Mengapa Kue Tradisional Pontianak Harus Kembali ke Dapur Rumah
Kue tradisional Pontianak adalah ragam penganan manis dan gurih berbahan tepung beras, tepung terigu, santan, gula pasir, dan gula merah yang diolah dengan cara dipanggang, dikukus, atau digoreng, sehingga menghasilkan jajanan tradisional jadul yang padat, empuk, dan beraroma pandan yang cocok dinikmati sebagai teman kopi atau teh di rumah. Di tengah gempuran dessert modern, kue-kue ini pelan-pelan bergeser dari etalase toko ke sudut kenangan. Padahal, resepnya tidak serumit yang dibayangkan dan bahan-bahannya masih sangat lokal: tepung, santan, gula, telur, dan sedikit ragi. Resep blodar empuk, kue jorong-jorong kukus, hingga kue deram gula merah sebenarnya dirancang untuk dapur biasa, bukan untuk dapur profesional. Jika generasi sekarang mau sedikit meluangkan waktu, kita bukan hanya membuat camilan, tetapi ikut menyelamatkan identitas rasa sebuah kota.
Blodar: Kue Padat dan Empuk yang Layak Jadi Ikon Teman Ngopi
Blodar adalah kue tradisional Pontianak berbasis tepung terigu dengan tekstur padat dan gempal, rasa manis lembut, dan karakter empuk yang membuatnya ideal sebagai teman kopi atau teh maupun buah tangan bagi tamu. Di era roti dan cake kekinian, blodar sebetulnya menawarkan alternatif yang lebih jujur: bahan sederhana, rasa bersahaja, dan kenyang yang tahan lama. Resep blodar empuk yang dibagikan Mak Win melalui platform resep pada 27 Agustus 2024 menggunakan bahan-bahan yang relatif mudah ditemukan di dapur, seperti 250 gram tepung terigu, 150 gram gula pasir, 1 sendok teh ragi instan, 150 mililiter santan, 1 butir telur, 2 sendok makan margarin, 1 sachet susu kental manis, dan sejumput garam. Prosesnya pun tradisional namun bisa direplikasi di dapur modern: kocok gula, ragi, dan telur, masukkan margarin dan garam, lalu tuang santan, tepung, diamkan hingga mengembang, dan panggang dalam oven rumah tangga. Blodar membuktikan bahwa kue tradisional tidak kalah praktis dari roti instan jika kita mau memberi kesempatan.

Jorong-jorong: Kue Kukus Gurih Manis yang Mengandalkan Daun dan Kukusan
Jika blodar bermain di oven, kue jorong-jorong kukus menunjukkan sisi lain kue tradisional Pontianak yang lembut dan wangi daun. Kue tradisional Melayu ini memadukan rasa gurih dari santan, manis dari gula, dan aroma pandan yang khas, lalu dikukus hingga matang dalam takir daun pandan atau daun pisang. Menurut resep yang dibagikan Sumihadi_ melalui platform resep pada 6 September 2026, bahan sederhana seperti 80 gram tepung beras, 20 gram tepung tapioka, 500 mililiter santan kekentalan sedang, satu butir gula merah iris tipis, dan gula pasir secukupnya sudah cukup untuk menghasilkan sekitar 16–20 buah berukuran sedang dengan waktu pembuatan sekitar 45 menit. Pernyataan "Resep Kue Jorong-jorong Khas Pontianak... dapat diolah menjadi sekitar 16–20 buah berukuran sedang, dengan perkiraan waktu pembuatan 45 menit" layak dikutip sebagai bukti bahwa kue tradisional bisa dibuat cepat di dapur biasa. Tekniknya pun bersahaja: adonan tepung dan santan dituangkan ke takir daun, diberi gula, lalu dikukus. Di sini, keindahan jorong-jorong terletak pada kesediaan kita melipat daun dan menunggu kukusan beruap, bukan pada dekorasi berlebihan.
Deram Gula Merah: Jajanan Jadul yang Mulai Langka, Mirip Cucur tapi Punya Karakter Sendiri
Kue deram gula merah adalah salah satu jajanan tradisional jadul khas Pontianak yang warnanya cokelat pekat dan rasanya manis kuat dari gula merah. Bentuk dan cara menggorengnya membuat banyak orang membandingkannya dengan kue cucur, tetapi deram punya identitas sendiri: bahan lebih sedikit, rasa gula merah lebih dominan, dan tekstur cenderung setengah kering sehingga bisa disimpan dalam stoples setelah dingin. Resep yang dibagikan Priska Koes menggunakan 400 gram tepung beras, 250 gram gula merah berkualitas baik, 400 mililiter air, dan minyak goreng secukupnya untuk menghasilkan sekitar 28 buah kue deram. Adonan tepung beras dan gula merah ini kemudian digoreng hingga matang, menghasilkan lingkaran cokelat yang renyah di tepi dan lembut di tengah. Ironisnya, kue tradisional ini mulai langka ditemukan dan berpotensi semakin jarang dikenal oleh generasi muda. Kehadiran kue jadul seperti deram menjadi bagian dari kekayaan kuliner lokal yang menarik untuk dikenalkan kembali, dan cara paling masuk akal adalah menggorengnya sendiri di rumah, bukan menunggu lapak yang semakin sedikit.

Menjaga Rasa dengan Bahan Lokal dan Teknik Sederhana
Benang merah dari blodar, jorong-jorong, dan deram adalah kesederhanaan bahan dan teknik. Resep blodar empuk yang dibagikan Mak Win menggunakan bahan-bahan yang relatif mudah ditemukan di dapur, tanpa perlu bahan impor atau alat khusus. Resep kue jorong-jorong kukus dari Sumihadi_ pun mencantumkan bahan sederhana yang bisa diolah menjadi puluhan potong dalam waktu kurang dari satu jam. Sementara itu, kue deram gula merah hanya membutuhkan tepung beras, gula merah, air, dan minyak goreng, menunjukkan bahwa tidak banyak bahan yang diperlukan untuk membuat jajanan tradisional ini. Teknik memasak tradisionalnya juga sangat bisa direplikasi dengan peralatan dapur standar: mencampur dan memfermentasi adonan lalu memanggang dalam oven untuk blodar, mengukus adonan dalam takir daun untuk jorong-jorong, dan menggoreng adonan gula merah untuk deram. Pada akhirnya, kue tradisional Pontianak akan bertahan bukan karena festival kuliner, tetapi karena ada orang yang rutin mengocok adonan, menyalakan kukusan, dan memanaskan minyak di dapur rumah. Jika kita menganggapnya merepotkan, maka kita sendiri yang sedang memutus rantai rasa yang seharusnya diwariskan.






