Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Pesantren Perlu Membuka Jalan bagi Sains dan Karier Global

Pesantren Perlu Membuka Jalan bagi Sains dan Karier Global
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Pendidikan pesantren tak perlu membatasi pilihan masa depan

Karier santri adalah ragam jalan pengabdian dan pekerjaan yang dapat ditempuh lulusan pesantren, dengan bekal ilmu agama, keahlian profesional, serta kemampuan menghadapi kebutuhan masyarakat. Karena itu, dorongan Menteri Agama Nasaruddin Umar agar santri menguasai sains, teknologi, kedokteran, dan disiplin lain patut dibaca sebagai perluasan, bukan penggantian, misi pendidikan pesantren. Ia menyampaikan ajakan itu dalam Munajat Santri untuk Negeri di Masjid Istiqlal, Jakarta, pada Jumat. Dalam suasana damai, kata Menag, masyarakat juga membutuhkan profesor dan ulama besar. Pesantren yang hanya mengukur keberhasilan dari satu jalur keilmuan berisiko menyempitkan potensi santri. Ilmu agama tetap menjadi fondasi, tetapi tidak seharusnya menjadi pagar yang menutup akses pada laboratorium, rumah sakit, ruang rekayasa, atau profesi lain.

Gagasan santri jadi ilmuwan bukan angan-angan yang bertentangan dengan tradisi pesantren. Nasaruddin merujuk Baitul Hikmah, pusat ilmu pada masa Harun Ar-Rasyid dan Al-Ma’mun yang mempertemukan ilmuwan dari beragam latar belakang. Teladan itu mengingatkan bahwa tradisi keagamaan dapat berjalan berdampingan dengan penyelidikan ilmiah dan dialog lintas disiplin. Pesantren memiliki modal penting untuk membentuk karakter, iman, dan akhlak; tantangannya ialah melengkapi modal tersebut dengan mutu pembelajaran dan kesempatan belajar yang sesuai dengan bidang pilihan santri. Tanpa perubahan itu, seruan agar santri menekuni sains akan berhenti sebagai slogan. Dengan jalur belajar yang lebih luas, pendidikan pesantren dapat menghasilkan lulusan yang membawa nilai dan kecakapan ke banyak bidang kehidupan.

Dari ruang kelas ke profesi yang dibutuhkan

Seruan untuk mengembangkan sains akan berarti jika membuka pilihan nyata setelah lulus. Ilmuwan, dokter, dan insinyur layak masuk dalam cakrawala karier santri, bukan sebagai pengecualian, melainkan sebagai pilihan profesi yang dapat dikejar melalui pendidikan yang tepat. Ini menuntut pesantren memberi ruang pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, sekaligus menjaga pembentukan karakter yang selama ini menjadi kekuatannya. Santri yang bercita-cita menjadi dokter, misalnya, tetap membutuhkan akses pada pembelajaran sains yang memadai; calon insinyur perlu kesempatan mengasah penalaran teknis. Tentu, sumber yang ada menyampaikan dorongan umum untuk memperluas disiplin keilmuan, bukan rincian kurikulum atau jalur penerimaan. Maka pekerjaan rumah pengelola ialah menerjemahkan dorongan itu menjadi mutu pendidikan yang mendukung minat dan kemampuan santri.

Perluasan ini juga memberi pesan penting kepada keluarga dan masyarakat: identitas santri tidak harus berlawanan dengan profesi modern. Keimanan dan akhlak dapat menjadi bekal dalam praktik ilmiah, pelayanan kesehatan, maupun rekayasa teknologi. Namun, jangan menganggap nilai-nilai tersebut otomatis menggantikan kompetensi; keduanya harus dibangun bersama. Kemenag mengajak pengelola pesantren meningkatkan kualitas pendidikan agar santri mampu menghadapi perubahan zaman dan memberi kontribusi nyata bagi bangsa. Ajakan itu tepat, tetapi ukurannya nanti bukan banyaknya cita-cita yang disebut. Ukurannya adalah apakah pendidikan pesantren memberi landasan pengetahuan dan ruang belajar yang cukup agar santri dapat sungguh-sungguh memilih serta menempuh bidang yang diminati.

SMK Go Global memperluas cakrawala kerja

Jalur vokasi membawa gagasan itu lebih dekat ke dunia kerja. Kemenag mengusulkan 524 pesantren untuk masuk program SMK Go Global, dengan tujuan memperluas kesempatan santri mengembangkan keterampilan dan membuka peluang bekerja di luar negeri. Usulan ini menunjukkan bahwa masa depan lulusan pesantren tidak semestinya dibatasi pada pekerjaan di sekitar lembaga atau komunitasnya. SMK di lingkungan pesantren dinilai berpotensi menyiapkan lulusan untuk kebutuhan kerja, termasuk di tingkat internasional. Bagi santri, peluang tersebut dapat memperlebar pilihan karier; bagi pesantren, ini menjadi alasan kuat untuk menghubungkan pendidikan vokasi dengan kebutuhan profesi. Namun, nama program saja tidak menjamin kesiapan kerja. Nilai sebenarnya bergantung pada bekal keterampilan yang relevan dan kemampuan santri untuk menggunakannya di lingkungan kerja yang berbeda.

Dorongan vokasi juga sebaiknya tidak dipisahkan dari pengembangan intelektual dan spiritual. Wakil Ketua Umum PBNU Ipang Wahid menyatakan bahwa penguatan pendidikan vokasi perlu berjalan seiring dengan peningkatan kapasitas spiritual dan intelektual santri. Prinsip ini lebih kuat daripada anggapan bahwa pesantren harus memilih antara menjaga tradisi dan menyiapkan lulusan untuk pasar kerja. Pembahasan SMK Go Global layak menjadi pintu untuk memperluas akses terhadap karier santri, termasuk peluang bekerja di luar negeri, tanpa mengerdilkan pendidikan menjadi sekadar pelatihan tenaga kerja. Orientasi global akan bermakna jika santri tetap mendapat pendidikan yang membentuk nalar, tanggung jawab, dan kecakapan profesi secara berimbang.

Perluasan pilihan harus diikuti mutu

Dorongan Kemenag memberi arah yang patut didukung: pesantren dapat menjadi ruang tumbuh bagi penguasaan agama, sains, profesi, dan keterampilan kerja global. Usulan agar 524 pesantren masuk SMK Go Global memperlihatkan skala peluang yang sedang dibicarakan, sementara seruan agar santri menekuni ilmu pengetahuan menegaskan bahwa karier mereka tidak harus tunggal. Tetapi harapan tidak cukup jika tidak disertai peningkatan kualitas pendidikan. Santri perlu memperoleh kesempatan mengembangkan kemampuan sesuai minat, baik untuk menjadi ilmuwan, dokter, insinyur, maupun menempuh jalur vokasi dan bekerja di luar negeri. Kesimpulannya, membuka pintu karier bukan berarti meninggalkan jati diri pesantren. Justru dengan memadukan akhlak, ilmu, dan keterampilan yang relevan, pesantren dapat menyiapkan lulusan yang lebih siap berkontribusi di tengah perubahan zaman.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!