Apa Itu IFSRC dan Mengapa Penting
Indonesia Friends of Silk Road Club (IFSRC) adalah sebuah klub persahabatan yang dirancang sebagai platform diplomasi people-to-people untuk memperkuat hubungan antarmasyarakat, pertukaran kebudayaan, dan dialog peradaban antara dua negara melalui jejaring akademisi, pelajar, tokoh publik, dan berbagai elemen masyarakat lain yang bergerak di luar jalur diplomasi formal.
IFSRC resmi diluncurkan dalam sebuah Seminar Nasional bertema “Memahami Global Civilization Initiative (GCI) dari Perspektif Hubungan Indonesia–Tiongkok” yang digelar di Hotel Borobudur Jakarta pada 15 September 2026. Acara ini diinisiasi oleh sebuah lembaga think tank independen yang fokus pada penguatan hubungan di level rakyat ke rakyat. Peluncuran IFSRC adalah pernyataan politik kebudayaan: diplomasi modern tidak cukup bertumpu pada pemerintah, melainkan harus bertumbuh dari kedekatan sosial, kepercayaan, dan pengalaman hidup bersama. Alih-alih menambah forum seremonial, IFSRC membuka ruang baru di mana relasi bilateral diisi percakapan, bukan sekadar perjanjian.
Dari G2G ke Diplomasi People-to-People
Peluncuran IFSRC menandai pergeseran penting dari dominasi hubungan Government-to-Government (G2G) menuju diplomasi people-to-people yang lebih seimbang. Dalam keynote-nya, seorang pimpinan legislatif menegaskan bahwa diplomasi abad ke-21 tidak dapat lagi hanya mengandalkan G2G, tetapi harus berakar kuat pada People-to-People (P2P) exchanges. Ini bukan sekadar slogan; hubungan jangka panjang tidak mungkin stabil bila masyarakat di kedua sisi merasa asing satu sama lain.
IFSRC Indonesia China dirancang sebagai platform yang mempertemukan akademisi, pelajar, pemuda, pebisnis, dan berbagai elemen masyarakat lainnya. Dalam forum peluncuran, pandangan yang mengemuka jelas: hubungan yang kuat juga membutuhkan hubungan antarmasyarakat. Artinya, keberhasilan kerja sama resmi akan rapuh jika tidak ditopang pergaulan sosial yang cair, pemberitaan media yang adil, dan interaksi keseharian yang menumbuhkan rasa saling percaya. IFSRC mengambil posisi sebagai penghubung ruang-ruang ini, mengubah rakyat menjadi pelaku utama, bukan penonton.
Global Civilization Initiative: Menjawab Narasi Benturan Peradaban
Seminar peluncuran IFSRC menjadikan Global Civilization Initiative (GCI) sebagai bingkai konseptual utama. GCI yang diperkenalkan Presiden Xi Jinping pada 15 Maret 2023 menempatkan peradaban sebagai fondasi kerja sama internasional melalui dialog, penghormatan terhadap keberagaman, pelestarian warisan budaya, dan penguatan hubungan antarmasyarakat. Dalam konteks narasi global tentang “benturan peradaban”, pendekatan ini adalah tawaran tandingan: alih-alih konflik identitas, yang dijadikan titik berangkat adalah saling belajar dan saling menghargai.
Seorang pejabat kementerian agama menyebut inisiatif penguatan hubungan melalui kerja sama kebudayaan sebagai langkah strategis untuk membangun peradaban global yang mampu menghargai perbedaan. Ia menekankan bahwa diversity adalah kekuatan yang dapat dikapitalisasi oleh kedua pihak dalam membangun harmoni di tengah keragaman agama, budaya, bahasa, dan latar belakang. Di sinilah relevansi IFSRC: platform ini mengkonkretkan GCI dalam bentuk jejaring nyata, bukan sekadar dokumen deklaratif. Dialog peradaban menjadi praktik sehari-hari, bukan tema konferensi tahunan.
20.000 Mahasiswa: Modal Sosial Diplomasi Jangka Panjang
Salah satu fakta paling menarik yang muncul dalam forum peluncuran adalah jumlah sekitar 20.000 mahasiswa yang saat ini menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi di pihak mitra. Mereka dinilai memiliki posisi strategis sebagai grassroots diplomats yang membangun pemahaman dan kedekatan di tingkat masyarakat. "Dengan demikian, keberadaan sekitar 20.000 mahasiswa Indonesia di Tiongkok tidak hanya memiliki dimensi pendidikan," melainkan juga menjadi modal sosial di jalur people-to-people.
Selama studi, para mahasiswa ini berinteraksi langsung dengan masyarakat, akademisi, institusi pendidikan, dan komunitas lokal. Pengalaman ini memungkinkan mereka memperkenalkan budaya asal sekaligus memahami kebudayaan mitra secara lebih dekat. Peran serupa juga bisa dimainkan peneliti, jurnalis, pelaku usaha, dan komunitas lain. IFSRC mengambil langkah tepat dengan menjadikan mereka bagian dari jejaringnya: tanpa generasi muda yang hidup dalam dua dunia sosial, diplomasi people-to-people akan kehilangan energi jangka panjang. Di tangan mereka, hubungan bilateral rakyat tidak berhenti pada seremoni, tetapi menjelma persahabatan lintas generasi.
IFSRC sebagai Infrastruktur Baru Konektivitas Geoekonomi
Di balik bahasa diplomatik, IFSRC adalah infrastruktur sosial untuk konektivitas geoekonomi. Platform ini memfasilitasi jejaring lintas sektor yang menjadi prasyarat bagi arus ide, talenta, dan proyek kerja sama. Penguatan hubungan melalui kebudayaan dan pendidikan yang disambut positif oleh kementerian terkait menunjukkan kesadaran bahwa harmoni sosial adalah fondasi bagi kerja sama ekonomi yang stabil. Tanpa kepercayaan lintas budaya, konektivitas geoekonomi hanya akan menjadi proyek teknis yang mudah terguncang oleh sentimen publik.
Ke depan, seorang pejabat tinggi kementerian agama berharap hubungan tidak hanya dibangun melalui kerja sama antarpemerintah, tetapi juga diperkuat melalui kolaborasi antarmasyarakat. IFSRC kemudian diarahkan untuk memperluas jejaring tersebut melalui kolaborasi akademisi, mahasiswa, peneliti, media, tokoh agama dan budaya, organisasi kepemudaan, institusi pendidikan, serta dunia usaha. Melalui IFSRC, jejaring ini diharapkan berkembang menjadi kolaborasi lebih luas dalam pendidikan, riset, kebudayaan, media, dialog keagamaan, hingga pemberdayaan masyarakat. Jika konsisten, IFSRC berpotensi menjadi contoh bagaimana diplomasi people-to-people dapat mengamankan sekaligus memaknai ulang konektivitas geoekonomi di kawasan.






