Kenaikan laba belum berarti pemulihan merata
Kinerja keuangan BUMN adalah gambaran hasil usaha dan kemampuan perusahaan milik negara mengelola pendapatan, biaya, serta modalnya; angka gabungan yang membaik tidak selalu berarti setiap perusahaan ikut sehat. Kontras itu terlihat pada data terbaru: Danantara menyebut laba bersih gabungan BUMN naik 18,4 persen menjadi Rp214,9 triliun selama Januari–Agustus 2026, sementara lebih dari separuh BUMN dan anak usahanya merugi pada 2024. Angka laba yang meningkat patut dicatat, tetapi tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh portofolio telah pulih. Menurut COO Danantara Dony Oskaria, kenaikan tersebut merupakan hasil transformasi pengelolaan. Namun, capaian agregat bisa ditopang perusahaan besar yang menguntungkan, sedangkan banyak unit lain tetap menjadi beban. Karena itu, membaca laba BUMN tanpa melihat sebaran untung-rugi berisiko memberi gambaran terlalu optimistis tentang kesehatan perusahaan negara.

Laba naik, tetapi kerugian tetap mencolok
Dony menyatakan laba bersih gabungan meningkat dari Rp181,5 triliun pada Januari–Agustus 2025 menjadi Rp214,9 triliun pada periode yang sama 2026, atau bertambah Rp33,4 triliun. Ia mengaitkan kenaikan 18,4 persen itu dengan pembenahan model bisnis, disiplin keuangan, dan tata kelola. Tingkat pengembalian atas ekuitas yang disetahunkan juga naik menjadi 8,0 persen dari 7,4 persen. Ini sinyal perbaikan yang penting, tetapi belum menjawab pertanyaan tentang siapa yang menghasilkan laba dan siapa yang terus merugi. Data Danantara untuk 2024 menunjukkan 52 persen dari 1.074 BUMN dan anak usahanya mencatat kerugian bersih. Kerugian perusahaan-perusahaan itu diperkirakan sekitar Rp20 triliun hingga Rp23 triliun dalam laporan yang tersedia. Jadi, pertumbuhan laba agregat dan kerugian yang meluas bukan dua klaim yang saling meniadakan: keduanya menggambarkan kondisi berbeda dalam portofolio yang sama.
Transformasi perlu dinilai dari hasil tiap perusahaan
Alasan pembenahan ini mendesak bukan semata-mata untuk menaikkan angka konsolidasi. Danantara menyebut sebagian perusahaan masih memakai model bisnis yang tidak sesuai dengan pasar dan menanggung akumulasi utang yang tidak terkendali. Dony juga mengatakan 97 persen setoran dividen BUMN selama ini ditopang delapan perusahaan teratas. Konsentrasi seperti ini membuat kenaikan laba gabungan rentan menutupi ketimpangan: beberapa perusahaan mampu mendorong hasil keseluruhan, sementara banyak lainnya belum menciptakan nilai. Danantara menyatakan telah merombak perusahaan melalui konsolidasi, merger, divestasi, dan likuidasi. Dalam 18 bulan, 364 perusahaan kecil yang merugi telah ditutup, dengan target penutupan mencapai 750 hingga akhir tahun. Langkah itu menunjukkan transformasi BUMN mulai menyentuh struktur portofolio, tetapi ukuran keberhasilannya seharusnya mencakup perbaikan yang berkelanjutan pada perusahaan yang tersisa, bukan hanya berkurangnya jumlah entitas.
Ukuran keberhasilan harus lebih luas dari laba agregat
Kenaikan laba BUMN memberi alasan untuk mengakui adanya kemajuan, terutama ketika Danantara mengaitkannya dengan evaluasi model bisnis, komposisi pendapatan, struktur biaya, dan tingkat keuntungan. Namun, keberhasilan belum bisa dinyatakan merata selama 52 persen dari 1.074 perusahaan dan anak usaha masih merugi. Perhatian perlu bergeser dari satu angka total menuju mutu kinerja tiap perusahaan: apakah model bisnisnya relevan, utangnya terkendali, tata kelolanya membaik, dan kerugian berkurang dari waktu ke waktu. Konsolidasi dan penutupan perusahaan dapat menjadi bagian dari penataan, tetapi hasil akhirnya harus tampak pada portofolio yang lebih sehat, bukan sekadar lebih kecil. Kesimpulannya, kenaikan laba gabungan adalah tanda positif, bukan bukti bahwa persoalan telah selesai. Transformasi baru layak disebut berhasil ketika pertumbuhan laba disertai penyusutan kerugian dan perbaikan yang lebih merata di seluruh BUMN.






