bagi anak-anak. Program ini dikonversikan sebagai KKN 2 SKS dan sekaligus menjadi sumber data penelitian pengembangan intervensi trauma ke depan. Tim KKN UGM, mulai 23 September, menyiapkan layanan dukungan psikososial bagi warga terdampak gempa di Kabupaten Manggarai, dengan turun langsung mendengarkan keluhan, mengidentifikasi warga yang membutuhkan perhatian lanjutan, dan menyesuaikan bentuk pendampingan dengan kebutuhan penyintas, termasuk anak-anak. Trauma healing mahasiswa di sini bukan kegiatan seremonial, melainkan bagian dari pemulihan mental bencana yang dirancang jangka panjang: intervensi lapangan menghasilkan pengetahuan yang kemudian kembali memperkuat praktik.
Peran Aparat dan Ekosistem Pendampingan Psikologis Korban
Mahasiswa bukan satu-satunya yang mengisi ruang dukungan psikososial gempa; aparat keamanan ikut turun tangan menciptakan suasana yang lebih aman bagi anak-anak. Melalui sebuah operasi penanganan darurat, personel lalu lintas di Ngada mengadakan trauma healing bagi siswa SD Negeri Rada, menggunakan pendekatan humanis: bernyanyi bersama, memberi motivasi, membagikan alat tulis, hingga mengajak anak-anak berkeliling kota dengan kendaraan dinas. Langkah ini terbukti efektif mengembalikan keceriaan dan membantu anak-anak melupakan trauma akibat gempa. Pendampingan psikologis korban juga dilakukan dengan membersihkan puing-puing di area sekolah agar proses belajar mengajar segera pulih. Di sisi lain, laporan lapangan menunjukkan bahwa rasa khawatir, perubahan rutinitas, dan kondisi pengungsian memengaruhi kehidupan warga setelah gempa. Ketika mahasiswa, tenaga kesehatan, dan aparat hadir bersama di ruang yang sama, penyintas tidak sekadar menerima bantuan; mereka merasakan bahwa ketakutan mereka diakui dan direspons.
Mengapa Mahasiswa Harus Terus di Garis Depan Pemulihan Mental
Gempa berkekuatan M 7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus dan gempa susulan M 5,3 pada 21 September menggambarkan bahwa bencana tidak berhenti pada satu getaran. Trauma warga juga tidak berhenti ketika rumah kembali berdiri. Pendampingan psikososial yang dilakukan mahasiswa—dari permainan anak, sesi mendengar keluhan, hingga edukasi kesiapsiagaan—menjadi bagian dari proses pemulihan yang melihat korban sebagai manusia utuh, bukan penerima bantuan pasif. Program KKN tematik yang dikonversikan ke SKS dan dimanfaatkan sebagai sumber data penelitian menunjukkan bahwa kampus sudah mulai serius memposisikan pemulihan mental bencana sebagai bidang pengetahuan yang sah. Ini langkah yang patut dijaga dan diperluas. Mahasiswa membawa energi, waktu, dan kepekaan sosial yang sering hilang dalam birokrasi penanggulangan bencana. Selama mereka dibekali pelatihan memadai dan didampingi tenaga profesional, menempatkan mahasiswa di garis depan trauma healing bukan sekadar idealisme, melainkan strategi realistis untuk memulihkan komunitas yang terguncang.






