Mu'awin: Ketika Fatwa Bertemu Agentic AI
Sistem AI Mu’awin adalah sebuah agentic AI fatwa yang dibangun sebagai chatbot Islam Wasathiyah berbasis pangkalan pengetahuan terkurasi, dirancang untuk membantu masyarakat mengakses fatwa MUI dan panduan keagamaan yang terverifikasi sekaligus menekan risiko halusinasi keagamaan AI dalam ruang digital yang semakin padat informasi. Di balik istilah teknis itu, ada pesan penting: umat tidak boleh pasif di era kecerdasan buatan. MUI Jawa Timur memilih masuk ke jantung teknologi, bukan sekadar mengeluarkan imbauan dari pinggir layar. Ketika pertanyaan agama kini kerap diajukan ke chatbot global yang sumbernya tidak jelas, Mu’awin menjadi sikap kritis: jawaban keagamaan tidak boleh diserahkan kepada mesin yang pengetahuannya “mengambang” tanpa otoritas. Ini adalah upaya merebut kembali kendali atas pengetahuan keagamaan di ruang digital sebelum bias dan halusinasi AI telanjur membentuk cara berpikir umat.
Mengapa Umat Perlu Chatbot Islam Wasathiyah yang Terkurasi
MUI Jawa Timur tidak mengembangkan sistem AI MUI sekadar untuk ikut tren teknologi, tetapi merespons perubahan nyata: AI sudah masuk ke hampir seluruh ruang kehidupan umat dan menjadi rujukan spontan, termasuk untuk persoalan agama. Ketika orang bisa bertanya apa saja kepada chatbot, masalahnya bukan lagi akses, melainkan kualitas sumber. Jawaban yang tampak meyakinkan namun dibangun di atas data acak adalah pintu lebar bagi halusinasi keagamaan AI, dari fatwa palsu hingga distorsi konsep fikih dan akidah. Di sini Mu’awin mengambil posisi tegas: basis pengetahuan Islam Wasathiyah yang terkurasi menjadi filter utama, bukan dekorasi teknis. Dengan menjadikan fatwa MUI dan arsip kelembagaan sebagai knowledge base, sistem ini mengikat AI pada otoritas manusia—ulama—bukan pada algoritma yang mengejar probabilitas. Umat diajak memahami bahwa literasi digital keagamaan sekarang berarti juga bertanya: dari mana AI ini belajar?
Kedaulatan Digital Umat: Kolaborasi MUI Jatim dan AI Centre UB
Pengembangan Mu’awin lahir dari kolaborasi strategis antara MUI Jawa Timur dan AI Centre Universitas Brawijaya yang dipetakan sejak audiensi 18 September 2026. Di sini tampak pergeseran penting: lembaga keagamaan tidak puas hanya menjadi pengguna, tetapi ikut membangun ekosistem AI keumatan yang basis pengetahuannya terverifikasi dan manfaatnya kembali kepada umat. Kedaulatan digital umat bukan slogan kosong; ia berarti pengetahuan keagamaan didigitalisasi, dikurasi, dan disimpan dalam pangkalan data yang dikuasai sendiri, bukan digantungkan pada platform global yang logika bisnisnya belum tentu selaras dengan kepentingan dakwah. Menurut Khoirul Anwar, target akhirnya “bukan sekadar MUI memakai AI”, melainkan sistem yang pengetahuannya bisa dipertanggungjawabkan dan menjadi pertahanan kognitif di tengah hoaks, disinformasi, dan judi online yang menyusupi timeline sehari-hari. Kolaborasi ini adalah contoh konkret bagaimana kampus dan ulama dapat bertemu untuk membangun kedaulatan, bukan sekadar konten dakwah.
Menekan Halusinasi Keagamaan AI dengan Agentic AI Berbasis Fatwa
Mu’awin dirancang sebagai sistem agentic AI fatwa: bukan sekadar chatbot pasif, tetapi agen yang bekerja di atas sumber pengetahuan yang terkendali, dengan mekanisme untuk menekan halusinasi keagamaan AI. Halusinasi di sini bukan metafora mistik; ia adalah kondisi ketika AI menghasilkan jawaban yang tampak rapi namun tidak punya landasan yang benar dalam teks keagamaan atau fatwa resmi. Dengan menjadikan fatwa MUI dan Islam Wasathiyah sebagai inti pangkalan pengetahuan, sistem diarahkan agar setiap respons dapat ditelusuri ke sumber yang sah. Namun MUI menegaskan garis batas yang sehat: Mu’awin adalah mu’awin—pembantu—bukan pengganti ulama. Ia membantu mencari, merangkum, dan menjelaskan, tetapi keputusan keagamaan tetap pada manusia. Sikap ini penting agar umat tidak tergoda men-delegasikan otoritas spiritual kepada mesin, dan tetap menjadikan AI sebagai alat, bukan imam baru yang tak pernah tidur.
Ekosistem Pertahanan Informasi dan Smart MUI: Integrasi Moral dan Teknologi
Mu’awin hanyalah satu simpul dari rancangan lebih luas: tiga klaster kerja sama yang disusun MUI Jawa Timur dan AI Centre UB—Pusat Kognisi dan Edukasi Dakwah, Sistem Pertahanan dan Literasi Informasi, serta Infrastruktur Digital Inti. Pada klaster pertahanan informasi, teknologi analitik sentimen dipakai untuk membaca percakapan publik secara agregat, mendeteksi tren hoaks, judi online, dan anomali kultural sebagai early warning system tanpa melacak identitas pribadi. Sementara Smart MUI dan pangkalan data keumatan akan menata arsip, fatwa, dan pengetahuan kelembagaan menjadi fondasi layanan sistem AI MUI di masa depan. Ini bukan sekadar digitalisasi administrasi; ini integrasi nilai spiritual dan moral ke dalam desain teknologi lokal: literasi, perlindungan ruang digital, dan tanggung jawab atas informasi ditempatkan selevel dengan inovasi teknis. Langkah lanjutan—pembentukan gugus tugas bersama dan penyusunan MoU pada akhir September—menandai bahwa komitmen ini bergerak dari wacana ke implementasi.






