Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Guru Kuasai Koding dan AI: PGRI Power Menggerakkan Kelas Digital

Guru Kuasai Koding dan AI: PGRI Power Menggerakkan Kelas Digital
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Gerakan Satu Juta Guru Mahir: Transformasi Guru Dimulai dari Koding dan AI

Gerakan satu juta guru mahir koding dan kecerdasan buatan adalah inisiatif pelatihan koding guru dan guru belajar AI secara masif, terstruktur, dan merata di berbagai daerah untuk meningkatkan kompetensi digital pendidik, mengubah peran guru dari sekadar pengguna teknologi menjadi pencipta inovasi pembelajaran, serta mempercepat pembelajaran berbasis teknologi di sekolah agar murid siap menghadapi era digital.

Inti persoalannya sederhana: tanpa transformasi guru digital, semua wacana kurikulum teknologi hanya berhenti di dokumen. Karena itu, langkah PGRI Power program yang menjadikan koding dan AI sebagai kompetensi dasar guru patut dibaca sebagai koreksi atas kebiasaan lama: guru dituntut adaptif, tetapi jarang diberi ruang belajar yang serius. Di sinilah signifikansi pelatihan koding dan AI yang digelar serentak di berbagai daerah—bukan sekadar acara seremonial, melainkan penanda perubahan arah kebijakan pendidikan yang mulai berpihak pada kapasitas guru sebagai aktor utama kelas digital.

Tulungagung: Dari Pengguna Gadget ke Pencipta Inovasi Pembelajaran

Di Tulungagung, PGRI kabupaten menggelar pelatihan koding dan AI dalam program PGRI Power untuk meningkatkan kompetensi digital guru dan mendukung gerakan nasional satu juta guru mahir koding dan kecerdasan buatan, yang dilaksanakan di kantor PGRI setempat pada Sabtu 17 Oktober 2026. Ini bukan pelatihan komputer dasar, melainkan upaya menggeser cara pandang guru terhadap teknologi. Program ini membekali guru dengan keterampilan koding dan AI sekaligus mendorong perubahan pola pikir dari pengguna teknologi menjadi pencipta inovasi pembelajaran.

Ketua PGRI Tulungagung menegaskan bahwa peningkatan kompetensi teknologi adalah kebutuhan mendesak agar guru mampu mengikuti laju digitalisasi dan kecerdasan buatan, dan bahwa penguasaan teknologi harus berkembang menjadi kemampuan menciptakan media dan metode pembelajaran inovatif. Respons peserta menguatkan argumen ini: seorang guru SD yang semula menganggap koding dan AI hanya milik guru TIK mengaku mulai memahami cara memanfaatkan AI untuk membuat media pembelajaran interaktif berkat materi yang disampaikan secara sederhana dan aplikatif. Di sinilah pelatihan koding guru terbukti menyentuh praktik kelas, bukan sekadar menambah sertifikat.

Sidrap: Guru SD Menyambut Naskah Akademik dengan Aksi Nyata

Sementara itu di Sidrap, Kelompok Kerja Guru Gugus 2 KINCIR ILMU menggelar pelatihan koding dan kecerdasan artifisial bagi guru SD pada hari yang sama, Sabtu 17 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi tindak lanjut langsung program pelatihan koding nasional PGRI Power yang menargetkan satu juta guru mahir koding dan AI di seluruh daerah. Di sini, guru belajar AI bukan sebagai teori abstrak, melainkan sebagai alat untuk menciptakan proses belajar mengajar yang interaktif dan inovatif di jenjang sekolah dasar.

Ketua KKG menegaskan pelatihan ini digelar agar guru tidak tertinggal dalam merespons tantangan zaman, dengan harapan mereka mampu menciptakan pembelajaran yang lebih menarik, relevan, dan menyiapkan generasi muda menghadapi era digital. Inisiatif lokal ini selaras dengan Naskah Akademik Pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial pada Pendidikan Dasar dan Menengah yang diterbitkan Kemendikdasmen sejak Februari 2025. Artinya, kebijakan pusat menemukan bentuk konkretnya di kelas-kelas SD Sidrap: kompetensi digital pendidik diperkuat di tingkat gugus agar langsung bisa diimplementasikan di kelas dan melahirkan murid yang bukan hanya konsumen teknologi, tetapi produsen inovasi.

Mengapa Kompetensi Digital Guru Menentukan Masa Depan Murid

Pelatihan koding guru dan penguatan kompetensi digital pendidik bukan agenda tambahan, melainkan syarat minimum pendidikan abad ke-21. Program PGRI Power secara eksplisit dirancang untuk mengubah guru dari pengguna menjadi pencipta teknologi pembelajaran. Naskah akademik Kemendikdasmen menegaskan integrasi koding dan AI untuk membangun ekosistem pendidikan inklusif dan berkeadilan, dengan pemanfaatan AI, big data, dan Internet of Things agar literasi digital tidak terhalang batas geografis. Tanpa guru yang paham koding dan AI, gagasan ini akan berhenti sebagai jargon kebijakan.

Contoh dari Tulungagung menunjukkan bagaimana pelatihan yang aplikatif mampu mengubah ketakutan guru terhadap teknologi menjadi keberanian bereksperimen dengan media pembelajaran interaktif. Di Sidrap, penguatan kompetensi di tingkat gugus diharapkan membuat guru langsung mengimplementasikan ilmunya di kelas, sehingga murid tumbuh dengan kemampuan berpikir komputasional, analisis data, algoritma, dan etika AI. Jika dikelola konsisten, transformasi guru digital ini akan menentukan apakah generasi muda kelak sekadar mengikuti arus teknologi global atau ikut menciptakan arus baru.

Tantangan Lanjutan: Dari Pelatihan Sesaat ke Gerakan Berkelanjutan

Pertanyaan krusialnya sekarang: apakah pelatihan koding dan AI ini akan berhenti sebagai momentum sesaat atau tumbuh menjadi budaya belajar baru di kalangan guru? PGRI Tulungagung menargetkan pengiriman guru-guru terbaik sebagai penggerak literasi digital di setiap satuan pendidikan, dari jenjang dasar hingga menengah. Keberlanjutan PGRI Power program sendiri bergantung pada dua hal: kemampuan peserta mengembangkan diri dan keberanian sekolah memberi ruang penerapan koding dan AI dalam pembelajaran sehari-hari.

Di Sidrap, harapannya jelas: guru yang telah mengikuti pelatihan langsung mengimplementasikan ilmunya di kelas, mendorong lahirnya generasi yang tidak sekadar menjadi konsumen teknologi, tetapi produsen inovasi di tingkat global. Artinya, ukuran keberhasilan bukan jumlah pelatihan, melainkan perubahan praktik mengajar. Jika gerakan satu juta guru mahir ini konsisten mengawal guru di daerah, maka transformasi guru digital bukan lagi slogan, melainkan kenyataan yang terasa di setiap kelas—dari Tulungagung sampai Sidrap dan seterusnya.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!