Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Workshop Pengasuhan Positif: Mindful Parenting dari Kampus ke Desa

Workshop Pengasuhan Positif: Mindful Parenting dari Kampus ke Desa
Minat|Pendidikan Orang Tua dan Anak

Mindful Parenting: Ketika Kampus Turun Tangan ke Rumah Tangga

Mindful parenting adalah pendekatan pengasuhan positif anak yang menekankan kesadaran penuh orang tua atas emosi, pikiran, dan respons mereka sehingga interaksi dengan anak berlangsung lebih tenang, empatik, dan reflektif, bukan reaktif penuh kemarahan atau hukuman fisik. Inisiatif mindful parenting workshop yang digelar jurusan Bimbingan dan Konseling FKIP Universitas Sriwijaya untuk ibu-ibu Desa Palem Raya menunjukkan satu hal mendasar: kampus mulai mengambil posisi sebagai aktor kunci dalam edukasi orang tua komunitas, bukan hanya penghasil sarjana. Alih-alih berhenti pada penelitian akademik, tim dosen dan mahasiswa turun langsung ke tingkat RT, memperlakukan persoalan pengasuhan sebagai isu publik yang membutuhkan strategi terstruktur. Ini langkah berani dan perlu, karena pola asuh di rumah lebih menentukan kualitas generasi masa depan daripada kurikulum di kelas.

Desa Palem Raya: Laboratorium Hidup Pengasuhan Berbasis Kesadaran

Edukasi mindful parenting di Desa Palem Raya bukan sekadar pelatihan singkat; ia sengaja menargetkan ibu-ibu rumah tangga yang sehari-hari berhadapan langsung dengan tantrum dan perilaku anak yang dianggap sulit. Ketua tim pengabdian menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk mengubah respons impulsif—membentak, memarahi—menjadi respons sadar berbasis jeda emosional dan refleksi. Materi yang diberikan tidak muluk: mengenali emosi diri sebelum menegur anak, mengelola stres, teknik relaksasi sederhana, serta komunikasi empatik. Inilah keterampilan parenting yang seharusnya menjadi "literasi dasar" keluarga. Dengan pre-test dan post-test, tim dosen mengukur perubahan pemahaman peserta, dibantu lembar self-assessment pengasuhan yang bisa dibawa pulang sebagai alat refleksi berkelanjutan. Ini menunjukkan bahwa edukasi orang tua komunitas dapat dirancang seilmiah program kampus, tanpa kehilangan kedekatan dengan realitas desa.

Workshop Pengasuhan Positif: Mindful Parenting dari Kampus ke Desa

SCOLAH-UNAIR Mengajar: Mengaitkan Pengasuhan Positif dan Pencegahan Kekerasan Anak

Di sisi lain, program Parenting Education yang digelar SCOLAH-UNAIR Mengajar memosisikan pengasuhan positif sebagai benteng awal pencegahan kekerasan anak. Dalam pertemuan rutin yang dihadiri 29 orang tua, psikolog pengisi talkshow menekankan bahwa pengasuhan positif membantu orang tua membangun rasa aman, mengenali dan mengelola emosi anak, sekaligus menanamkan disiplin tanpa hukuman fisik. Fokusnya jelas: sebelum mendisiplinkan anak, orang tua wajib mengelola emosi diri sendiri. Komunikasi terbuka dua arah, penjelasan rasional tentang batasan, dan pengajaran tentang batasan tubuh serta keamanan diri anak menjadi strategi konkret pencegahan kekerasan. Parenting Education di sini bukan kegiatan seremonial; ia menjadi ruang dialog kritis yang menghubungkan konsep perlindungan anak dan kebijakan keluarga dengan pengalaman harian orang tua. Ini mempertegas bahwa pencegahan kekerasan anak adalah isu pendidikan keluarga, bukan sekadar penegakan hukum.

Workshop Pengasuhan Positif: Mindful Parenting dari Kampus ke Desa

Mengapa Universitas Perlu Memimpin Gerakan Pengasuhan Positif

Melihat dua contoh di atas, jelas bahwa kampus memiliki modal unik: keahlian dosen bimbingan konseling, psikolog, dan mahasiswa yang terbiasa memakai alat ukur ilmiah sekaligus bahasa yang mudah dicerna orang tua. Ketika modal ini dibawa kepada komunitas lokal, edukasi orang tua komunitas berubah dari nasihat moral menjadi penguatan keterampilan parenting yang terukur. Penguatan kemampuan orang tua mengelola emosi, mendengarkan anak, dan berkomunikasi secara empatik bukan hiasan; ia bagian inti pembentukan lingkungan keluarga yang sehat dan aman bagi anak. "Pengasuhan positif membantu orang tua membangun kelekatan aman, mengenali dan mengelola emosi anak, hingga penerapan disiplin dan rasa percaya diri mandiri," ujar Adinda Istiqomah dalam salah satu sesi. Jika universitas konsisten memimpin gerakan ini, pengasuhan positif anak akan naik derajat menjadi agenda pendidikan publik, bukan urusan privat yang dibiarkan berlangsung tanpa panduan.

Dari Program Pengabdian ke Gerakan Komunitas

Meski menjanjikan, program seperti mindful parenting workshop dan Parenting Education tidak boleh berhenti sebagai proyek pengabdian berkala yang bergantung pada jadwal kampus. Tantangannya adalah menjadikannya gerakan komunitas: ibu-ibu desa dan orang tua adik asuh bukan hanya peserta, tetapi pelaku yang saling berbagi praktik pengasuhan positif anak dalam keseharian. Lembar self-assessment, diskusi interaktif, dan pertemuan rutin dapat menjadi benih kelompok belajar orang tua di tingkat desa atau lingkungan. Di titik ini, peran universitas bergeser dari pengajar utama menjadi pendamping profesional yang memastikan kualitas materi tetap terjaga dan isu pencegahan kekerasan anak terus dikaitkan dengan keterampilan parenting yang konkret. Kesimpulannya sederhana: bila kampus dan komunitas berjalan bersama, rumah bisa menjadi ruang paling aman bagi anak—bukan tempat pertama mereka belajar takut.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!