Desaku Maju: Strategi Menggerakkan Ekonomi dari Desa ke Pasar Global
Program Desaku Maju adalah kebijakan pembangunan berbasis desa yang menjadikan BUMDes Lampung sebagai penggerak utama ekonomi desa melalui hilirisasi komoditas lokal, penguatan kapasitas pelaku usaha desa, dan integrasi ke rantai pasok desa yang menyasar pasar domestik maupun ekspor dengan orientasi pemerataan kesejahteraan masyarakat desa.
Gubernur Rahmat Mirzani Djausal menegaskan bahwa pembangunan Lampung harus dimulai dari desa karena mayoritas penduduk tinggal di wilayah perdesaan. Ini bukan sekadar slogan; dia memposisikan penguatan ekonomi desa sebagai jantung strategi pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan. Dalam pandangan ini, desa bukan lagi obyek bantuan, melainkan produsen nilai tambah. Program Desaku Maju pun secara eksplisit diproyeksikan sebagai instrumen strategis untuk memperkuat kemandirian ekonomi desa, meningkatkan nilai tambah komoditas lokal, dan memperluas pemerataan kesejahteraan. Pilihan politik ini jelas: jika ekonomi desa bergerak, maka pertumbuhan provinsi akan mengikuti.
Mengapa BUMDes Lampung Dipasang Sebagai Mesin Nilai Tambah
Kekuatan utama Lampung adalah sumber daya primer dengan nilai ekonomi mencapai Rp165,31 triliun, namun hilirisasi baru 45,6 persen. Angka ini adalah alarm keras: sebagian besar nilai tambah masih bocor keluar desa. Alih-alih puas sebagai penjual padi, jagung, kopi, atau sapi mentah, pemerintah ingin BUMDes menjadi simpul pengolahan di tingkat desa. Gubernur mencontohkan jagung yang semestinya bisa diolah menjadi pakan ternak, sehingga pendapatan tidak berhenti di panen.
Di sini posisi BUMDes Lampung menjadi sangat politis: merebut kembali nilai tambah yang selama ini dinikmati rantai pasok di luar desa. BUMDes diharapkan mengelola usaha produktif, mengolah potensi sumber daya desa, dan membangun kerja sama dengan lembaga ekonomi lain. Pemerintah tidak hanya bicara konsep; 168 pengelola BUMDes mengikuti Bimbingan Teknis Peningkatan Kapasitas dalam dua angkatan yang berlangsung 21–23 dan 24–26 September 2026. Peningkatan kapasitas ini dirancang agar BUMDes mampu menciptakan lapangan usaha, memperkuat rantai produksi lokal, dan menjaga perputaran ekonomi tetap dinikmati warga desa.
Program Desaku Maju sebagai Instrumen Ekonomi Desa yang Terukur
Program Desaku Maju tidak berhenti pada pelatihan manajer BUMDes; ia dirancang dengan fokus yang operasional. Program ini menarget peningkatan produksi dan produktivitas sumber daya manusia, hilirisasi dan peningkatan nilai tambah produksi, penguatan kemandirian desa, serta pengembangan kerja sama antarlembaga ekonomi di desa. Dengan kerangka seperti ini, ekonomi desa bukan lagi ruang informal yang dibiarkan, melainkan ekosistem yang dikelola dengan indikator jelas: produktivitas, pendapatan, daya beli, dan aktivitas ekonomi lokal.
Pandangan ini diperkuat dengan pengaitan Desaku Maju ke program prioritas nasional seperti Makan Bergizi Gratis. BUMDes diberi peluang mengambil peran dalam penyediaan bahan pangan lokal dan penguatan rantai pasok desa sesuai standar yang ditetapkan. Artinya, desa tidak hanya memproduksi untuk pasar abstrak, tetapi diarahkan memenuhi permintaan program nyata yang butuh suplai terukur. Jika ini dijalankan konsisten, BUMDes Lampung berpotensi menjadi tulang punggung ekonomi desa yang stabil sekaligus pemasok kebutuhan program publik.
Dari Desa ke Pasar Ekspor: Membangun Rantai Pasok Desa yang Terhubung
Langkah berani Pemprov Lampung adalah menempatkan desa sebagai bagian dari rantai pasok ekspor, bukan sekadar pemasok bahan mentah. Strategi pengembangan potensi desa berorientasi ekspor disusun untuk mendorong produk unggulan daerah memiliki nilai tambah, daya saing, dan akses pasar yang lebih luas. Ini menunjukkan perubahan cara pandang: produk ekspor desa diperlakukan sebagai aset strategis, bukan bonus sampingan.
Agenda pertama adalah pemetaan komoditas secara menyeluruh: ketersediaan dan kontinuitas bahan baku, pelaku usaha, kapasitas produksi, fasilitas pendukung, kesiapan pengolahan, standar mutu, hingga peluang pasar. Pendampingan dilakukan oleh perangkat daerah dari tahap pemetaan, peningkatan mutu, sertifikasi, pengolahan, pengemasan, sampai kesiapan memenuhi persyaratan pasar. Di dalam rantai pasok desa ini, BUMDes, koperasi desa, kelompok usaha, UMKM, pelaku pengolahan, eksportir, dan mitra usaha dihubungkan sebagai satu ekosistem. Sinergi lintas perangkat daerah ditugaskan membantu desa mengatasi kendala pengembangan produk dan berkoordinasi dengan calon pembeli sehingga pengembangan produk sesuai kebutuhan pasar.

Kemandirian Ekonomi Desa: Peluang Besar, Risiko Nyata
Jika dilihat dari desainnya, kombinasi Program Desaku Maju dan strategi ekspor dapat menjadi titik balik ekonomi desa Lampung. Upaya ini diharapkan meningkatkan nilai tambah produk desa, memperluas akses pasar, dan membuka peluang ekonomi lebih besar bagi masyarakat perdesaan. Namun keberhasilan tidak otomatis; tantangan kemiskinan yang relatif tinggi dan keterbatasan hilirisasi menunjukkan betapa berat pekerjaan rumah yang ada.
Kunci utamanya adalah konsistensi: menjaga agar nilai tambah benar-benar bertahan di desa dan tidak kembali tersedot ke luar rantai lokal. Sinergi yang dirancang—melibatkan pemerintah kabupaten/kota, BUMDes, pelaku UMKM, eksportir, dan mitra usaha sebagai bagian rantai pasok desa—harus dijalankan tanpa menjadikan desa sekadar pemasok murah bagi pemain besar. Jika BUMDes Lampung mampu berdiri sebagai lembaga ekonomi desa yang mandiri, transparan, dan berdaya tawar, maka strategi ini layak disebut mesin pertumbuhan ekonomi desa, bukan hanya program baru dengan nama yang menarik.






