Ribuan Hektare Terbakar, Raja Ampat Paling Terdampak
Karhutla adalah kebakaran hutan dan lahan yang membakar vegetasi serta kawasan sekitar, menimbulkan asap dan emisi, dan dapat meluas saat cuaca kering menyulitkan upaya pemadaman. Di Papua, BNPB melaporkan 2.393 hektare lahan terbakar dan 73 titik api terpantau dalam 12 jam terakhir, berdasarkan laporan yang disampaikan pada 29 Oktober 2026. Skala tersebut bukan sekadar angka: api tersebar di delapan lokasi pada tiga provinsi, sehingga penanganan tak bisa bertumpu pada satu titik. Raja Ampat mencatat area terbakar terbesar, 1.505 hektare, disusul Sorong Selatan dengan 604,2 hektare. Kebakaran Raja Ampat dengan demikian menjadi pusat krisis, tetapi sebaran di Nabire, Merauke, Mappi, Boven Digoel, Kota Sorong, dan TPA Makbon menunjukkan bahwa ancaman karhutla Papua jauh lebih luas daripada satu wilayah.
Rincian BNPB juga mencatat 100,2 hektare terbakar di Nabire, 71,5 hektare di Merauke, 70 hektare di Mappi, 20 hektare di Boven Digoel, 17,2 hektare di Kota Sorong, serta lima hektare di TPA Makbon. Angka-angka ini memperlihatkan tantangan operasi yang tersebar: tim harus menghadapi beberapa lokasi dengan kebutuhan sumber daya berbeda, bukan hanya mengerahkan personel ke titik dengan luasan terbesar.
Jarak dan Kekeringan Mempersempit Ruang Pemadaman
Hambatan utama bukan sekadar banyaknya titik api, melainkan lokasi yang jauh dan sulit dijangkau. BNPB menyebut kondisi terpencil itu menyulitkan pemadaman dan menyatakan kebutuhan akan tambahan sumber daya untuk menangani kebakaran di Papua. Dalam keadaan seperti ini, keterlambatan menjangkau api dapat memberi waktu bagi kebakaran untuk meluas. Karena titik-titiknya tersebar, koordinasi antardaerah dan dukungan logistik sama pentingnya dengan jumlah personel di lapangan. Mengandalkan respons setelah api membesar jelas bukan pilihan yang memadai.
Kekeringan memperberat situasi. NASA mengaitkan karhutla Papua dengan kondisi kering akibat El Niño Papua, yang mendorong terbentuknya asap tebal dan meningkatnya polusi selama September–Oktober 2026. El Niño bukan alasan untuk mengabaikan faktor manusia, tetapi kondisi kering membuat pencegahan dan larangan pembakaran lahan semakin mendesak. Ketika wilayah sulit dijangkau bertemu dengan bahan bakar vegetasi yang mengering, kesempatan untuk memadamkan api sebelum membesar menjadi lebih sempit.
Asap Membawa Dampak Kesehatan dan Emisi
Karhutla tidak berhenti sebagai kerusakan lahan. Asap dan polusi berdampak langsung pada kehidupan warga: laporan menyebut pembatalan penerbangan, penutupan sekolah, dan desakan agar masyarakat menggunakan masker. Ini menjadikan kualitas udara dan perlindungan warga ukuran penting keberhasilan penanganan, bukan sekadar jumlah api yang berhasil dipadamkan. Emisi karbon Papua juga menunjukkan bobot iklim dari kebakaran ini. Data Global Fire Emissions Database yang dikutip dalam laporan mencatat Papua melepaskan lebih dari 35 megaton emisi karbon, tertinggi setelah periode 1997 dan 2015 ketika El Niño memicu kebakaran.
Besarnya emisi memperlihatkan hubungan dua arah antara kebakaran dan perubahan iklim: kondisi kering akibat El Niño meningkatkan risiko kebakaran, sementara pembakaran vegetasi melepaskan karbon ke atmosfer. Karena itu, penanganan darurat perlu disertai pencegahan pembakaran dan pengawasan pembukaan lahan. Jika respons hanya berfokus pada api yang sudah menyebar, dampak terhadap kesehatan dan iklim akan terus berulang setiap kali kekeringan datang.
Mitigasi Harus Bergerak Sebelum Api Meluas
Pemerintah Provinsi Papua telah menyiapkan mitigasi kekeringan dan karhutla setelah BMKG merilis potensi kekeringan pada November. Gubernur Matius Fakhiri mendorong antisipasi titik api dan koordinasi dengan pemerintah kota serta kabupaten. Pemerintah juga meminta dukungan pemerintah pusat, TNI, dan Polri untuk penanganan di lapangan, termasuk kemungkinan penggunaan mobil water cannon untuk membantu distribusi air dan penyemprotan. Langkah ini perlu diterjemahkan menjadi kesiapan nyata: pemetaan lokasi rawan, penempatan sumber daya yang sesuai, serta komunikasi cepat ketika titik api terdeteksi.
Pemerintah provinsi juga mengimbau masyarakat dan pelaku usaha agar tidak membuka atau memperluas lahan dengan cara membakar, terutama saat kekeringan akibat El Niño meningkatkan kerawanan. Imbauan itu harus berjalan bersama pengawasan dan koordinasi lintas wilayah, sebab api yang tumbuh di lokasi terpencil lebih sulit dijangkau setelah meluas. Kesimpulannya, skala kebakaran Raja Ampat dan sebaran titik api di Papua menuntut respons yang lebih awal, terkoordinasi, dan berfokus pada perlindungan warga. Memadamkan api penting; mencegahnya menyala adalah langkah yang jauh lebih menentukan.






