Teknologi harus mengubah pengalaman belajar
Kompetensi digital guru adalah kemampuan memilih dan menggunakan teknologi secara tepat untuk mendukung strategi mengajar, materi pelajaran, dan keterlibatan siswa—bukan sekadar mengoperasikan perangkat atau aplikasi. Perbedaan ini penting ketika sekolah berusaha menyesuaikan kelas dengan kebiasaan belajar generasi yang akrab dengan dunia digital.
Dua program pelatihan di Sandubaya dan Padang memperlihatkan jalur berbeda menuju tujuan serupa: pembelajaran yang lebih menarik dan bermakna. Di Sandubaya, 20 guru SD Gugus 1 mengikuti workshop dan pendampingan pemanfaatan teknologi pembelajaran. Di Padang, dinas pendidikan membekali 350 guru SMP negeri dan swasta dengan keterampilan mengembangkan konten digital, termasuk AI dan video interaktif. Perbedaan jenjang dan skala membuat kedua pendekatan saling melengkapi, bukan saling menggantikan.
Langkah ini menjawab perubahan nyata: guru dituntut terus beradaptasi seiring pesatnya perkembangan teknologi, sementara siswa semakin akrab dengannya. Namun, ukuran keberhasilan bukan banyaknya aplikasi yang dikenal, melainkan apakah teknologi membantu siswa memahami materi dan berpartisipasi lebih aktif.
Sandubaya: latihan bertahap untuk kebutuhan kelas SD
Pelatihan guru SD di Sandubaya dirancang sebagai proses bertahap, bukan sesi demonstrasi satu kali. Kegiatan memadukan pembekalan daring, workshop interaktif, praktik mandiri, dan pendampingan intensif. Peserta mempelajari materi awal melalui Google Sites yang dibagikan lewat grup WhatsApp, mengikuti sesi Google Meet pada 24 September 2026, lalu berlatih langsung pada 28 September di SDN Model Mataram atau SDN 142 Mataram. Pola bauran dengan model flipped learning memberi ruang untuk mengenal konsep sebelum mencoba aplikasi.
Fokusnya adalah aplikasi yang bisa segera dipakai untuk aktivitas dasar di kelas. Canva membantu guru membuat lembar kerja digital yang lebih komunikatif; Kahoot mendukung kuis dan tugas interaktif; sedangkan Wayground menyediakan kuis serta kartu belajar digital. Manfaatnya konkret: materi dapat disajikan lebih visual, latihan terasa lebih variatif, dan guru memperoleh cara lain untuk memeriksa pemahaman siswa. Sebanyak 90 persen peserta menunjukkan pemahaman terhadap penggunaan ketiga aplikasi tersebut.
Untuk jenjang SD, pendekatan yang menekankan praktik terarah terasa masuk akal. Guru tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi mencoba fitur, menghasilkan produk pembelajaran, dan membahas penerapannya. Tantangan berikutnya adalah menjaga agar lembar kerja dan kuis digital tetap melayani tujuan pelajaran, bukan menjadi hiasan yang menyita perhatian.

Padang: memperluas keterampilan melalui AI dan konten
Pelatihan AI guru di Padang mengambil cakupan lebih luas. Bimbingan teknis di Youth Center Kota Padang dimulai pada 27 Oktober 2026 dan berlangsung empat hari, diikuti 350 guru dari 104 SMP negeri dan swasta dalam dua angkatan. Peserta diperkenalkan pada AI, pembuatan video pembelajaran interaktif, dan aplikasi Lumi untuk mengembangkan konten digital.
Sasarannya bukan membuat teknologi menjadi pajangan kelas, tetapi memberi guru pilihan untuk mengolah materi. Ceramah dapat dikembangkan menjadi video, aktivitas interaktif, atau konten digital yang mendorong keterlibatan siswa. Ini penting di SMP, ketika materi dan kebutuhan peserta didik menuntut variasi penyajian. AI berpotensi membantu proses pengembangan bahan, tetapi guru tetap harus menilai ketepatan isi dan kecocokannya dengan tujuan belajar.
Perbandingannya jelas: Sandubaya berfokus pada penguasaan beberapa aplikasi praktis melalui pendampingan dekat, sedangkan Padang memperkenalkan perangkat yang lebih beragam kepada kelompok guru yang jauh lebih besar. Keduanya mengarah pada pembelajaran digital yang lebih aktif. Namun, pelatihan singkat hanya menjadi awal; keterampilan perlu diterapkan dan dievaluasi di ruang kelas agar benar-benar menjawab kebutuhan siswa.
Ukuran keberhasilan ada di kelas
Dua kegiatan ini menunjukkan bahwa adaptasi teknologi tidak memiliki satu resep. Guru SD terbantu oleh latihan langsung menggunakan alat sederhana untuk membuat bahan dan evaluasi yang menarik. Guru SMP diperkenalkan pada AI serta produksi konten yang lebih luas. Keduanya tepat selama pilihan teknologi berangkat dari tujuan pembelajaran, karakter siswa, dan kemampuan guru untuk mengelolanya.
Tahap selanjutnya bukan menambah daftar aplikasi, melainkan memastikan penggunaan yang konsisten dan bermakna. Keberlanjutan program serupa dibutuhkan agar kompetensi digital guru terus berkembang, sementara keterampilan dari bimtek Padang perlu diterapkan secara berkelanjutan supaya teknologi benar-benar meningkatkan kualitas proses belajar. Sekolah juga perlu memberi ruang bagi guru untuk berbagi praktik dan memperbaiki materi berdasarkan respons siswa.
Pada akhirnya, teknologi pembelajaran dinilai dari apa yang berubah bagi peserta didik: apakah mereka lebih terlibat, lebih mudah memahami materi, dan memperoleh pengalaman belajar yang relevan. Workshop aplikasi maupun pelatihan AI hanya akan berhasil jika guru tetap menjadi perancang utama pembelajaran. Teknologi seharusnya memperkuat pengajaran, bukan menggantikan pertimbangan pedagogis.






