Kereta api sebagai wajah baru perjalanan wisata nusantara
Wisatawan kereta api adalah wisatawan yang menjadikan kereta sebagai moda utama untuk berpindah antar kota dan menjelajahi destinasi, sekaligus menikmati pemandangan, budaya lokal, dan interaksi sosial yang muncul sepanjang rel, sehingga perjalanan tidak hanya soal tiba di tujuan, tetapi menjadi bagian penting dari pengalaman wisata itu sendiri. Fenomena meningkatnya wisatawan mancanegara di jalur rel menunjukkan bahwa pariwisata transportasi bukan lagi pelengkap, melainkan tulang punggung pengalaman perjalanan. Data terbaru dari berbagai daerah operasi KAI memperlihatkan pola yang konsisten: kereta api Bandung, Sumatera Bagian Selatan, dan lintas lain mulai dipilih karena kombinasi kenyamanan, kemudahan pemesanan, dan akses ke kota-kota yang sebelumnya kurang tersentuh paket tur konvensional. Ini mengubah cara kita memaknai perjalanan wisata nusantara: lebih pelan, lebih dekat dengan keseharian warga, dan lebih merata manfaat ekonominya.
Bandung: magnet utama wisatawan kereta api mancanegara
Jika ada satu kota yang menjadi barometer pertumbuhan wisatawan kereta api, jawabannya adalah Bandung. PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasi 2 Bandung mencatat 56.608 wisatawan mancanegara menggunakan layanan kereta api dari berbagai stasiun di wilayah kerjanya pada periode Januari–Agustus 2026. Dari jumlah itu, 43.706 di antaranya berangkat dari Stasiun Bandung, menegaskan stasiun ini sebagai gerbang utama wisman yang ingin menjelajahi Bumi Parahyangan dengan rel sebagai koridornya. Angka ini bukan sekadar statistik; ini bukti bahwa kereta api Bandung telah naik kelas menjadi produk pariwisata transportasi yang menarik. Perjalanan dengan kereta memberi kesempatan wisman menikmati lanskap khas Jawa Barat, dari persawahan hingga lembah, tanpa stres menyetir atau terjebak kemacetan, sekaligus menghubungkan mereka dengan pusat aktivitas kota dan daerah sekitar yang kaya daya tarik alam dan budaya.

Sumbagsel: potensi besar di balik angka yang menurun
Berbeda dengan Bandung yang sedang menanjak, Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) menampilkan cerita yang lebih kompleks. Sepanjang Triwulan III 2026, tercatat 1.160 wisatawan mancanegara menggunakan kereta api untuk mengunjungi berbagai wilayah di Sumbagsel. Stasiun Kertapati menjadi pintu masuk utama dengan 618 wisman pada periode Januari–September 2026. Namun jika melihat tren tiga tahun, jumlah wisman kereta api di Divre III Palembang turun dari 1.560 orang pada 2024 menjadi 1.377 pada 2025 dan 1.160 pada 2026. Angka ini sering dibaca sebagai kemunduran, padahal seharusnya menjadi alarm untuk berbenah. Menurut Manager Humas KAI Divre III Palembang, penggunaan kereta api oleh wisman adalah indikator penting peran transportasi publik dalam mendukung mobilitas wisatawan dan pertumbuhan ekonomi daerah. Artinya, setiap penurunan penumpang asing adalah peluang ekonomi lokal yang ikut menguap.
Dampak ke ekonomi lokal dan peluang bisnis baru
Lonjakan dan pergerakan wisatawan kereta api membawa dampak langsung ke ekonomi sekitar stasiun. Kehadiran wisman di lintas Sumbagsel, misalnya, membuka peluang bagi pertumbuhan ekonomi lokal melalui belanja wisata, penggunaan akomodasi, kuliner, dan pembelian produk unggulan daerah. Hal yang sama terjadi di lintas Jawa Barat, di mana konektivitas kereta menghubungkan wisatawan dengan beragam daya tarik daerah dan pusat aktivitas masyarakat. Di sinilah pariwisata transportasi menjadi ekosistem: operator kereta menyediakan akses, pelaku usaha lokal menyiapkan pengalaman. Peluang bisnis yang terbuka meliputi jasa penjemputan di stasiun, paket tur berbasis rel, kafe dan co-working di sekitar stasiun, hingga penyediaan informasi wisata multibahasa. Pertanyaannya bukan lagi apakah kereta api menarik bagi wisman, tetapi siapa yang paling cepat mengemas pengalaman di sekelilingnya menjadi produk yang layak jual.
Apa yang harus dilakukan: dari tiket digital ke pengalaman terkurasi
KAI sudah mengambil beberapa langkah dasar: peningkatan kualitas pelayanan, pengoptimalan fasilitas di stasiun dan di dalam kereta, serta penekanan pada keselamatan perjalanan. Untuk mendukung perjalanan yang lebih terencana, calon pelanggan, baik domestik maupun mancanegara, diimbau memesan tiket melalui aplikasi Access by KAI, situs resmi booking.kai.id, atau kanal mitra penjualan resmi. Namun itu baru fondasi. Agar pertumbuhan wisatawan asing berlanjut, operator dan pemda perlu bergerak ke tahap berikut: mengkurasi rute wisata berbasis kereta, menyediakan informasi jelas dalam berbagai bahasa, dan menyambungkan jadwal kereta dengan agenda festival lokal. Data penurunan wisman di Divre III Palembang sudah dijadikan bahan evaluasi untuk memperkuat konektivitas dan layanan; langkah serupa perlu diikuti dengan inovasi produk wisata, bukan sekadar perbaikan teknis. Masa depan perjalanan wisata nusantara ada di rel, tetapi nilai tambahnya ditentukan oleh pengalaman yang menunggu di setiap stasiun.






