Uji mandiri memicu polemik
Beeru Stevia adalah pemanis cair yang menjadi sorotan setelah Dokter Detektif (Doktif) membagikan hasil uji laboratorium mandiri yang mempertanyakan kandungan serta klaim nol kalorinya. Pada Rabu, 28 Oktober 2026, Doktif mengunggah hasil tersebut melalui TikTok dan menyebut adanya sukralosa dan neotam yang, menurutnya, tidak tercantum pada komposisi produk. Dalam dokumen yang ditampilkan, karbohidrat tercatat 47,21 persen dan energi total 188,84 kilokalori per 100 gram sampel. Sukralosa dicatat sebesar 101.297,89 mg/L dan neotam 5.280,99 mg/L. Angka-angka itu menimbulkan pertanyaan yang layak dijawab, terutama soal kecocokan label dengan isi. Namun, menyebutnya sebagai fakta final sebelum verifikasi regulator selesai akan melampaui bukti yang tersedia.
Temuan Doktif bukan keputusan regulator
Perbedaan penting dalam polemik ini bukan sekadar siapa yang menguji, melainkan apa yang dapat disimpulkan dari hasilnya. Uji mandiri Doktif menghasilkan angka dari sampel yang ia periksa; keabsahan hasil, asal dan kesesuaian sampel, serta metode pengujian masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Karena itu, klaim bahwa uji lab Beeru membuktikan pelanggaran belum dapat diperlakukan sebagai kesimpulan resmi. Pada Kamis, 29 Oktober, BPOM menyatakan masih menelusuri produk, mengambil sampel, dan melakukan pengujian; lembaga itu akan menyampaikan informasi setelah hasil tersedia. Pemeriksaan BPOM dapat menjadi dasar penilaian resmi atas kandungan dan kesesuaian label. Sampai saat itu, temuan Doktif patut menjadi pemicu pertanyaan dan kehati-hatian, bukan vonis tentang keamanan atau kepatuhan produk.
Produsen menghentikan penjualan sambil menguji
Beeru Indonesia menghentikan sementara penjualan produk di tengah polemik dan mengatakan sedang memverifikasi kandungan bersama mitra manufakturnya, yang menangani formulasi, bahan baku, serta proses produksi. Mitra manufaktur, CV M3 OIL, menyebut telah mengirim 150 botol sampel produksi untuk diuji di dua laboratorium terakreditasi. Perusahaan menyatakan akan memberikan klarifikasi setelah hasil laboratorium dan tindak lanjut BPOM diperoleh. CV M3 OIL juga mempertanyakan sampel yang beredar karena, menurut perusahaan, asal pembelian dan nomor batch-nya belum dapat diverifikasi. Dokumen uji bertanggal 7 Januari 2026 yang dilampirkan mitra tersebut mencatat energi 187,88 kkal per 100 gram; dengan asumsi densitas satu gram per mililiter, energi per sajian 0,05 ml adalah 0,094 kkal. Perbedaan dokumen ini mempertegas alasan menunggu pengujian terhadap sampel yang dapat diverifikasi, bukan memilih angka yang paling meyakinkan.
Yang perlu diperhatikan konsumen
Bagi konsumen, isu utamanya bukan hanya apakah suatu pemanis menghasilkan kalori, tetapi juga apakah informasi label memungkinkan mereka memahami apa yang dikonsumsi. Jika pemanis tidak dicantumkan, konsumen bisa kesulitan menghitung asupan dan menilai kesesuaiannya dengan kebutuhan. Namun, dugaan tersebut belum menggantikan penilaian resmi, dan Kementerian Kesehatan menyatakan belum dapat menyimpulkan produk berbahaya sebelum hasil serta penilaian BPOM terkonfirmasi. Klaim nol kalori pun perlu dibaca bersama aturan dan ukuran sajian, bukan disimpulkan hanya dari angka energi per 100 gram. Produsen menyampaikan bahwa hasil uji sampelnya diperkirakan keluar sekitar tujuh hari kerja, sementara BPOM belum mengumumkan hasil pemeriksaannya. Konsumen sebaiknya menunggu pembaruan resmi dan memperhatikan keterangan label, tanpa mengubah temuan awal menjadi kepastian.
Kesimpulan sementara yang paling bertanggung jawab adalah bahwa uji mandiri Doktif telah mengangkat pertanyaan serius tentang sukralosa dan neotam serta klaim produk, tetapi pemeriksaan BPOM masih berlangsung. Penghentian sementara penjualan memberi ruang bagi verifikasi, bukan bukti bahwa dugaan telah terbukti. Hasil resmi regulator dan klarifikasi produsen akan menentukan apakah kandungan Beeru Stevia sesuai dengan label dan ketentuan. Sampai keduanya tersedia, sikap kritis perlu berjalan beriringan dengan kehati-hatian dalam menyatakan kesimpulan.







