Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Belajar di Tengah Trauma: Sekolah sebagai Ruang Pemulihan Mental Pasca Gempa

Belajar di Tengah Trauma: Sekolah sebagai Ruang Pemulihan Mental Pasca Gempa
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Pemulihan Mental Harus Jadi Prioritas Utama Pembelajaran Pasca Gempa

Pembelajaran pasca gempa adalah proses mengembalikan kegiatan belajar mengajar sambil memulihkan kesehatan mental siswa dan guru yang terdampak bencana, dengan menggabungkan dukungan psikososial gempa, penyesuaian ruang belajar darurat, serta trauma healing agar mereka kembali merasa aman, fokus, dan termotivasi untuk belajar meski berada di lingkungan yang serba terbatas. SDK Wancang di Manggarai adalah contoh telanjang betapa rumitnya proses ini: 114 siswa kembali belajar di tiga tenda darurat berukuran 5x7 meter di lapangan karena bangunan sekolah retak dan belum aman digunakan. Para guru menolak berpura-pura bahwa semuanya “baik-baik saja”; hari pertama sekolah bukan dibuka dengan materi pelajaran, melainkan dengan kegiatan trauma healing untuk anak-anak yang masih ketakutan. Di sini terlihat jelas: tanpa pemulihan mental sekolah, angka kehadiran hanyalah ilusi normalitas.

Belajar di Tenda: Simbol Ketangguhan, Tapi Juga Kegagalan Infrastruktur

Tiga tenda terpal biru tanpa dinding pelindung berdiri di lapangan SDK Wancang, berubah fungsi menjadi kelas darurat setelah gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang wilayah NTT pada 15 Agustus dan memaksa sekolah menghindari gedung yang retak. Jadwal belajar diatur bergantian karena keterbatasan ruang: sebagian kelas masuk Senin, Rabu, Jumat, sisanya Selasa dan Kamis, semata agar anak tidak bermain di dalam bangunan yang mengancam keselamatan. Dari sisi ketangguhan, ini menunjukkan komitmen sekolah menjaga pembelajaran pasca gempa tetap berjalan. Namun dari sisi hak anak, situasi ini menampar: matahari menyambar wajah siswa ketika belajar, suara angin menembus tenda, sementara rasa takut akan gempa susulan menggantung di udara. "Anak-anak masih trauma," aku salah satu guru, menjelaskan bahwa buku pelajaran tidak mampu menutup retakan di psikologis anak.

Dukungan Psikososial Gempa: Saat Kampus Turun Tangan di Sekolah

Gempa bumi tidak hanya merobohkan dinding sekolah, tetapi juga konsentrasi dan rasa aman siswa. Sehari-hari mereka dilanda cemas, sulit berkonsentrasi, dan terus khawatir diguncang gempa susulan. Di titik inilah dukungan psikososial gempa menjadi penentu apakah pembelajaran pasca gempa akan bermakna atau sekadar formalitas. Tim Unesa Peduli, terdiri dari 16 relawan, dikirim ke Manggarai pada 3–7 September untuk mendampingi komunitas sekolah. Mereka menggelar pendampingan bagi sekitar 200 siswa kelas IX SMP Negeri 5 Langke Rembong yang belajar di tenda darurat; permainan, nyanyian, sesi berbagi cerita, latihan pernapasan, hingga afirmasi positif digunakan untuk mengembalikan motivasi dan rasa percaya diri. Kutipan penting yang patut disimak: "Tim Unesa Peduli dampingi siswa terdampak bencana gempa dalam rangka penguatan mental dan motivasi pascabencana". Artinya, perguruan tinggi tidak lagi eksklusif; ia turun menjadi mitra pemulihan mental sekolah.

Belajar di Tengah Trauma: Sekolah sebagai Ruang Pemulihan Mental Pasca Gempa

Guru sebagai Garda Depan Pemulihan Mental Sekolah

Dalam trauma siswa bencana alam, guru sering kali menjadi satu-satunya sosok dewasa yang hadir konsisten. Di SDK Wancang, guru memilih memulai kembali sekolah dengan trauma healing daripada menjejalkan materi pelajaran. Ini keputusan berani, sekaligus pengakuan bahwa kurikulum harus tunduk pada kebutuhan psikologis anak. Di SMP Negeri 5 Langke Rembong, relawan kampus menyelenggarakan psikoedukasi bagi guru dengan fokus menegaskan peran mereka sebagai garda terdepan ruang aman dan nyaman bagi murid. Guru dibekali strategi menciptakan lingkungan belajar yang aman secara fisik dan psikologis, agar mampu menjadi pendamping pertama dalam proses pemulihan sehari-hari di sekolah. Dukungan psikososial bagi guru di SMK Negeri 1 Wae Ri'i menunjukkan hal penting lain: pemulihan mental sekolah bukan hanya soal murid, tetapi juga pengajar yang menanggung kecemasan dan tanggung jawab di saat yang sama.

Belajar di Tengah Trauma: Sekolah sebagai Ruang Pemulihan Mental Pasca Gempa

Kesimpulan: Pendidikan Pasca Gempa Harus Mengobati Luka, Bukan Menutupinya

Jika kita percaya bahwa sekolah adalah ruang aman, maka tenda darurat di lapangan SDK Wancang yang diterpa panas terik dan bayang-bayang gempa susulan seharusnya memicu rasa tidak nyaman kolektif. Kegiatan belajar mengajar memang sudah kembali digelar sejak 31 Agustus dengan metode disesuaikan kondisi masing-masing sekolah, tetapi keberlanjutan akademik tidak boleh menutupi kebutuhan pemulihan mental sekolah. Program trauma healing di SDK Wancang dan dukungan psikososial gempa dari Tim Unesa Peduli di SMP dan SMK Manggarai menunjukkan arah yang tepat: pendidikan pasca gempa harus memprioritaskan kesehatan mental sebelum mengejar ketertinggalan materi. Pilihan kebijakan ke depan mestinya berangkat dari prinsip sederhana namun tegas: lebih baik anak belajar sedikit di ruang yang terasa aman, daripada belajar banyak di ruang yang memperpanjang trauma siswa bencana alam.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!