Pelatihan AI SMK: Dari Teori ke Solusi Nyata
Pelatihan AI SMK adalah program vokasi teknologi yang menggabungkan pemahaman kecerdasan buatan dengan praktik langsung, sehingga siswa tidak hanya diajarkan memakai aplikasi, tetapi juga dilatih membaca masalah nyata di sekitarnya dan merancang solusi AI yang relevan dengan kebutuhan publik dan industri kerja masa depan. Fokusnya bukan pada hafalan materi, melainkan pada kemampuan memecahkan masalah dan bekerja dalam tim lintas peran teknis maupun non-teknis. Di titik ini, AI berhenti menjadi sekadar “alat canggih” dan berubah menjadi bahasa baru yang wajib dikuasai lulusan vokasi bila ingin tetap punya tempat di pasar kerja yang digerakkan data dan otomatisasi.
Itu sebabnya program seperti DIGIForward pendidikan dan inisiatif pelatihan AI SMK lain layak dilihat sebagai investasi strategis, bukan sekadar CSR yang manis di laporan tahunan. PT Computrade Technology International (CTI Group) secara sengaja merancang DIGIForward 2026 untuk mendekatkan guru dan siswa SMK pada perkembangan teknologi, terutama AI yang kian dibutuhkan di dunia kerja. Ketika perusahaan besar menganggap AI sebagai kompetensi dasar, maka mengabaikan pelatihan AI sejak level SMK sama saja membiarkan generasi vokasi berjalan tanpa kompas di tengah badai otomasi.

DIGIForward: Laboratorium AI untuk Layanan Publik
DIGIForward 2026 layak disebut sebagai laboratorium publik untuk kompetensi industri AI. Program corporate social responsibility ini mengajak guru dan siswa SMK di Jawa Tengah merancang solusi teknologi bagi persoalan layanan publik di lingkungan mereka. Bukan sekadar hackathon sekali lewat, perjalanan program dimulai dari Online Onboarding yang diikuti 15 sekolah, lalu disusun menjadi tim dengan peran jelas: Team Leader, Developer, Quality Assurance, dan Pitcher. Pembagian peran ini mencerminkan praktik kerja industri teknologi, bukan pola tugas sekolah tradisional.
Peserta kemudian mengikuti Upskilling Training yang menggabungkan design thinking dan cognitive automation (AI). Di sinilah jembatan antara kelas dan dunia kerja terlihat jelas: siswa dilatih memahami kebutuhan pengguna, mengidentifikasi masalah, lalu memilih teknologi yang tepat, bukan dipaksa memakai teknologi tertentu. Rachmat Gunawan menegaskan bahwa pendekatan ini mengajak peserta memahami persoalan dulu sebelum menentukan teknologi yang akan digunakan. Dengan cara ini, DIGIForward pendidikan tidak melahirkan operator alat, tetapi perancang solusi yang paham konteks sosial dan layanan publik yang mereka sentuh.
Xsata Career, WadulKan, dan Gizka: AI yang Menyentuh Hidup Sehari-Hari
Esensi program vokasi teknologi ini terlihat jelas pada tiga solusi pemenang. Tim XSATA Swift dari SMK Negeri Tengaran memenangkan juara pertama dengan Xsata Career, platform bimbingan karier berbasis AI yang membantu siswa mendapat informasi industri, konsultasi personal, dan panduan karier sesuai minat, potensi, dan jurusan mereka. Masalahnya sangat nyata: keterbatasan guru BK membuat banyak siswa bingung memilih jurusan dan karier. Alih-alih mengeluh soal kurangnya guru, mereka merancang pelatihan AI SMK yang menjawab kekosongan layanan itu.
Juara kedua, Sikat Stemba dari SMK Negeri 7 Semarang, menghadirkan WadulKan—solusi AI yang menyusun laporan warga menjadi draft surat pengaduan otomatis, sehingga administrasi kelurahan bisa lebih cepat dan mengurangi pekerjaan manual. Juara ketiga, SKANIDA dari SMK Negeri 2 Semarang, menghadirkan Gizka – Gizi Kita yang memakai AI untuk mengenali kandungan gizi makanan lewat foto, membantu pengguna memahami asupan gizi tanpa perhitungan manual. Ketiga contoh ini membuktikan: ketika pelatihan AI SMK diarahkan ke problem konkret, kompetensi industri AI tumbuh bersamaan dengan empati sosial siswa. Mereka belajar tools baru sambil berhadapan langsung dengan kendala jaringan, prompt, dan limit platform, lalu memakainya sebagai bahan belajar, bukan alasan untuk berhenti.
Telkom BISA Vokasi: AI, Kesejahteraan Mental, dan Ekosistem Belajar
Jika DIGIForward menajamkan sisi problem solving layanan publik, inisiatif Telkom BISA Vokasi memperlihatkan bahwa program vokasi teknologi yang serius tidak bisa mengabaikan wellbeing. Dalam pendekatan ini, wellbeing ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem pembelajaran digital, bukan pelengkap di akhir kegiatan. Guru diperkenalkan pada platform EduMind dengan fitur weekly mood check-in, AI-assisted wellbeing monitoring, dan reporting system untuk memantau kondisi psikologis siswa secara berkelanjutan.
Di sisi lain, peserta didorong memanfaatkan AI secara bijak, kreatif, dan produktif dalam pembelajaran dan eksplorasi teknologi. EduMind Wellbeing & AI Camp menjadi bagian dari program TJSL yang mendukung peningkatan kualitas pendidikan, sekaligus memperkuat literasi digital dan lingkungan belajar yang adaptif dan bertanggung jawab. Pendekatan ini sejalan dengan pilar 4 Sustainable Development Goals tentang Pendidikan Berkualitas. Dengan kata lain, BISA Vokasi menyiratkan pesan penting: menyiapkan generasi vokasi untuk kompetensi industri AI bukan hanya soal skill teknis, tapi juga ketahanan mental dan kemampuan beradaptasi di tengah perubahan teknologi yang dinamis.
Mengapa Generasi Vokasi Harus Menjadi Generasi AI
DIGIForward 2026 dan program seperti BISA Vokasi menegaskan satu hal: menguasai AI bukan lagi nilai tambah, melainkan kompetensi kritis bagi lulusan SMK. CTI Group menyatakan DIGIForward dikembangkan untuk membantu guru dan siswa SMK semakin dekat dengan perkembangan teknologi, khususnya AI yang kini sangat dibutuhkan di dunia kerja. Sementara Telkom, dengan peran sebagai perusahaan digital telco, ikut memperkuat literasi digital dan membangun lingkungan belajar yang adaptif dan bertanggung jawab.
Keduanya menjadi jembatan nyata antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri teknologi: pelatihan AI SMK diisi pengalaman hands-on, design thinking, dan eksplorasi AI yang diarahkan ke problem publik, bukan sekadar simulasi. Program DIGIForward yang sebelumnya digelar di Jawa Timur dan kini diperluas ke Jawa Tengah muncul karena antusiasme guru serta siswa, dan ini menandakan bahwa generasi vokasi siap melompat lebih jauh bila diberi akses dan kepercayaan. Jika kebijakan pendidikan dan industri berani menjadikan program seperti ini arus utama, bukan pengecualian, maka generasi vokasi berpeluang memegang posisi strategis di ekosistem teknologi—bukan lagi sekadar tenaga pelengkap, tetapi perancang masa depan layanan publik berbasis AI.






