QRIS dan BRImo: Dua Rel Utama Transaksi Digital Rp6 Triliun
QRIS dan BRImo adalah dua kanal pembayaran digital yang menggabungkan standar kode QR nasional dan super-app perbankan untuk memudahkan masyarakat bertransaksi, memperluas inklusi keuangan digital, dan mengurangi ketergantungan pada uang tunai dalam berbagai aktivitas ekonomi sehari-hari di seluruh lapisan usaha, dari UMKM hingga nasabah ritel.
Lonjakan transaksi QRIS dan BRImo bukan sekadar soal angka; ini sinyal bahwa perilaku finansial masyarakat bergerak cepat ke arah pembayaran digital nusantara. Di satu sisi, transaksi QRIS Indonesia di wilayah kerja kantor perwakilan bank sentral di Lhokseumawe menembus Rp1,93 triliun dalam kurun Januari–Juni dengan 24.002.952 transaksi dan 136.179 merchant aktif. Di sisi lain, BRImo mencatat Rp4.166 triliun volume transaksi dengan 49,7 juta pengguna dan 3,32 miliar transaksi finansial hingga Juni. Jika digabung, keduanya mendekati Rp6 triliun, membentuk “dual-track” kuat antara pembayaran QR berbasis merchant dan super-app perbankan. Ini bukan perkembangan netral; ini adalah pergeseran kekuasaan dari uang tunai ke layar ponsel.

Lhokseumawe: QRIS Menjadi Mesin Baru Ekonomi Lokal
Pertumbuhan transaksi QRIS Indonesia di wilayah Lhokseumawe adalah bukti bahwa digitalisasi pembayaran bukan monopoli kota besar. Nilai nominal Rp1,93 triliun dengan 24 juta lebih transaksi dalam enam bulan pertama menunjukkan bahwa pelaku usaha dan konsumen di daerah pun nyaman dengan pola bayar pakai kode QR. Lebih penting lagi, 136.179 merchant yang sudah menerima QRIS berarti digitalisasi menyentuh warung, pasar, hingga usaha mikro yang selama ini berada di tepi sistem formal.
Kepala kantor perwakilan bank sentral di Lhokseumawe, Yudo Herlambang, memaparkan data ini dalam Temu Media bertema “Sinergi untuk Mendukung Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan” pada 14 Agustus. Ia menekankan bahwa QRIS dirancang sebagai standar nasional untuk mempermudah transaksi lintas penyedia jasa pembayaran. Pernyataan kuncinya: otoritas tidak hanya mengejar angka transaksi, tetapi juga literasi. Selama Januari–Juli, mereka menggelar 15 kegiatan edukasi kepada sekitar 3.000 peserta tentang perlindungan konsumen dan keamanan transaksi digital untuk menekan risiko fraud dan scam. Pendekatan ini tegas: adopsi tanpa edukasi akan berujung pada krisis kepercayaan.
BRImo: Super-App yang Mengubah Definisi Layanan Bank
Jika QRIS mengubah cara masyarakat membayar di merchant, maka pertumbuhan BRImo pengguna mengubah cara orang berhubungan dengan bank. Dengan 49,7 juta pengguna, 3,32 miliar transaksi finansial, dan volume transaksi Rp4.166 triliun hingga Juni, BRImo tidak lagi sekadar kanal transfer, melainkan pintu utama ke ekosistem keuangan digital. Ini menandai perubahan besar: cabang fisik kehilangan dominasi sebagai gerbang layanan, digantikan oleh ikon aplikasi di layar ponsel.
Transformasi ini bagian dari program BRIvolution Reignite yang diarahkan untuk memperkuat kapabilitas teknologi dan memperluas manfaat digitalisasi. Direktur Information Technology BRI, Saladin Dharma Nugraha Effendi, menegaskan bahwa BRImo dirancang agar nasabah bisa mengelola kebutuhan finansial dalam satu ekosistem terintegrasi. Fitur seperti Toggle Nabung Emas Otomatis dengan pembelian mulai Rp10.000, tiket transportasi dan wisata di menu Aktivitas Seru, hingga QRIS Tap memperlihatkan bahwa aplikasi bank kini merambah gaya hidup, bukan hanya urusan saldo. Bagi nasabah, dampaknya nyata: akses layanan perbankan menjadi lebih fleksibel, tidak lagi bergantung pada lokasi kantor cabang.
Ekosistem Hibrida: Digital Bukan Berarti Tanpa Tatap Muka
Satu kesalahan baca yang sering terjadi adalah menganggap inklusi keuangan digital berarti mengganti semua layanan fisik dengan aplikasi. Ekosistem transaksi BRI menunjukkan sebaliknya: aplikasi BRImo berjalan berdampingan dengan jaringan ATM dan CRM, mesin EDC merchant, QRIS BRI, hingga BRILink Agen. Digitalisasi di sini bukan soal meniadakan tatap muka, tetapi memberi lebih banyak pilihan kanal sesuai kenyamanan dan kemampuan pengguna.
Dalam konteks pembayaran digital nusantara, pendekatan hibrida ini lebih realistis. BRILink Agen tetap menjadi titik layanan bagi masyarakat yang ingin atau perlu bertransaksi secara langsung, sementara BRImo menjadi opsi bagi mereka yang terbiasa dengan smartphone. Ini sejalan dengan pandangan bahwa inklusi keuangan tidak bisa diukur hanya dari jumlah pengguna atau nilai transaksi. Kualitas inklusi bergantung pada apakah masyarakat punya pilihan kanal, mampu menggunakan layanan dengan aman, dan memperoleh manfaat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa kombinasi kanal fisik dan digital, sebagian besar masyarakat non-digital-native akan tertinggal.
Keamanan, Literasi, dan Masa Depan Pembayaran Digital
Baik QRIS maupun BRImo menghadirkan kenyamanan, tetapi keduanya juga membuka ruang baru bagi risiko. Semakin besar aktivitas finansial yang berpindah ke ruang digital, semakin mendesak perhatian pada keamanan data dan perlindungan konsumen. Otoritas di Lhokseumawe menempatkan edukasi sebagai kunci untuk membangun kepercayaan, melalui sosialisasi perlindungan konsumen dan cara bertransaksi digital yang aman. Ini mengirim pesan jelas: inklusi keuangan digital yang berkualitas menuntut literasi, bukan sekadar akses.
Di sisi lain, bank memperkuat keamanan melalui pembaruan teknologi, mitigasi risiko, dan edukasi nasabah tentang potensi penipuan digital. Bagi masyarakat, manfaatnya besar: transaksi sehari-hari hingga mulai berinvestasi bisa dilakukan dalam satu platform tanpa berpindah-pindah. Namun kenyamanan ini harus diimbangi disiplin menjaga akun dan data pribadi. Ke depan, masa depan pembayaran digital nusantara akan ditentukan oleh tiga hal: konsistensi edukasi, kemampuan menjaga keamanan, dan keberanian terus mendorong fitur yang relevan bagi kebutuhan nyata, bukan sekadar mengejar angka transaksi.






