Kolaborasi sebagai Inti Strategi Bisnis Sandiaga Uno
Strategi bisnis kolaborasi yang menekankan sinergi antarpelaku usaha, penguatan kualitas SDM, dan pembentukan super team merupakan pendekatan yang memadukan jaringan, kepercayaan, dan kepemimpinan untuk menarik investor bisnis sekaligus mempercepat pertumbuhan usaha di tengah tekanan ekonomi dan persaingan pasar yang makin kompleks. Masuknya Sandiaga Salahuddin Uno ke jajaran manajemen PT Mutuagung Lestari Tbk. (MUTU) sebagai Presiden Komisaris untuk periode 2026–2029 menunjukkan bahwa kolaborasi bukan slogan, melainkan langkah taktis untuk mengakselerasi bisnis pengujian, inspeksi, dan sertifikasi yang sedang mencari bahan bakar baru untuk tumbuh lebih cepat. Penetapan dalam RUPS pada 24 Agustus 2026 menjadi sinyal jelas bahwa dunia usaha melihat nilai strategis pada kombinasi pengalaman publik dan kecakapan membangun jejaring.

MUTU dan Sertifikasi sebagai Pintu Ekonomi Hijau
Masuknya Sandiaga ke MUTU layak dibaca sebagai langkah memposisikan sertifikasi dan standar sebagai fondasi akselerasi ekonomi hijau. Perusahaan ini bergerak di jasa pengujian, inspeksi, dan sertifikasi, tiga pilar yang menentukan apakah rantai pasok bisnis selaras dengan tuntutan keberlanjutan. Ketika investor mengukur risiko, keberadaan standar dan sertifikasi kredibel menjadi pengurang ketidakpastian, sehingga memudahkan proses menarik investor bisnis yang sensitif terhadap isu lingkungan dan tata kelola. Penetapan Sandiaga sebagai Presiden Komisaris untuk periode panjang hingga 2029 menunjukkan komitmen jangka menengah terhadap transformasi bisnis berbasis kepatuhan dan kualitas. Bagi UMKM dan startup, ini menyiratkan bahwa permainan baru bukan sekadar jual produk, tetapi membangun kepercayaan lewat sertifikasi yang jelas, audit yang transparan, dan narasi keberlanjutan yang bisa diuji, bukan sekadar diklaim.
JEC 2026: Kolaborasi Lintas Batas untuk Pertumbuhan UMKM
Di panggung JEC 2026, Sandiaga berbicara dalam sebuah ekosistem yang dirancang khusus untuk membuka akses pendanaan bagi pengusaha dan UMKM melalui program Business Matching. Gelaran yang berlangsung 3–6 September 2026 di JICC Senayan ini mengusung tema “Beyond Border, Let’s Go Together”, pesan eksplisit bahwa strategi bisnis kolaborasi lintas batas adalah syarat naik kelas. Acara ini diinisiasi komunitas pengusaha bekerja sama dengan ekosistem bisnis Korea Selatan, JIPREMIUM, dan Korea International Trade Association (KITA), memperlihatkan bagaimana kolaborasi konkret dijalankan melalui jejaring internasional. Dengan target 1.000 peserta konferensi dan 15.000 pengunjung expo, JEC 2026 memposisikan diri sebagai “Most Connected International Business Growth Platform” yang bukan hanya memberi inspirasi, tetapi memastikan peserta pulang membawa strategi yang bisa dijalankan, koneksi relevan, dan peluang nyata yang dapat ditindaklanjuti.
Super Team dan SDM Unggul sebagai Magnet Investor
Di balik business matching, klinik bisnis, dan program International Collab yang membuka ekspansi pasar antara pelaku usaha lokal dan Korea Selatan, pesan penting Sandiaga adalah bahwa investor kini menilai lebih dari sekadar laporan keuangan. Super team dengan kualitas SDM yang solid menjadi faktor penentu. Ketika UMKM datang ke JEC 2026, mereka tidak hanya bertemu calon pemberi dana, tetapi juga menguji kesiapan tim: apakah mereka mampu menjalankan strategi, mengelola tata kelola, dan bertumbuh konsisten. Fasilitas Business Clinic dan Growth Expo membantu pemilik usaha mengasah kepemimpinan super team, memperbaiki proses, serta memetakan peluang skala usaha. Di era ekonomi digital, narasi pertumbuhan UMKM bergeser dari “siapa produknya” ke “siapa timnya”. Investor yang hadir dalam ekosistem seperti JEC 2026 mencari kombinasi tim tangguh, proses rapi, dan jejaring kolaborasi yang aktif.
Pelajaran bagi Pengusaha: Bangun Kolaborasi, Bukan Sekadar Pitch Deck
Ada pelajaran praktis dari langkah Sandiaga di MUTU dan panggung JEC 2026: pengusaha tidak bisa lagi mengandalkan presentasi manis tanpa fondasi kolaborasi dan tim yang kuat. Keikutsertaannya di perusahaan sertifikasi memperlihatkan pentingnya kepatuhan standar dalam menarik investor jangka panjang, sementara kehadirannya di event yang menargetkan ribuan peserta dan puluhan ribu pengunjung menunjukkan bahwa skala dampak berasal dari kerja bersama, bukan kerja sendirian. Bagi UMKM dan startup yang ingin scale-up, prioritas mestinya beralih ke tiga hal: membangun jaringan kolaborasi, memperkuat kualitas SDM, dan menanamkan budaya super team yang mampu mengelola pertumbuhan. Program seperti Business Matching, Business Clinic, dan International Collab menjadi ruang latihan dan uji nyali, tempat pengusaha membuktikan bahwa mereka siap bukan hanya menerima dana, tetapi memanfaatkannya secara disiplin demi pertumbuhan yang berkelanjutan.






