Warisan rasa yang berangkat dari usaha keluarga
Erina adalah camilan tradisional Minang berbahan singkong dari Payolansek, Payakumbuh, yang membawa karak kaliang, ganepo, dan opak jengkol dari usaha keluarga ke pasar yang lebih luas. Usaha yang melahirkan Erina dirintis orang tua Santi Ocdiarni pada 1979, lalu berkembang menjadi nama bagi jajanan khas Minangkabau tersebut. Perjalanan panjang ini memberi Erina fondasi yang tidak bisa dibangun hanya dengan kemasan menarik: hubungan dengan resep keluarga dan cita rasa yang dikenal di daerah asalnya. Bagi Santi, pertumbuhan usaha juga berarti menjaga kuliner Minang tetap hadir di tengah perubahan selera dan persaingan. Ia mengatakan, “Bagi kami, usaha ini bukan hanya tentang menjual makanan, tetapi juga menjaga warisan kuliner”. Sikap itu membuat Erina Payakumbuh lebih dari sekadar produk camilan; ia menjadi cara tradisi tetap bisa dinikmati dalam kehidupan sehari-hari.
Kemitraan yang membuka pintu ritel modern
Sebelum masuk ke jaringan ritel modern, Erina membangun pasarnya secara bertahap melalui reseller, pasar tradisional, dan kawasan wisata. Produk kemudian merambah toko, swalayan, dan supermarket di sejumlah daerah, termasuk Riau, Jambi, Aceh, hingga Bogor. Perubahan skala penting terjadi ketika Erina memulai kemitraan Indomaret pada akhir 2020. Pada tahap awal, pesanannya hanya sekitar dua kardus untuk dipasarkan di kurang lebih 50 gerai. Angka kecil itu justru memperlihatkan bagaimana akses distribusi dapat dimulai tanpa perlu menunggu usaha lokal menjadi besar lebih dahulu. Karak kaliang dan ganepo menjadi produk pertama yang masuk ke jaringan tersebut, kemudian Erina menambahkan opak jengkol. Kemitraan ini mempertemukan camilan tradisional Minang dengan kebiasaan belanja konsumen yang lebih luas, tanpa menuntut Erina melepas karakter rasa khasnya.
Dari puluhan menjadi lebih dari 700 gerai
Dari sekitar 50 gerai pada awal kerja sama, pemasaran Erina kini menjangkau lebih dari 700 gerai Indomaret di berbagai kota dan kabupaten di Provinsi Riau. Bagi konsumen, arti pertumbuhan ini terasa sederhana tetapi penting: karak kaliang, ganepo, dan opak jengkol semakin mudah ditemukan tanpa harus mencari penjual khusus atau datang ke daerah asalnya. Perluasan pasar juga menuntut kesiapan produksi. Erina mampu membuat karak kaliang hingga satu ton per hari, menyesuaikan kebutuhan pasar, dan melibatkan sekitar 10 hingga 50 karyawan bergantung pada jumlah permintaan. Namun, skala yang membesar bukan berarti tantangannya lenyap. Persaingan, ketersediaan bahan baku, dan cuaca tetap menjadi hal yang harus diperhitungkan untuk menjaga kelangsungan produksi dan kualitas. Angka 700 gerai adalah pencapaian distribusi, tetapi konsistensi produk tetap menjadi pekerjaan sehari-hari.
Tradisi tidak harus berjarak dari pasar modern
Kisah Erina menunjukkan bahwa ekspansi retail UMKM tidak harus dibayar dengan hilangnya identitas produk. Bahan dasar singkong dan karakter rasa khasnya tetap menjadi pembeda, sementara kemitraan ritel memperluas jalur agar konsumen dapat menemukannya






