Boikot BTS dan Stray Kids: Gejala Krisis, Bukan Drama Sesaat
Boikot Grammy Awards 2027 oleh BTS, Stray Kids, dan Drake adalah tindakan kolektif sejumlah bintang pop dan hip-hop yang memilih tidak mengirimkan karya mereka untuk dipertimbangkan, sebagai bentuk protes terhadap cara penghargaan internasional itu menilai, mengelompokkan, dan mengakui musik yang berpengaruh di pasar global. Keputusan ini bukan sekadar absen dari sebuah acara, melainkan pernyataan politik budaya: para musisi paling berpengaruh di dunia pop dan hip-hop mempertanyakan apakah Grammy masih layak menjadi tolok ukur legitimasi artistik. Dalam konteks K-Pop penghargaan internasional, langkah ini terasa lebih tajam karena terjadi tepat ketika kategori Best Asian Pop Music Performance diperkenalkan sebagai pintu resmi bagi musisi Asia Grammy untuk masuk ke panggung arus utama.
BTS, Stray Kids, dan Kategori Pop Asia: Pengakuan atau Pengkotakan?
BTS secara terbuka mengumumkan pada 29 Juli bahwa mereka tidak akan mengirimkan musik ke Grammy Awards 2027, sehingga album ARIRANG otomatis tidak dipertimbangkan. Stray Kids mengikuti langkah serupa; pada 2 Oktober, JYP Entertainment mengonfirmasi mereka tidak mengirimkan karya apa pun sebelum batas waktu 21 Agustus. Kedua grup ini memboikot tepat ketika kategori Best Asian Pop Music Performance—Penampilan Musik Pop Asia Terbaik—baru saja dimasukkan ke sistem penghargaan. BTS menegaskan keinginan agar musik dinilai berdasarkan kualitas, bukan dibagi menurut wilayah atau bahasa. Di sinilah inti konflik: bagi banyak artis K-Pop penghargaan internasional seharusnya menempatkan mereka di kategori umum, bukan memisahkan mereka dalam “kotak Asia” yang terasa seperti pinggiran arus utama. Penolakan dua grup K-Pop paling besar ini memicu pertanyaan tentang keterwakilan dan kredibilitas kategori baru tersebut.
Drake Ikut Memunggungi Grammy: Ketidakpuasan yang Meluas
Boikot ini bukan isu K-Pop semata. Menurut satu laporan, Drake tidak mengirimkan satu pun dari tiga proyeknya di 2026—Iceman, Habibti, dan Maid of Honour—untuk dipertimbangkan di Grammy Awards ke-69. Padahal, ketiga album itu secara bersamaan menduduki tiga posisi teratas Billboard 200 pada minggu pertama rilis, sebuah pencapaian yang belum pernah terjadi sejak tangga lagu itu diluncurkan pada Maret 1956. Album Iceman sendiri meraih 463.000 unit setara album di AS pada minggu pertama dan menjadi album nomor satu ke-15 Drake di Billboard 200. Fakta bahwa artis dengan capaian komersial sebesar ini memilih absen menunjukkan ketidakpuasan yang melampaui K-Pop. Drake berulang kali menyatakan bahwa pengakuan Grammy tidak lagi penting bagi artis yang menciptakan musik berpengaruh. Di tengah laporan bahwa pada 25 Oktober 2025 tidak ada satu pun lagu rap di 40 besar Hot 100 untuk pertama kalinya sejak 1990, boikot Drake terasa seperti kritik terhadap cara Grammy membaca perubahan lanskap musik global.
Grammy Bertahan dengan Kategori Pop Asia: Relevansi atau Resistensi?
Meski menghadapi boikot BTS dan Stray Kids, Recording Academy menegaskan bahwa Grammy Awards akan tetap berlangsung dengan kategori Penampilan Musik Pop Asia Terbaik sesuai rencana. Kategori ini diciptakan untuk menghormati artis di pasar musik arus utama Asia, membawa nama-nama dari K-Pop, J-Pop, C-Pop, dan lainnya ke daftar kandidat yang memenuhi syarat. Namun, kritik menyebut pengelompokan ini justru meminggirkan sebagian besar industri musik pop, seolah musik Asia berbeda dari arus utama internasional. Menariknya, dukungan untuk mempertahankan kategori ini disebut lebih besar daripada penolakan, setelah serangkaian diskusi dengan para pemimpin komunitas musik Asia. Pengaruh BTS begitu besar hingga Akademi sempat mempertimbangkan menghapus kategori tersebut dan mengadakan pertemuan dengan artis pop Asia serta pemimpin industri untuk membahas masalah ini. Namun pada akhirnya, mereka memilih bertahan—sebuah keputusan yang bisa dibaca sebagai upaya menjaga relevansi di mata musisi Asia Grammy, sekaligus bentuk resistensi terhadap tekanan simbolik dari boikot.
Musisi Asia Lain Masuk, Daya Tarik Grammy Dipertaruhkan
Absennya BTS dan Stray Kids tidak membuat kategori Best Asian Pop Music Performance kosong. Artis K-Pop, J-Pop, C-Pop, dan musik Asia lain tetap berpeluang dipertimbangkan selama karya yang diajukan memenuhi periode kelayakan dan ketentuan bahasa. Namun, memenuhi syarat tidak otomatis menjamin nominasi; musisi tetap harus mengajukan rekaman dan melewati proses seleksi. Di sinilah terlihat kontras: sebagian musisi Asia melihat Grammy sebagai panggung penting untuk memperluas pengakuan internasional, sementara yang lain memandangnya sebagai sistem yang terlambat memahami realitas global. Grammy Awards ke-69 dijadwalkan berlangsung pada 7 Februari 2027 dan menjadi momen perdana bagi kategori ini untuk memberi penghargaan pada karya pop Asia. Pertanyaannya: ketika nama-nama terbesar K-Pop memilih memboikot, apakah kemenangan di kategori baru ini akan terasa sebagai puncak prestasi, atau sekadar trofi dari institusi yang daya tarik dan relevansinya sedang dipertanyakan?






