Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Fondasi Ekonomi Tetap Kokoh di Tengah Fragmentasi Global

Fondasi Ekonomi Tetap Kokoh di Tengah Fragmentasi Global
Minat|Asia Tenggara

Ketahanan Ekonomi Indonesia: Bukan Sekadar Bertahan, Tapi Tetap Tumbuh

Ketahanan ekonomi Indonesia adalah kemampuan perekonomian nasional untuk menjaga stabilitas dan melanjutkan pertumbuhan di tengah guncangan eksternal, dengan bertumpu pada permintaan domestik yang kuat, diversifikasi sektor produksi, hilirisasi sumber daya alam, penguatan ekonomi digital, serta koordinasi erat kebijakan moneter dan kebijakan pemerintah agar gangguan global tidak mudah menggoyahkan aktivitas konsumsi, investasi, dan penyerapan tenaga kerja di dalam negeri.

Data terbaru memperlihatkan fondasi yang relatif kokoh: pertumbuhan ekonomi mencapai 5,45 persen pada semester I, inflasi terkendali di 2,88 persen, indeks manufaktur berada di zona ekspansi, dan kepercayaan konsumen masih tinggi. Ini bukan sekadar rangkaian angka; ini bukti bahwa mesin domestik bekerja ketika banyak negara lain tersendat. Di tengah ketidakpastian geopolitik, proteksionisme, dan perubahan rantai pasok global, ketahanan ekonomi Indonesia menunjukkan bahwa strategi jangka panjang mulai berbuah. Tantangannya kini bukan lagi apakah ekonomi bisa bertahan, melainkan apakah keberhasilan ini bisa dinaikkan kelas menjadi pertumbuhan yang lebih berkualitas dan berkelanjutan.

Fondasi Ekonomi Tetap Kokoh di Tengah Fragmentasi Global

Hilirisasi Sebagai Strategi Transformasi, Bukan Sekadar Larangan Ekspor

Narasi hilirisasi sering dipersempit menjadi isu larangan ekspor bahan mentah, padahal esensi strategi hilirisasi nasional jauh lebih dalam. Kebijakan ini menggeser orientasi ekonomi dari penjualan komoditas mentah ke pembangunan industri pengolahan dan produk turunan bernilai tambah tinggi. Dengan kata lain, ketahanan ekonomi Indonesia sedang dibangun dari pabrik dan laboratorium, bukan dari pelabuhan komoditas semata.

Realisasi investasi yang menguat, terutama di sektor yang terhubung dengan program hilirisasi, menegaskan bahwa investor membaca arah jangka panjang ini dengan positif. Hilirisasi mineral, pengembangan industri baterai dan kendaraan listrik, hingga penguatan bursa mineral adalah upaya mengamankan posisi tawar dalam rantai pasok global dan mengurangi ketergantungan pada fluktuasi harga komoditas mentah. Pengembangan industri hilir diharapkan tidak hanya meningkatkan nilai tambah, tetapi juga memperbaiki posisi tawar dan harga yang diterima petani serta memperluas ragam produk turunannya. Tanpa transformasi struktural seperti ini, fragmentasi ekonomi global akan menjadikan ekonomi sekadar penonton, bukan pemain.

Ekonomi Digital Indonesia: Mesin Kedua Ketahanan di Era Fragmentasi Global

Jika hilirisasi adalah tulang punggung baru sektor riil, maka ekonomi digital Indonesia adalah sistem saraf yang menghubungkan pelaku usaha dengan pasar, teknologi, dan rantai pasok global. Pemerintah menjadikan penguatan ekosistem digital sebagai salah satu pilar ketahanan ekonomi Indonesia, sejajar dengan hilirisasi dan pengembangan manufaktur. Di saat fragmentasi ekonomi global memutus sebagian jalur perdagangan fisik, kanal digital membuka rute baru bagi produk dan jasa nasional.

Kerja sama regional melalui Digital Economy Framework Agreement diarahkan untuk memperkuat integrasi ekonomi digital di kawasan dan memperluas peluang bagi pelaku usaha nasional. Di saat yang sama, digitalisasi merambah sektor strategis seperti pertanian dan energi, termasuk untuk mendukung program B50, sekaligus menuntut infrastruktur fisik dan energi yang lebih andal. Airlangga Hartarto menilai penguatan ekosistem digital akan semakin penting dalam memperkuat keterhubungan industri dengan rantai pasok global dan menciptakan model pertumbuhan baru berbasis inovasi. Tantangannya: apakah kebijakan digital mampu memperkecil kesenjangan akses dan keterampilan, bukan memperlebarnya.

Permintaan Domestik, Kebijakan Bank Sentral, dan Risiko Baru Seperti El Nino

Ketahanan ekonomi Indonesia tidak bisa dilepaskan dari pasar domestik yang besar. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso menjelaskan bahwa pertumbuhan 2026 diproyeksikan tetap solid dengan permintaan domestik sebagai penopang utama, didukung pertumbuhan PDB triwulan II sebesar 5,29 persen yang menunjukkan daya tahan kuat aktivitas ekonomi nasional. Pertumbuhan kredit 12,67 persen dan lonjakan kredit investasi 24,9 persen menandakan pembiayaan untuk sektor produktif masih mengalir.

Namun mengandalkan konsumsi saja adalah kesalahan strategi. Pemerintah dan bank sentral mengarahkan bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran untuk menjaga stabilitas tanpa mematikan pertumbuhan. Di sisi lain, pemerintah diingatkan untuk waspada terhadap risiko baru seperti El Nino yang dapat mengganggu ketersediaan pangan. Pertumbuhan harus menghasilkan pekerjaan yang lebih luas, pendapatan meningkat, daya beli terjaga, peluang usaha terbuka, dan pelayanan publik yang membaik, bukan hanya angka PDB yang mengkilap. Di sinilah ujian sesungguhnya: menjadikan konsumsi domestik motor yang mendorong produksi nasional dan memperbesar kandungan lokal, bukan konsumsi barang impor.

Dari Ketahanan ke Lompatan: Mengubah Momentum Menjadi Transformasi

Ketidakpastian dan fragmentasi ekonomi global bukan gejala sementara, tetapi pola baru yang akan bertahan lama. Di tengah situasi ini, capaian positif seperti pertumbuhan di atas 5 persen, inflasi terjaga, cadangan devisa setara 5,5 bulan impor, dan kepercayaan konsumen yang tinggi adalah modal langka yang tidak dimiliki banyak negara. Pemerintah bahkan menyampaikan optimisme bahwa pertumbuhan sepanjang 2026 dapat mengarah ke kisaran 6 persen, namun angka ini hanya bermakna jika berubah menjadi manfaat konkret bagi masyarakat.

Forum seperti Sidang Pleno ISEI XXV menunjukkan bahwa dialog antara pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha mulai menyentuh isu inti: stabilitas yang dinamis, hilirisasi-industrialisasi, dan ekonomi kerakyatan. Dengan arah kebijakan yang konsisten, percepatan hilirisasi, penguatan ekonomi digital, dan pemanfaatan permintaan domestik sebagai pendorong produksi, ketahanan ekonomi Indonesia dapat melampaui sekadar kemampuan bertahan. Ia dapat menjadi landasan lompatan menuju ekonomi yang lebih mandiri dan kompetitif. Pilihannya jelas: terus mengunci diri pada pola lama yang rentan guncangan, atau berani menyelesaikan PR transformasi struktural selagi momentum masih berpihak.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!