Keselamatan lebih penting daripada jadwal serentak
Tes Kemampuan Akademik (TKA) adalah asesmen akademik bagi siswa yang perlu diselenggarakan dalam kondisi aman dan memungkinkan peserta berkonsentrasi, bukan sekadar mengikuti tanggal serentak. Karena kabut asap karhutla masih mengganggu Kalimantan Tengah, Dinas Pendidikan provinsi itu mengusulkan penundaan dan mendapat persetujuan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Keputusan tersebut berlaku saat TKA nasional mulai dijadwalkan pada 26 Oktober 2026, sehingga siswa terdampak dialihkan ke sesi susulan atau jadwal khusus. Langkah ini patut dipandang sebagai perlindungan yang wajar, bukan kelonggaran yang merugikan peserta: ujian tidak layak dipaksakan ketika kesehatan dan keselamatan siswa maupun tim sekolah belum terjamin. Kementerian menegaskan sekolah yang belum aman tidak harus mengikuti jadwal utama. TKA Kalimantan Tengah pun dijadwalkan ulang untuk seluruh murid di provinsi tersebut, bukan hanya beberapa sekolah.

Jadwal susulan memberi kepastian dan waktu belajar
Penundaan tidak berarti siswa kehilangan kesempatan mengikuti asesmen. Jadwal TKA susulan reguler dibagi menjadi dua periode: 16–19 November dan 23–26 November 2026. Untuk peserta Paket C, tersedia susulan khusus pada 21–22 November dan 28–29 November. Seluruh murid di Kalimantan Tengah diarahkan ke gelombang susulan, sementara sekolah terdampak karhutla memperoleh jadwal khusus. Pemerintah juga menyiapkan prosedur operasional apabila asap belum mereda menjelang ujian susulan. Kepastian tanggal ini penting agar keluarga dan sekolah dapat merencanakan persiapan tanpa menebak-nebak. Tambahan waktu bisa digunakan untuk memperdalam materi, tetapi bukan alasan untuk mengabaikan istirahat dan kondisi kesehatan. Siswa tetap perlu mengikuti petunjuk pelaksanaan serta menyiapkan diri secukupnya, bukan belajar berlebihan di tengah gangguan lingkungan.
Dampak meluas, koordinasi harus mengikuti kondisi lapangan
Kalimantan Tengah bukan satu-satunya daerah yang menghadapi perubahan jadwal. Kalimantan Selatan juga mengajukan penundaan TKA SMA karena asap karhutla, sedangkan Nusa Tenggara Timur meminta penundaan bagi sebagian sekolah yang masih pulih dari gempa Flores pada 15 Agustus 2026. Kasus yang berbeda ini memperlihatkan mengapa keputusan ujian tidak semestinya dibuat hanya berdasarkan kalender: keamanan, kesehatan, akses, dan kesiapan sekolah perlu diperiksa di lapangan. Dinas pendidikan provinsi dan kantor wilayah Kementerian Agama diminta berkoordinasi untuk memetakan kondisi tersebut. Peserta yang terkendala dan tidak dapat hadir sesuai jadwal perlu dicatat oleh satuan pendidikan agar dapat diproses sebagai peserta susulan. Pada 27 September 2026, sebanyak 3.864.195 peserta telah mendaftar dari 4.213.114 calon peserta, atau 91,72 persen. Skala itu menegaskan perlunya administrasi yang rapi agar perubahan jadwal tidak membuat siswa tercecer.
Asesmen dapat menunggu; kesehatan siswa tidak
TKA bukan penentu kelulusan, melainkan pemetaan mutu dan salah satu tolok ukur untuk seleksi masuk perguruan tinggi tanpa tes melalui jalur prestasi serta Sistem Penerimaan Murid Baru. Artinya, memberi ruang bagi siswa terdampak untuk mengikuti ujian dalam kondisi lebih aman tidak menghapus tujuan asesmen. Penundaan TKA juga menghindari pilihan yang tidak adil: hadir dalam udara berasap atau kehilangan kesempatan ujian. Pemerintah dan sekolah tetap perlu memastikan peserta tercatat, memperoleh informasi tanggal yang jelas, dan memahami prosedur susulan. Tanggung jawab tidak berhenti pada pemindahan kalender; kondisi lingkungan harus terus dipantau sampai pelaksanaan berlangsung. Keputusan menunda adalah langkah tepat selama keselamatan belum terjamin. Jadwal akademik bisa disesuaikan, tetapi kesehatan siswa tidak seharusnya dijadikan taruhan demi mempertahankan tanggal ujian.






