Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari TPA ke Pembangkit: Logika Baru PSEL di Kota-Kota

Dari TPA ke Pembangkit: Logika Baru PSEL di Kota-Kota
Minat|Asia Tenggara

Pembangkit listrik sampah: solusi ganda yang menuntut disiplin

Pembangkit listrik sampah adalah fasilitas pengolahan sampah energi yang membakar dan mengolah sampah kota secara terkendali untuk menghasilkan listrik, sekaligus mengurangi volume timbunan di tempat pembuangan akhir, sehingga fungsi TPA bergeser dari sekadar lokasi penimbunan menjadi bagian dari sistem energi kota yang terintegrasi dan terukur dalam pasokan sampah harian. PSEL Palembang memperlihatkan bahwa konsep ini tidak lagi sekadar wacana: dengan pasokan sekitar 1.100 ton sampah per hari selama 10 hari berturut-turut, fasilitas di Kramasan sudah mampu menyalurkan listrik 17,7 MW ke jaringan PLN. Fakta tersebut menunjukkan pembangkit listrik sampah bisa beroperasi stabil bila kota memperlakukan sampah sebagai komoditas energi, bukan hanya beban lingkungan.

Dari TPA ke Pembangkit: Logika Baru PSEL di Kota-Kota

Palembang: ketika pasokan sampah harian konsisten, listrik mengalir

PSEL operasional di Palembang menjadi contoh paling konkret bagaimana konsistensi pasokan sampah harian menentukan keberhasilan pengolahan sampah energi. Dalam kunjungan terbarunya, Wali Kota meninjau tahapan pembakaran dan pengolahan sampah untuk memastikan kesiapan operasional setelah fasilitas memasuki fase kritis tersebut. Selama 10 hari terakhir, sekitar 1.100 ton sampah per hari mengalir stabil ke PSEL Kramasan dan menghasilkan daya 17,7 MW yang masuk ke jaringan PLN. Pernyataan "PSEL Kramasan Palembang sudah mampu menghasilkan 17,7 MW dari 1.100 ton sampah yang disalurkan 10 hari terakhir" layak dibaca sebagai penanda bahwa pembangkit listrik sampah sudah bisa disejajarkan dengan pembangkit konvensional dalam hal reliabilitas keluaran energi. Di balik angka itu ada kerja logistik: pengaturan armada, ritase truk, dan koordinasi erat antara dinas lingkungan hidup dan pengelola PSEL untuk menjaga aliran sampah tetap stabil.

Serang Raya: pasokan 1.161 ton dan tekanan penalti kontraktual

Berbeda dengan Palembang yang sudah membuktikan kestabilan PSEL operasional, PSEL Serang Raya justru sedang bergulat dengan prasyarat berat: kewajiban memasok 1.161 ton sampah per hari. Pemerintah kota menolak terburu-buru menandatangani kerja sama karena volume tersebut harus dijamin pemerintah daerah, lengkap dengan ancaman penalti jika pasokan tidak terpenuhi. Kepala Dinas Lingkungan Hidup menegaskan bahwa kemampuan memenuhi pasokan sampah harus dihitung matang sebelum perjanjian diteken, sekaligus memikirkan langkah-langkah agar tidak terkena penalti. Ini mengungkap sisi lain pembangkit listrik sampah: begitu kota masuk ke skema proyek nasional, sampah bukan lagi masalah yang boleh dibiarkan mengalir secara acak, melainkan kewajiban kontraktual dengan konsekuensi finansial. Serang juga menyadari bahwa problemnya bukan sekadar ketersediaan sampah, tetapi kemampuan armada mengangkut sampah ke TPAS Cilowong sesuai kebutuhan PSEL.

Rantai pasokan, commissioning, dan risiko yang disangkal kota

Dua pengalaman kota tersebut menegaskan satu hal: pembangkit listrik sampah hanya bekerja bila rantai pasokan sampah dirancang seteliti rantai pasokan bahan bakar pembangkit lain. Di Palembang, tahapan commissioning—mulai dari uji pembakaran hingga pengolahan sampah—dipantau langsung kepala daerah untuk memastikan bahwa pasokan tetap konsisten sehingga listrik yang dihasilkan benar-benar grid-ready. Konsistensi pasokan mengizinkan fasilitas menjalankan proses pembakaran sesuai kapasitas yang direncanakan. Di Serang, pemerintah kota bahkan harus mengantisipasi skenario gangguan pasokan karena kekurangan volume sampah bisa mengganggu operasional PSEL dan memicu penalti bagi daerah. Penambahan armada direncanakan bertahap dua tahun, yang artinya kota sedang membangun sistem logistik baru demi memenuhi kewajiban 1.161 ton per hari. Ini bukan lagi urusan tong sampah dan truk, melainkan desain ulang sistem persampahan kota agar kompatibel dengan logika pembangkit energi.

Mengapa kota harus berani mengelola sampah seperti energi

Pelajaran utama dari PSEL Palembang dan rencana PSEL Serang Raya adalah jelas: kota yang ingin keluar dari krisis TPA harus berani mengelola sampah seperti komoditas energi, dengan segala disiplin teknis dan kontraktualnya. Palembang menunjukkan bahwa ketika pengolahan sampah energi didukung pasokan sampah harian yang stabil, pembangkit bisa memberi kontribusi nyata bagi keamanan energi sekaligus mengurangi beban TPA. Serang, dengan kehati-hatian membaca setiap pasal perjanjian dan menghitung kemampuan daerah sebelum menyepakati kerja sama, mengingatkan bahwa kegagalan mengelola risiko pasokan berarti membuka pintu penalti dan gangguan operasional. Kota-kota yang akan menyusul harus mengambil sikap: berhenti melihat PSEL sebagai proyek teknis yang berjalan sendiri, dan mulai menjadikannya pusat tata kelola sampah kota. Tanpa komitmen pada logistik, data produksi sampah, dan koordinasi lintas dinas, pembangkit listrik sampah hanya akan menambah daftar fasilitas mangkrak—bukan mengubah TPA menjadi aset energi.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!