Sandiaga Uno Pimpin Forum Kewirausahaan Hijau untuk UMKM

Sandiaga Uno Pimpin Forum Kewirausahaan Hijau untuk UMKM
Minat|Asia Tenggara

Ekonomi hijau sebagai lokomotif baru: dari kampus ke ruang bisnis

Ekonomi hijau Indonesia adalah pendekatan pembangunan yang menggabungkan pertumbuhan bisnis dengan perlindungan lingkungan dan keadilan sosial, sehingga setiap aktivitas usaha diarahkan untuk mengurangi emisi, menghemat sumber daya, dan menciptakan lapangan kerja yang berkelanjutan bagi generasi sekarang dan mendatang. Di sinilah pentingnya forum kewirausahaan yang dipimpin Sandiaga Uno: ia bukan sekadar agenda seremoni, tetapi upaya mengarahkan ulang cara kita memaknai bisnis. Di satu sisi, International Forum for Entrepreneurship Educators (IFEE) di Universitas Paramadina membentuk pola pikir kewirausahaan berkelanjutan di ruang akademik. Di sisi lain, MUTU Greenomics Festival menjadi jembatan langsung antara pelaku usaha, regulator, dan investor untuk mengubah narasi hijau menjadi peluang ekonomi konkret.

Sandiaga Uno Pimpin Forum Kewirausahaan Hijau untuk UMKM

IFEE Paramadina: mengglokalkan kewirausahaan berkelanjutan

IFEE yang digelar oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis serta Departemen Manajemen Universitas Paramadina pada Rabu, 19 Agustus 2026, mengangkat tema “Glocalizing Entrepreneurship Education: Cultivating Mindsets for a Sustainable Future”. Ini bukan sekadar konferensi akademik; forum ini jelas berpihak pada agenda kewirausahaan berkelanjutan dengan menempatkan isu sosial dan lingkungan sebagai mata kuliah wajib dalam cara berpikir calon entrepreneur. Rektor menegaskan bahwa kurikulum tidak cukup hanya mengajarkan kemampuan bisnis, tetapi harus membentuk sensitivitas terhadap persoalan sosial dan lingkungan.

Sandiaga Uno mendorong pendekatan glocal: tren global harus disaring melalui potensi dan kearifan lokal agar tercipta lapangan kerja dan ketahanan ekonomi. Forum ini terbuka gratis untuk umum, terutama guru dan dosen, lengkap dengan sertifikat dan informasi beasiswa. Keputusan itu jelas politis: menjadikan pendidik sebagai garda depan transformasi ekonomi hijau Indonesia dan menanamkan ide UMKM ekonomi hijau sejak bangku kuliah.

MUTU Greenomics Festival: standar, sertifikasi, dan peluang baru

Jika IFEE membentuk pola pikir, MUTU Greenomics Festival menguji seberapa jauh ide itu bisa dieksekusi. Diselenggarakan PT Mutuagung Lestari Tbk pada 24 Agustus 2026 di Menara Hijau, Jakarta, konferensi nasional ini dirancang untuk mempercepat transformasi ekonomi hijau Indonesia melalui kolaborasi lintas pemangku kepentingan. Forum tingkat tinggi ini mempertemukan pemerintah, pemimpin industri, investor global, dan inovator teknologi untuk memetakan peluang konkret dari bursa karbon, green finance, dan transisi energi bersih.

Di sinilah sertifikasi keberlanjutan bisnis menjadi kata kunci. Perseroan menilai greenomics harus ditopang standar ber-MUTU, akuntabilitas tinggi, regulasi transparan, dan eksekusi yang berdampak nyata. Tanpa standar dan sertifikasi yang kredibel, ekonomi hijau Indonesia berisiko dianggap kosmetik dan tidak siap menghadapi hambatan perdagangan berbasis emisi di pasar global. Forum ini, yang juga dihadiri Sandiaga Uno sebagai Chairman dan menghadirkan banyak tokoh lintas sektor, diarahkan untuk menjembatani kebijakan dengan eksekusi sektor swasta dan mengubah agenda hijau menjadi peluang ekonomi konkret.

Sandiaga Uno Pimpin Forum Kewirausahaan Hijau untuk UMKM

Sandiaga Uno dan UMKM: ekonomi hijau harus inklusif

Posisi Sandiaga Uno dalam kedua forum ini konsisten: ekonomi hijau harus menjadi lokomotif pertumbuhan bisnis, bukan ruang eksklusif bagi korporasi besar. Dalam RUPSLB PT Mutuagung Lestari dan MUTU Greenomics Festival di Menara Hijau, ia menegaskan bahwa pelaku UMKM dan masyarakat harus menjadi bagian penting dalam pengembangan ekonomi hijau nasional. Ia mengingatkan, hampir 64 juta UMKM menyumbang sekitar 62 persen PDB dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja. Mengabaikan mereka berarti mengabaikan tulang punggung ekonomi.

Sandiaga secara eksplisit mendorong agar prinsip ekonomi hijau diterapkan secara inklusif agar memberi dampak luas bagi perekonomian. Layanan sertifikasi, pengujian, dan inspeksi yang dimiliki MUTU ia lihat sebagai instrumen penting agar pelaku usaha naik kelas dan menembus pasar global. Di sini, UMKM ekonomi hijau tidak cukup diajak menanam pohon atau mengurangi plastik; mereka perlu ditopang oleh sertifikasi keberlanjutan bisnis yang diakui pasar, sehingga nilai tambah hijau mereka terbaca oleh pembeli dan investor.

Ekosistem terintegrasi: dari wacana ke perubahan nyata

Penguatan ekonomi hijau Indonesia tidak akan lahir dari satu konferensi atau satu regulasi. Ia membutuhkan ekosistem terintegrasi yang menghubungkan standar keberlanjutan, sertifikasi, pembiayaan, pendidikan, dan akses pasar bagi pelaku usaha. Forum seperti MUTU Greenomics dirancang sebagai platform kolaboratif lintas pemangku kepentingan, dari pemerintah, bisnis besar, investor global hingga inovator teknologi, untuk menyamakan peta jalan menuju Net Zero Emission yang tetap inklusif dan berdaya saing.

Namun, kita tidak boleh menutup mata terhadap sisi lemahnya: akselerasi ekonomi hijau masih membutuhkan kepastian regulasi dan standar integritas yang kuat agar pertumbuhan tetap kredibel dan berkelanjutan. Tanpa itu, sertifikasi hanyalah kertas, bukan paspor masuk ke pasar global. IFEE dan MUTU Greenomics menunjukkan kerangka besar: pendidikan kewirausahaan berkelanjutan di hulu, UMKM ekonomi hijau di tengah, dan sertifikasi keberlanjutan bisnis sebagai jembatan ke hilir. Tantangannya sekarang adalah konsistensi: apakah negara, kampus, perusahaan, dan UMKM siap menjadikan ekonomi hijau bukan slogan, melainkan strategi utama pembangunan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!