Stunting Naik Meski Dana Besar: Masalahnya Bukan di Anggaran
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis, penyakit berulang, dan pengasuhan yang tidak memadai, yang menyebabkan tinggi badan anak tidak sesuai usianya sekaligus mengganggu perkembangan otak, metabolisme, dan kualitas hidupnya di masa depan. Di Kota Batu, prevalensi stunting kembali meningkat menjadi 12,75 persen pada bulan timbang Agustus 2026 meski program Percepatan Pencegahan dan Penurunan Stunting (P3S) mendapat alokasi Rp 1,72 miliar sepanjang tahun ini. Sebanyak 1.260 anak dari 9.880 yang diukur terdeteksi mengalami stunting pada periode tersebut. Fakta ini menampar logika lama bahwa menambah anggaran otomatis berarti menurunkan kasus stunting. Jika angka tetap naik, yang perlu dipertanyakan bukan sekadar besaran dana, tetapi ketepatan sasaran dan kualitas pencegahan stunting anak sejak dini. Tanpa pembacaan data yang jernih, program penurunan stunting cenderung berhenti di kegiatan seremonial dan distribusi bantuan yang tak mengubah tren.

Data Stunting Akurat: Ketika Kenaikan Angka Justru Pertanda Kemajuan
Banyak pihak kaget ketika prevalensi stunting di Batu naik dari sekitar 10 persen menjadi 12,75 persen pada 2026. Namun lonjakan ini tidak otomatis berarti penanganan memburuk. Pemerintah daerah memperluas pendataan melalui Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) dan aplikasi kesehatan daerah, melibatkan tenaga medis serta relawan yang menyisir sampai tingkat masyarakat. Dengan cakupan yang lebih luas dan metode lebih rapi, kasus yang sebelumnya tersembunyi mulai muncul. Seperti disampaikan Sekda Alfi Nurhidayat, akurasi data meningkat karena tim berani membuka kondisi riil, bukan mengejar pencitraan. Dalam konteks pencegahan stunting anak, kejujuran data jauh lebih berharga daripada angka cantik di laporan. Data stunting akurat memberi peta jelas: di mana kantong kasus berat, siapa anak dan keluarga yang paling butuh intervensi, dan aspek mana yang gagal dijangkau program.
Memetakan Faktor Spesifik dan Sensitif: Tanpa Diagnosis Tepat, Intervensi Mubazir
Angka 12,75 persen tidak akan turun bila stunting diperlakukan sebagai masalah tunggal yang disapu dengan satu jenis bantuan. Dinas kesehatan Kota Batu mulai memetakan penyebab berdasarkan usia, riwayat pertumbuhan, kondisi kesehatan, serta faktor yang memengaruhi tumbuh kembang anak. Penyebab dibagi dua: faktor spesifik dan faktor sensitif. Faktor spesifik menyangkut kondisi medis, penyakit penyerta, atau kebutuhan gizi khusus yang menuntut rujukan ke dokter spesialis dan pemberian pangan olahan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK) bagi anak yang sudah terkena stunting. Faktor sensitif berkaitan dengan pola asuh, lingkungan, riwayat infeksi berulang, dan asupan gizi harian yang tidak sesuai kebutuhan. Pendekatan ini penting: tanpa diagnosis jelas apakah masalah utama ada di penyakit, makanan, atau pengasuhan, pencegahan stunting anak akan bergantung pada tebakan. Pemetaan faktor ini adalah fondasi agar setiap rupiah anggaran mengarah ke titik yang memang menghambat pertumbuhan anak.
Fokus ke Anak Berisiko Tinggi dan Intervensi Lintas Sektor
Kenaikan prevalensi seharusnya menjadi alarm untuk mengubah strategi: bukan memperluas kegiatan umum, tetapi memusatkan daya pada stunting balita risiko tinggi. Anak di bawah dua tahun yang pertambahan tinggi badannya tidak sesuai harapan segera diperiksa dokter spesialis anak, dan bagi yang berisiko diberi Pangan Diet Khusus (PDK). Ibu hamil dengan kurang energi kronis dan ibu menyusui bayi dengan berat lahir rendah juga menjadi sasaran intervensi. Ketua komisi DPRD menegaskan perlunya fokus yang lebih kuat pada anak berisiko stunting dan pemantauan berkelanjutan, bukan sekadar penyaluran bantuan sekali datang. Di sisi lain, pemerintah kota menegaskan bahwa masalah ini tidak mungkin selesai oleh dinas kesehatan saja: dibutuhkan intervensi stunting lintas sektor yang melibatkan perangkat daerah, desa, kelurahan, kecamatan, dan masyarakat agar upaya berjalan terpadu menuju zero stunting.
Edukasi Pola Asuh dan Susu Medis: Menjahit Layanan menjadi Penanganan Komprehensif
Stunting bukan sekadar soal susu dan makanan tambahan, namun tanpa komponen ini, banyak anak akan tertinggal. Untuk anak yang sudah stunting, pemerintah memberikan susu pangan olahan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK) atas rekomendasi dokter spesialis anak. Pada saat yang sama, orang tua dan wali dibimbing memperbaiki pola pengasuhan dan pemenuhan kebutuhan anak, termasuk edukasi pola makan melalui posyandu, penyuluhan pemberian makanan tambahan (PMT), dan kelas Pos Gizi Penanganan Stunting (Pozting) di beberapa desa fokus program penurunan stunting. Pendekatan ini menggabungkan intervensi spesifik (PKMK, PDK, rujukan medis) dan intervensi sensitif (edukasi gizi, perbaikan lingkungan) dalam satu rangkaian pencegahan stunting anak. Di sinilah data stunting akurat menjadi penting: tanpa tahu keluarga mana yang paling butuh, edukasi dan susu medis berisiko berputar di kelompok yang sama, sementara anak lain tetap luput dari jangkauan.






