Perbaikan saluran jadi kebutuhan mendesak
Proyek drainase perkotaan adalah upaya memperbaiki dan meningkatkan kapasitas saluran agar air hujan dapat mengalir tanpa meluap ke jalan dan mengganggu aktivitas warga. Di Pekanbaru, kebutuhan itu tampak setiap musim hujan, ketika genangan jalan Pekanbaru berulang di sejumlah jalur utama dan membuat perjalanan tersendat. Pemkot mempercepat pekerjaan di enam ruas prioritas; pada awal November 2026, penyelesaian fisiknya telah mencapai 60 persen. Skala kemajuan itu menjanjikan, tetapi angka tersebut baru berarti bagi warga jika saluran berfungsi baik saat hujan deras. Perbaikan mencakup normalisasi saluran yang ada dan pembangunan konstruksi baru. Karena genangan berdampak langsung pada mobilitas, keberhasilan proyek semestinya dinilai bukan hanya dari progres konstruksi, melainkan juga dari berkurangnya luapan dan kemacetan setelah pekerjaan selesai.
Enam ruas yang ditangani ialah Jalan Paus, Jalan Darma Bakti, Jalan Embun Pagi, Jalan Cipta Karya, Jalan Arifin Achmad, dan Jalan Srikandi. Pemilihan jalan-jalan ini masuk akal karena saluran di jalur utama menentukan kelancaran lalu lintas sekaligus aliran air kawasan. Namun, pekerjaan yang dikebut menjelang batas kontrak Desember 2026 perlu tetap diawasi mutunya. Menyelesaikan proyek tepat waktu penting, tetapi saluran yang cepat tersumbat kembali hanya akan mengulang masalah.
Enam ruas, satu persoalan yang berulang
Luapan air bukan sekadar gangguan sesaat: badan jalan yang tertutup genangan dapat memicu kemacetan parah dan membuat pengguna jalan harus memperlambat perjalanan. Salah satu titik yang menjadi perhatian berada pada jaringan parit dari persimpangan Jalan Arifin Achmad menuju kawasan dekat RS Awal Bros di Jalan Jenderal Sudirman, yang dikenal sebagai lokasi langganan kemacetan saat air meluap. Di tengah pekerjaan, hujan berintensitas tinggi masih sempat memicu luapan di sejumlah kawasan. Karena itu, pemantauan berkala oleh Dinas PUPR untuk memetakan titik yang membutuhkan penanganan darurat bukan pelengkap, melainkan bagian penting dari respons. Warga membutuhkan akses yang aman dan lancar, sementara pemerintah perlu memastikan pekerjaan prioritas tidak membuat titik rawan lain luput dari perhatian.
Manfaat yang diharapkan cukup nyata: genangan berkurang, arus kendaraan lebih lancar, dan risiko kemacetan akibat luapan air menurun. Namun, perbaikan saluran utama saja belum tentu cukup jika sumbatan, kerusakan, atau aliran yang terhambat di bagian lain dibiarkan. Pemantauan dan penanganan darurat perlu berjalan berdampingan dengan pekerjaan konstruksi agar masalah dapat diketahui sebelum hujan berikutnya memperburuk keadaan.
Drainase Arifin Achmad menuntut kerja lintas pemerintah
Masalah drainase Arifin Achmad memperlihatkan bahwa genangan tidak selalu selesai melalui satu paket pekerjaan kota. Setelah hujan deras mengguyur Pekanbaru, Wali Kota Agung Nugroho meninjau saluran yang meluap hingga menggenangi bahu jalan pada 5 November 2026. Pemeriksaan menemukan banyak saluran tersumbat; di depan sebuah kafe, saluran juga dilaporkan amblas. Kondisi itu menunjukkan perlunya pemeriksaan teknis yang menentukan apakah saluran harus dibongkar atau diperbaiki dengan metode lain. Pemkot menyatakan telah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Riau, dan pekerjaan di ruas tersebut ditargetkan mulai tahun depan. Kerja lintas pemerintah tepat karena pembenahan harus disepakati dan dijalankan oleh pihak terkait, bukan berhenti pada kunjungan lapangan.
Menurut Wali Kota Agung Nugroho, Jalan Arifin Achmad menjadi sasaran berikutnya setelah pembenahan drainase di depan RS Awal Bros Sudirman. Urutan itu menegaskan bahwa proyek berjalan bertahap, sehingga warga masih memerlukan pemantauan dan respons cepat sebelum pekerjaan lanjutan dimulai. Koordinasi dengan provinsi perlu menghasilkan kejelasan tindak lanjut, sementara pemeriksaan bersama tim teknis harus memastikan penyebab luapan—termasuk sumbatan dan saluran amblas—ditangani sesuai kondisi lapangan.

Ukuran keberhasilan ada pada dampaknya
Bagi pengguna jalan, ukuran keberhasilan proyek drainase Pekanbaru bukan banyaknya saluran yang digali, melainkan apakah air tetap mengalir saat hujan deras dan perjalanan tidak lagi terhambat genangan. Enam ruas prioritas memberi awal yang terarah, tetapi persoalan saluran air perkotaan memerlukan perawatan setelah konstruksi: pembersihan sumbatan, pemeriksaan kerusakan, serta pemantauan titik rawan secara berkala. Pemerintah juga perlu meneruskan koordinasi untuk Arifin Achmad agar jadwal tahun depan berujung pada pekerjaan yang sesuai kebutuhan teknis, bukan sekadar rencana.
Pekanbaru sudah mengambil langkah yang diperlukan dengan mempercepat perbaikan di enam ruas dan melibatkan pemerintah provinsi untuk menangani Arifin Achmad. Kini tantangannya ialah menuntaskan pekerjaan sesuai kontrak Desember 2026, menjaga mutu, dan menindaklanjuti saluran bermasalah yang belum terselesaikan. Tanpa perawatan serta pengawasan berkelanjutan, genangan akan kembali; dengan penanganan yang konsisten, pengguna jalan dapat merasakan manfaat yang menjadi tujuan proyek.






